Jam sudah menunjukkan waktu 14.15, lima belas menit sudah lewat dari batas waktu yang diberikan untuk menggelar table. Daerah sekeliling Memorial Union sudah semakin sunyi, table-table kelompok yang lain sudah tidak terlihat di daerah fountain, sisa table-nya kelompok Ateis dengan tenda birunya yang masih berdiri. Tapi saya semakin penasaran, dimana Uthman, dimana Khalid, si Muhammad al Filistine juga belum datang. Waduh, saya tidak bisa mengemas semua perlengakapan ini sendiri, terutama tenda biru yang dibeli Khalid di Walmart ini yang biasa membutuhkan 4 orang untuk memasang dan mengemasnya.
Tidak jauh didepanku ada pula tiga orang, satu lelaki dan dua perempuan, tanpa table, hanya berdiri membagi-bagikan sesuatu…entah apa. Mereka jelas orang Jew, kelihatan dari topi kippah hitam yang dikenakan yang lelaki dan apa yang dia tanyakan kepada setiap wanita yang lewat, “Permisi, apakah kamu seorang Jew?” Kebanyaka – tentunya - akan menggelengkan kepala dan cepat berlalu; memang berapa banyak sih orang Jew di Amerika maupun tempat manapun. Hmm…entah apa yang mereka lakukan. Saya kembali menyibukkan diri membaca harian The New York Times dalam kepenasaranku menunggu seorang brother untuk datang membantuku berkemas.
“Hi, how’s it going?” tanya salah satu perempuan Jew tadi itu. tiba-tiba ada di depan dawah table.
“Hi, how are?” Jawabku.
“Jadi, kira-kira buku apa yang menjadi referensi yang bagus bagi pemula seperti saya untuk mengetahui tentang Islam?” Tanyanya.
Saya berdiri, sedikit mundur untuk berjaga jarak dan terlibat diskusi dengannya selama 15 menit berikutnya, saling bebagi informasi mengenai agama Islam dan agama Yahudi. Namanya Samantha, dia mengaku dahulunya beragama Kristen tapi selama satu setengah tahun terakhir sedang berusaha berpindah agama masuk ke agama Yahudi… Conversion into Judaisme - suatu topik yang dari dulu menimbulkan tanda tanya (curiosity) buatku.
“Apakah kamu sadar kami umat Islam tidak menamakan agama kami Muhammadanism,” saya bertanya ditengah-tengah percakapan kami. “Justeru agama kita bernama Islam? Apakah kamu tahu apa arti the word “Islam”, by the way? Artinya penyerahanan diri (submission), suatu nama yang sangat universal karena agama ini memang untuk semua.” Ini adalah pendekatan yang menjadi favoritku dalam memperkenalkan agama yang Haq ini - memulai dari “what’s in a name.”
Saya melanjutkan, “Coba bandingkan dengan nama agama lain: Hindu, Budha, Christian, dan agama yang kamu ingin masuki, agama Yahudi; semua terbatasi oleh faktor geografi, keturunan, dan waktu. Misalnya nama Hindu berasal dari lembah Hindustan di India; Judaisme adalah keturunan Judah; dan Christian dan Budha adalah para pengikut the the Christ dan Sidharta Gautama… yang berarti semua orang yang hidup sebelum “Tuhan Yesus” tidak mungkin menjadi seorang Christian dan begitu pula perbandingannya pada agama Budha.”
“Itulah kenapa kita ummat Islam menganggap semua para nabi – Noah, Abraham, Moses, Jesus, Muhammad (saw) – semua beragama Islam sebab mereka adalah benar-benar sumbitters to the one true God! Mereka semua adalah muslim = orang yang ber-Islam = orang yang berserah diri kepada Allah!” simpulku.
“You see, bukankah ini semua lebih make sense?” tanyaku. ” Muhammad (saw) tidak memperkenalkan dan memulai agama Islam, dia (saw) me-rivive apa yang sebelumnya dilupakan dan ditinggalkan sekaligus menyempurnakannya. Agama Islam sudah ada sejak awal kemanusiaan - Nabi Adam (as) - dan penyerahan diri manusia kepada Allah (Islam) akan terus menjadi agama yang Haq – menurut kami – sampai the end of times!”
Dia sepertinya sangat tertarik dengan pengetahuan sangat dasar ini yang sebelumnya dia tidak tahu sama sekali. Hanya saja rabbi yang biasa menjaga jewish table dan dari tadi berdiri berbicara dengan seorang temannya dengan tertawa-tawa melihat kearah saya dan Samantah dari kejauhan tiba-tiba memanggilnya, “Samantha…Samantha!”
Sepertinya rabbi itu tidak senang Samantha berada di dakwah table mendengarkan seorang “gentile” menjelaskan agamanya.
“Sepertinya teman kamu memanggilmu.”
“Oh, itu adalah jemputanku. nice talking to you, see you.”
“No problem, sampai jumpa.”
Paling tidak Samantha menitipkan emailnya padaku, saya masih bisa berkomunikasi dengannya tanpa rabbi itu mengganggu. Dalam percakapan kami, saya menawarkan mengirimkannnya beberapa buku pdf Islam sesuai pertanyaan awalnya tadi….
Wallahu a’lam bissawab.
bersambung ke Penyerangan Mumbai…..
