Posts Tagged ‘Islam’

Universalitas “Islam”

December 4, 2008

Jam sudah menunjukkan waktu 14.15, lima belas menit sudah lewat dari batas waktu yang diberikan untuk menggelar table. Daerah sekeliling  Memorial Union sudah semakin sunyi, table-table kelompok yang lain sudah tidak terlihat di daerah fountain, sisa table-nya kelompok Ateis dengan tenda birunya yang masih berdiri. Tapi saya semakin penasaran, dimana Uthman, dimana Khalid, si Muhammad al Filistine juga belum datang. Waduh, saya tidak bisa mengemas semua perlengakapan ini sendiri, terutama tenda biru yang dibeli Khalid di Walmart ini yang biasa membutuhkan 4 orang untuk memasang dan mengemasnya.

Tidak jauh didepanku ada pula tiga orang, satu lelaki dan dua perempuan, tanpa table, hanya berdiri membagi-bagikan sesuatu…entah apa. Mereka jelas orang Jew, kelihatan dari topi kippah hitam yang dikenakan yang lelaki dan apa yang dia tanyakan kepada setiap wanita yang lewat, “Permisi, apakah kamu seorang Jew?” Kebanyaka – tentunya - akan menggelengkan kepala dan cepat berlalu; memang berapa banyak sih orang Jew di Amerika maupun tempat manapun. Hmm…entah apa yang mereka lakukan. Saya kembali menyibukkan diri membaca harian The New York Times dalam kepenasaranku menunggu seorang brother untuk datang membantuku berkemas.

Hi, how’s it going?” tanya salah satu perempuan Jew tadi itu. tiba-tiba ada di depan dawah table.

Hi, how are?” Jawabku.

“Jadi, kira-kira buku apa yang menjadi referensi yang bagus bagi pemula seperti saya untuk mengetahui tentang Islam?” Tanyanya.

Saya berdiri, sedikit mundur untuk berjaga jarak dan terlibat diskusi dengannya selama 15 menit berikutnya, saling bebagi informasi mengenai agama Islam dan agama Yahudi. Namanya Samantha, dia mengaku dahulunya beragama Kristen tapi selama satu setengah tahun terakhir sedang berusaha berpindah agama masuk ke agama Yahudi… Conversion into Judaisme - suatu topik yang dari dulu menimbulkan tanda tanya (curiosity) buatku. 

“Apakah kamu sadar kami umat Islam tidak menamakan agama kami Muhammadanism,” saya bertanya ditengah-tengah percakapan kami. “Justeru agama kita bernama Islam? Apakah kamu tahu apa arti the word “Islam”, by the way? Artinya penyerahanan diri (submission), suatu nama yang sangat universal karena agama ini memang untuk semua.” Ini adalah pendekatan yang menjadi favoritku dalam memperkenalkan agama yang Haq ini -  memulai dari “what’s in a name.”

Saya melanjutkan, “Coba bandingkan dengan nama agama lain: Hindu, Budha, Christian, dan agama yang kamu ingin masuki, agama Yahudi; semua terbatasi oleh faktor geografi, keturunan, dan waktu. Misalnya nama Hindu berasal dari lembah Hindustan di India; Judaisme adalah keturunan Judah; dan Christian dan Budha adalah para pengikut the the Christ dan Sidharta Gautama… yang berarti semua orang yang hidup sebelum “Tuhan Yesus” tidak mungkin menjadi seorang Christian dan begitu pula perbandingannya pada agama Budha.”

“Itulah kenapa kita ummat Islam menganggap semua para nabi – Noah, Abraham, Moses, Jesus, Muhammad (saw) – semua beragama Islam sebab mereka adalah benar-benar sumbitters to the one true God! Mereka semua adalah muslim = orang yang ber-Islam = orang yang berserah diri kepada Allah!” simpulku.

You see, bukankah ini semua lebih make sense?” tanyaku. ” Muhammad (saw) tidak memperkenalkan dan memulai agama Islam, dia (saw) me-rivive apa yang sebelumnya dilupakan dan ditinggalkan sekaligus menyempurnakannya. Agama Islam sudah ada sejak awal kemanusiaan - Nabi Adam (as) - dan penyerahan diri manusia kepada Allah (Islam) akan terus menjadi agama yang Haq – menurut kami – sampai the end of times!”

Dia sepertinya sangat tertarik dengan pengetahuan sangat dasar ini yang sebelumnya dia tidak tahu sama sekali. Hanya saja rabbi yang biasa menjaga jewish table dan dari tadi berdiri berbicara dengan seorang temannya dengan tertawa-tawa melihat kearah saya dan Samantah dari kejauhan tiba-tiba memanggilnya, “Samantha…Samantha!” 

Sepertinya rabbi itu tidak senang Samantha berada di dakwah table mendengarkan seorang “gentile” menjelaskan agamanya.

