Posts Tagged ‘islam amerika’

Encounter seorang muslim Indonesia dengan 9/11 Truth Movement of Arizona

September 21, 2008

Tanggal 20 hari Sabtu kemarin saya menghadiri pemutaran film dan diskusi di Murdock Hall, ASU mengenai peristiwa 9/11 dalam rangka memperingati 7 tahun kejadian yang sangat menggemparkan Amerika – dan dunia. Diskusi ini ternyata diadakan oleh 9/11 Truth Movement, suatu kelompok dan gerakan yang menentang teori arus utama mengenai penyebab dan detail kejadian penyerangan WTC yang di teribitkan oleh The 9/11 Commission Report.  Sangat menarik bukti-bukti scientifik yang mereka paparkan untuk mendukung claim mereka. Film-film yang diputar adalah: “September 11 Revisited,” “Pretext,” dan sebuah film lecture “The Destruction of the WTC.” Inti dari teori atau pendaat mereka (911 Truth Movement) adalah bahwa 9/11 adalah pekerjaan ‘orang dalam’ dan bahwa Osama bin Laden sama sekali tidak terlibat. 9/11 Truth Movement di Arizona ini bahkan menawarkan 10,000 dollar prize money melalui iklan satu halaman penuh di koran lokal bagi yang bersedia menyimak bukti-bukti mereka sekaligus menentangnya ( www.911wehavetheevidence.com ).

Namun yang menarik dari diskusi tersebut, adalah diskusi itu menjadi semacam observasi sosial bagi saya. Di akhir diskusi itu, tanya jawab dan komentar menjadi ‘ajang curhat’ di antara mereka. “My co-workers at my office hates me for believing in ‘the conspiracy theory’,” kata satu. “My wife thinks I’ve gone crazy,” “They think we are traitors,“After years of denial, I had to wake up.” “I feel I want to shut my eyes to the videos, but if it’s the truth…”  Itulah sebagian curahan hati mereka, salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat yang membentuk the American society; dalam hal ini mereka mewakili kelompok marginal. Namun walau mereka menjadi orang-orang yang termarginalkan, mereka masih punya semangat untuk menginformasikan public Amerika terutama kawan-kawan terdekat mereka: “Do you have any more of these brochures, I’d like to show them to my friends at work?” 

Sebagai orang awam dan orang yang baru saja mendarat di Amerika dan  melihat dan mendengar langsung suka duka mereka, saya sangat tercengang dengan semua informasi yang baru ini terutama mengenai pendapat mereka tentang ketidakterlibatan Osama bin Laden. Ketika sesi tanya jawab, saya sempatkan untuk mempertanyakan masalah ini: “Saya adalah seorang Muslim dari Indonesia, dan selama ini, kami  telah terbebani dan banyak mengalami diskriminasi untuk menjelaskan bahwa Islam bukan agama teroris. Saya sangat menghargai bahwa anda mengatakan bahwa Osama tidak terlibat, tetapi apakah memang benar-benar dia tidak terlibat? Bagaimana dengan rekaman pengakuan Osama dan keterlibatannya pada serangan WTC tahun 1993?”

Mike, pembicara utama dan host pada waktu itu, menjelaskan bahwa informasi ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, justeru sangat lazim kalau dilihat dari sejarah imperialism Amerika Serikat. Ia mengatakan Amerika mempunyai banyak ”Pretext” (Pretext adalah  strategi untuk menyembunyikan tujuan atau niat sebenarnya). Mike mengatakan bahwa Pearl Harbor adalah salah satu pretext untuk melakukan pengeboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Ia mengatakan bahwa FDR (Franklin Delano RooseveltPresiden Amerika Serikat pada waktu kejadian Pearl Harbor) sebenarnya tahu kedatangan Jepang pada serangan tersebut, tetapi membiarkan – agar nantinya menjadi sebuah pretext. Untuk masalah ini, David Griffen telah menulis buku berjudul: 911 the next Pearl Harbor.

Kemudian Mike memintaku untuk meng-google ”Fatty bin Laden” atau me-youtube-nya. Fatty bin Laden adalah pelesetan nama Osama karena dalam rekaman ‘pengakuannya’, ‘dia’ terlihat sedikit fatty (gemuk) dari biasanya (baca: dari sebenarnya). Menurut pengamatan saya, setelah melihat langsung dari youtube Fatty bin Laden ini, memang sangat jelas bahwa itu bukanlah Osama bin Laden yang asli. Mike mengatakan bahwa dalam pengadilan mana pun di Amerika dan dalam kasus apapun, rekaman sekabur rekaman tersebut tidak akan pernah cukup menjadi alat bukti utama keterlibatan seorang suspect kejahatan, anehnya rekaman ini justeru telah dijadikan bukti utama keterlibatan Osama bin Laden.

Pertemuan ini memberikan kesan tersendiri. Bahwa saya dari Indonesia dan mereka warga negara Amerika, bisa sama-sama memiliki keprihatinan terhadap permasalahan ini, walau dari perspektif yang berbeda. Indonesia menjadi negara yang sangat merasakan dampak 9/11 terutama permasalahan sentimen keagamaan dan masalah keamanan. Travel warning, kesusahan aplikasi visa dan tuduhan teroris adalah apa yang kami alami. Concern mereka sebaliknya hanyalah demi kebenaran.

Pada akhir film ketiga: “The destruction of the WTC,lecture yang dibawakan oleh Dr. David Ray Griffen, seorang theolog, filosof dan salah satu aktivis 9/11 yang paling terkemuka di Amerika Serikat, kalimat-kalimat penutupnya memperlihatkan landasan dan semangatnya yang didorong oleh semangat keagamaannya. Beliau mengingatkan warga Kristen Amerika bahwa ajaran dasar Yesus (Nabi Isa alaihi salam) adalah anti imperialisme…..

Wal Allahu a’lam bissawab….

Sahabat yang terbaik

September 17, 2008

Berpuasa di tengah-tengah orang Amerika bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang asing di negeri orang asing. Dan salah satu kesedihan itu adalah karena 2 mata kuliahku yang mulai sore sampai malam, pas bertepatan dengan buka dan shalat maghrib sehingga saya tidak bisa iftar dan berjamaah maghrib dengan brothers and sisters di Tempe Mosque sebagaimana tiap hari saya programkan.

Suatu siang di puasa kedua bulan Ramadhan 2008, Natalia, teman kelasku dari Indonesia yang tidak berpuasa karena dia seorang kristen berkata, “Bar, sepertinya kamu satu-satunya orang yang puasa di kelas.”

“Mungkin juga tidak,” jawabku. “Pertemuan minggu lalu ketika perkenalan, kalau ngak salah, ada orang Afrika namanya Abdullah. Tau ngak, itulah nama yang Islam banget, bukan Muhammad, Ali, atau Akbar, karena itu artinya Abdi Allah – Hamba Allah.”

“Yah, itu cuma nama doang, bisa jadi dia ngak practicing.”

Sore harinya, Abdullah membuktikan siapa dirinya sebenarnya. Ketika tiba waktu buka, dia keluar ruangan dengan membawa suatu bungkusan dan minuman, pas ketika saya membuka kaleng sodaku untuk berbuka. “Ah, dia juga berbuka tapi diluar ruang kelas, kalau saya disini aja.” Makan dan minum dalam kelas memang is no problem, bahkan pake sendal dan angkat kaki di kursi tidak apa-apa.

5 menit kemudian ketika kelas jeda selama 10 menit sebelum melanjutkan sesi kedua, Abdullah menghampiriku. “Hey, have you break the fast?”

“Yeah, I had my soda here in the class.”

“Yeah, I did too. I found a place to pray. It’s in the other class. The class is empty, so if you got a sheet of paper, you can use that for your sujud.”

“That’s great, lets do Maghrib together.”

“No, I’ve prayed already but I’ll show you the room.”

Subhan Allah. Pantas saja Abdullah keluar kelas. Dia tidak hanya berbuka, tapi juga shalat maghrib. Saya yang tadinya memutuskan untuk menjama’ shalat saya di waktu Isha setelah kuliah, akhirnya shalat di ruangan kelas sebelah itu dengan beralaskan kertas kosong, tempat Abdullah shalat sebelumnya.

Adalah teman-teman seberti Abdullah yang kita butuhkan, selalu mengingatkan dalam Dien, ketika kita mulai melemah. Saya tidak terlalu kenal Abdullah, tapi sekarang saya bisa katakan dengan mantap bahwa dia adalah hakikat teman yang terbaik!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.