“Sepertinya teman kamu memanggilmu.”

“Oh, itu adalah jemputanku. nice talking to you, see you.”

“No problem, sampai jumpa.”

Paling tidak Samantha menitipkan emailnya padaku, saya masih bisa berkomunikasi dengannya tanpa rabbi itu mengganggu. Dalam percakapan kami, saya menawarkan mengirimkannnya beberapa buku pdf  Islam sesuai pertanyaan awalnya tadi….

Wallahu a’lam bissawab.

bersambung ke Penyerangan Mumbai…..

 

Perpindahan agama kedalam agama Yahudi dan Islam

December 4, 2008

bersambunga dari Penyerangan Mumbai….

Salah satu perbincangan singkat saya dengan James adalah mengenai mengenai perpindahan agama ke dalam agama Yahudi.

So, Samantha ingin menjadi seorang Jew?”

“Oh, kamu tadi berbicara dengan Sam? Yah, dia mau masuk agama Yahudi.” Dia melanjutkan, “Para rabbi itu (yang memanggil Samantha) betul-betul giving her a hard time?”

“Kenapa para rabbi itu harus mempersulit perpindahannya?”

James mulai menjelaskan, “Agama Yahudi itu tidak sama dengan Christian dan Islam yang sangat concern dengan meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya penganut Yahudi akan selalu menjadi minoritas pada diaspora mererka masing-masing. Nah, ketika ada seseorang yang ingin masuk agama Yahudi, dia akan diuji apakah benar-benar dia seorang Jew. Menurut kepercayaan, semua roh orang Yahudi, baik lampau maupun akan datang, telah hadir pada saat terjadinya perjanjian (covenant) di Gunung Sinai antara Tuhan dan bangsa Israel.”

“Jadi ujian yang diberikan kepada Samantha adalah untuk menguji apakah rohnya hadir pada saat perjanjian itu?”

“Yah kurang lebih seperti itu.”

“Apakah kamu juga memberikan Samantha ‘a hard time’ ?”

“Apa? saya?  Oh tidak, saya mencintai Samantha.”

“Tidakkah kamu ingin mengetahui apakah rohnya Samantha benar-benar ada di Mount Sinai pada waktu itu?” saya bertanya sedikit menyindir namun juga serius.

No…itu adalah tugasnya para rabbi.”

Penjelasan James berakhir disitu, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya mengenai conversion to Judaism bagi saya. Saya membandingkannya dengan proses masuk Islam seorang muallaf, begitu mudahnya, tanpa embel-embel, tanpa rintangan dan hambatan. Seseorang cukup mengucapkan shahadah ” ashadu an La ilah ha illa Allah, Muhammadan Rasulullah” dimana pun dan kapan pun dia inginkan. Sebenarnya tidak perlu di hadapan seorang imam apalagi restu seorang imam, atau dihadapan siapa pun. ini adalah urusannya dia dengan Allah. Sebenarnya orang yang menyatakan shahadah di hadapan orang sekedar sebagai bentuk pengumuman bahwa “hey, saya sekarang seorang muslim, oleh karena itu terimalah saya sebagai saudaramu, dan biarkanlah orang yang benci membencinya”; bukan untuk mendapat pengakuan atau persetujuan siapapun. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kata-kata prosesi “peng-islaman” atau “di-islam-kannya ” seseorang, sebagaimana seringnya disebut di negara kita, harus ditinggalkan jauh-jauh. Emangnya “pembaptisan”! Sepertinya kata ”ke-islaman” seseorang insyaAllah lebih tepat sebab ketika seseorang masuk Islam, orang itu sendiri yang menjadi “subyek”, dia yang in control; bukan “obyek”. Dia tidak “di-Islamkan” oleh siapa pun; dia “meng-Islamkan” dirinya sendiri dengan bimbingan dan hidayah oleh Allah SWT.

Yah, itulah keunikan Islam, yaitu iman adalah haq dasar (fitrah) sejak lahir dan ia adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi yaitu hubungan pribadi antara tiap-tiap individu dengan Penciptanya Allah SWT! Oleh karena itu yang menyaksikan, yang memberikan petunjuk, yang menetapkan, yang memaklumkan, yang mem-pass atau meng-approve  keimanan seseorang adalah yang menciptakan orang itu yaitu Allah SWT! Tidakkah itu sudah cukup?

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu….. (Al Anam: 19)

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”  (Al Isra : 96)

“Inna Allah ‘ala kulli shain shaheed” (sesungguhnya Allah maha menyaksikan segala sesuatu).

Suatu waktu, insyaAllah, saya harus memberi tahukan ini kepada Samantha, tentang keterbukaan dan kemudahan yang ditawarkan Islam. Saya tidak tahu seberapa keras “hard time” yang harus dia lalui untuk masuk agama Yahudi, tapi satu setengah tahun sepertinya waktu yang cukup lama untuk mendapatkan “pengakuan” ke-Yahudiannya. Dan kalau sampai dia atau siapapun yang ingin masuk Islam ingin diuji keimanannya, maka don’t worry, Allah SWT inysaAllah akan memberikan semua ujian yang kamu inginkan:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah: 214).

 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 29)

SubhanaAllah, Ya Allah kuatkan hati kami dalam menghadapi cobaan yang engkau berikan kepada kami…

Wallahu a’lam bissawab….

You are a looser living in a nonbeliever society, unless….

October 3, 2008

Ayman menelponku dari kamar gawat darurat, “Ali, saya akan sedikit lebih lama karena dokter belum datang. Bisakah kamu menungguku sedikit lebih lama.”

“Ok, Ayman, no problem, inysa Allah.”

Let’s just wait for Ayman in the car,” usulku kepada Omar. “He said he needs more time.”

Ayman, lelaki setengah baya, adalah brother dari Jordan dan sekaligus my roommate yang menempati ruang tamu di apartement Del Sol nomor 8. Malam ini, dia sakit gigi sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Untungnya – Alhamdulillah – ada Omar, brother dari Somalia yang telah menjadi US citizen, punya mobil, cukup established dan selalu menawarkan bantuannya kepada seorang ‘musafir’ seperti saya. Malam ini, tawarannya akhirnya dapat disambut dan bermanfaat dengan mengantar Ayman ke Rumah Sakit Chandler.

Saya dan Omar akhirnya memilih menunggu di mobilnya yang terparkir di parking lot, sebenarnya  sekaligus untuk suatu tujuan: melanjutkan mendengarkan CD ceramah kumpulannya Omar dari syekh yang dia kagumi, Syekh Sayyid Muhammad Ya’qubi. Belum pernah ada brother yang saya temui yang lebih banyak mengucapkan “Subhana Allah” daripada Omar. Alhamdulillah berada bersama Omar insya Allah ingat Allah terus. Dan Omar dan saya punya satu hal in common, yaitu mendengarkan Islamic Lectures. Omar senang sekali membagi-bagikan CD ceramah dari Syekh Ya’qubi ini kepada brother muslims di Masjid. Subhana Allah, begitu bermanfaatnya mendengarkan ceramah keagamaan sambil mengisi waktu daripada mendengarkan lagu-lagu Bon Jovi misalnya - naudzu billah.

Syekh Muhammad Ya’qubi adalah pembicara yang sangat fasih dan eloquent dan sangat menarik untuk didengar. Dia adalah seorang Syekh dari Syria dan sekarang berdomisili di London dimana dia melakukan kegiatan dakwahnya. Kali ini ceramahnya adalah tentang pentingnya dakwah, dan karena ceramahnya ada pada konteks masyarakat Inggris, dia menyampaikan satu pesan penting dengan mengatakan: “You are a looser living in a nonbeliever society….unless you do the dakwah”

Dasar dari argumentasinya ini memang adalah ijma atau concensus para ulama, yang didukung dengan berbagai ayat dan hadiths dan sejarah kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Dia mengatakan hidup kita ini memang semata-mata un untuk hidup secara syari beribadah kepada Allah Azza wa Jal, menjalankan syariah (cara hidup islam) sehingga harus selalu mencari tempat yang dapat mendukung kehidupan syari’ itu. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) dan para sahabatnya, hijrah ke Madinah walaupun harus meninggalkan dan mengorbankan segala harta, rumah, dan kekerabatan di Makkah pada waktu itu, untuk satu tujuan, membangun masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam. Zaman sekarang, justeru kebalikan: masyarakat Muslim dari negara berpenduduk mayoritas Muslim datang ke Western World, meninggalkan suara adzan dari banyaknya masjid yang tersedia di tanah air, sekedar untuk mengejar satu hal - dolar! Subhana Allah!

Pesan Ya’qubi ini sama dengan pesannya Bilal Philips pada suatu topik ceramah yang sama (Dakwah in the West) yang mengatakan, “Your dakwah justifies your staying in a predominantly nonbeliever society.”

Wallahu a’lam bissawab….

Ya Allah, please make us among those who are not  the loosers. Amin…

“What if you could focus on the things that really matter?”

September 19, 2008

Begitu selesai salam, imam yang tadinya khatib Jumat, mulai mengambil mic. “Brothers and sisters, we will start with 10,000 dollars.  Who can give me 10,000 dollars? Jannah is waiting for you. Invest your money with Allah. Whose promise is better than Allah? Don’t let syaitan remind you of poverty! Syaitan is your enemy. Do you want to listen to your enemy? 10.000 dollars…?

Tiba-tiba salah satu jamaah dari shaf ketiga mengangkat tangan. Imam menyahut, “Takbir,” yang disambut oleh jamaah lain serempak mengucapkan “Allahu Akbar,” dengan lembut, jangan salah, tidak dengan gaya “Allahu Akbar”-nya Amrozi di pengadilan. “JazakaAllah khairan akhi. Anybody else, 10.000 dollars…? This mosque will be seen from the 101 highway. Brothers…?

Ok, 5.000 dollars. Sisters at the back, why are you so quiet? We know your hiding something,” Imam berusaha menyelingi dengan canda, tetapi kemudian serius lagi dengan mengucapkan ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan menafkahkan hart, “…and those who spend their wealth in the cause of Allah…

Begitulah cara ‘pelelangan amal’ jumat lalu di Masjid Tempe yang sangat gencar karena kegiatan dawa di Tempe, Arizona, yang memang harus di danai oleh jammaah sendiri. Angkanya biasa mulai dari 10.000 dolars atau bahkan 20.000 kemudian turun 5.000, 2.500, 1.000, sampai 100 dolars. Minggu sebelumnya, ada penawaran pembelian tiket 25 dollar untuk seminar James Yee, pengarang For God And Country: Faith and Patriotism Under Fire sekaligus fund raising, dan jumat ini ada penawaran serupa dari Islamic Relief untuk mensponsori anak-anak yatim di Afganistan dan Irak. Satu anak 50 dollar per bulan untuk satu tahun.

img_4493

What if you could focus on the thing that really matter? adalah slogan iklan suatu produk yang caught my attention di troli bag ketika transit di Changi airport en route ke San Fransico. Yah… benar, walaupun slogan iklan tersebut maksudnya lain oleh yang mengiklankannya yakni untuk mempromosikan produk dagangannya, namun kalau kita benar-benar memikirkannya, sangat sahih begitu banyak waktu, tenaga, dan dana kita sia-siakan untuk hal yang tidak penting seperti junk burger, junk soda, junk music, junk TV shows, junk clothes…

Hari ini, teman saya, Burhan memiliki cara sendiri perihal slogan tersebut. Burhan adalah brother masjid yang berasal dari Dammam, Saudi, mengambil Master degree-nya dibidang elektronika, di ASU. Tiap hari say bertemu dengannya di Masjid ketika shalat.  Dia biasa datang ke masjid mengendarai mountain bike-nya, atau datang naik bus Orbit, atau dua-duanya (sepeda disini bisa dinaikkan ke atas bus).

Suatu malam, selesai tarawiyah, sekitar jam 10.30 pm, dalam perjalananku dari masjid ke apartemen naik sepeda, saya melihat Burhan berjalan bersama istrinya sambil menggendong anaknya. Dia juga pulang dari masjid. Rumahnya berjarak sekitar 3 km dari masjid. Rupanya dia tidak dapat bus karena bus Orbit hanya sampai jam 10.00 malam. Memang malam itu, pada shalat witir, doa qunut-nya panjang sekali sehingga jamaah pulang sedikit telat.

Saya bertanya pada diri sendiri, “Why doesn’t Burhan just get a car?” Di Tempe semua orang punya mobil, apalagi kalau ada istri dan anak. Harga mobil tidak seberapa. Memang mobil disini sekedar alat transportasi dan bukan identitas status. Pak Michael tetangga saya yang juga mahasiswa asal Indonesia membeli mobil di tempat pelelangan seharga 500. Apalagi Burhan sering membawa istri dan anaknya ke Masjid, mobil bisa lebih santai buatnya ke masjid. Hidup di Tempe, Arizona bersama anak dan istri dengan panas bisa mencapai 45 derajat Celsius pada musim summer bisa sangat repot tanpa mobil.

Apakah Burhan tidak memiliki dana untuk membeli mobil? Tentu tidak, dia di biayai oleh pemerintah petro dolar Saudi untuk pendidikannya disini. Mungkin Burhan tidak tahu menyetir? Atau dia lebih memilih hidup environmentally friendly dan sustainable dengan tidak menambah polusi karbon? Tetapi hari ini dan minggu lalu dia selalu angkat tangan menanggapi tawaran imam. Minggu lalu dia ‘membeli pelelangan’ seharga 1000 dolar untuk pembangunan masjid baru di Phoenix dan hari ini dia juga angkat tangan untuk mensoponsori anak-anak yatim Afganistan dan Irak – hanya Allah yang tahu berapa anak yatim yang dia sponsori. Apapun alasannya kenapa Burhan tidak membeli mobil (yang menjadi pertanyaan tersendiri buatku) buat kesehariannya di Tempe, tapi insya Allah, Burhan telah focusing on the really important issues yaitu Jannatun tajeri min tahtihal anhar (Surga yang di bawahnya mengalir Sungai).

Wallahu a’lam bissawab.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.