Tanggal 20 hari Sabtu kemarin saya menghadiri pemutaran film dan diskusi di Murdock Hall, ASU mengenai peristiwa 9/11 dalam rangka memperingati 7 tahun kejadian yang sangat menggemparkan Amerika – dan dunia. Diskusi ini ternyata diadakan oleh 9/11 Truth Movement, suatu kelompok dan gerakan yang menentang teori arus utama mengenai penyebab dan detail kejadian penyerangan WTC yang di teribitkan oleh The 9/11 Commission Report. Sangat menarik bukti-bukti scientifik yang mereka paparkan untuk mendukung claim mereka. Film-film yang diputar adalah: “September 11 Revisited,” “Pretext,” dan sebuah film lecture “The Destruction of the WTC.” Inti dari teori atau pendaat mereka (911 Truth Movement) adalah bahwa 9/11 adalah pekerjaan ‘orang dalam’ dan bahwa Osama bin Laden sama sekali tidak terlibat. 9/11 Truth Movement di Arizona ini bahkan menawarkan 10,000 dollar prize money melalui iklan satu halaman penuh di koran lokal bagi yang bersedia menyimak bukti-bukti mereka sekaligus menentangnya ( www.911wehavetheevidence.com ).
Namun yang menarik dari diskusi tersebut, adalah diskusi itu menjadi semacam observasi sosial bagi saya. Di akhir diskusi itu, tanya jawab dan komentar menjadi ‘ajang curhat’ di antara mereka. “My co-workers at my office hates me for believing in ‘the conspiracy theory’,” kata satu. “My wife thinks I’ve gone crazy,” “They think we are traitors,” “After years of denial, I had to wake up.” “I feel I want to shut my eyes to the videos, but if it’s the truth…” Itulah sebagian curahan hati mereka, salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat yang membentuk the American society; dalam hal ini mereka mewakili kelompok marginal. Namun walau mereka menjadi orang-orang yang termarginalkan, mereka masih punya semangat untuk menginformasikan public Amerika terutama kawan-kawan terdekat mereka: “Do you have any more of these brochures, I’d like to show them to my friends at work?”
Sebagai orang awam dan orang yang baru saja mendarat di Amerika dan melihat dan mendengar langsung suka duka mereka, saya sangat tercengang dengan semua informasi yang baru ini terutama mengenai pendapat mereka tentang ketidakterlibatan Osama bin Laden. Ketika sesi tanya jawab, saya sempatkan untuk mempertanyakan masalah ini: “Saya adalah seorang Muslim dari Indonesia, dan selama ini, kami telah terbebani dan banyak mengalami diskriminasi untuk menjelaskan bahwa Islam bukan agama teroris. Saya sangat menghargai bahwa anda mengatakan bahwa Osama tidak terlibat, tetapi apakah memang benar-benar dia tidak terlibat? Bagaimana dengan rekaman pengakuan Osama dan keterlibatannya pada serangan WTC tahun 1993?”
Mike, pembicara utama dan host pada waktu itu, menjelaskan bahwa informasi ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, justeru sangat lazim kalau dilihat dari sejarah imperialism Amerika Serikat. Ia mengatakan Amerika mempunyai banyak ”Pretext” (Pretext adalah strategi untuk menyembunyikan tujuan atau niat sebenarnya). Mike mengatakan bahwa Pearl Harbor adalah salah satu pretext untuk melakukan pengeboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Ia mengatakan bahwa FDR (Franklin Delano Roosevelt, Presiden Amerika Serikat pada waktu kejadian Pearl Harbor) sebenarnya tahu kedatangan Jepang pada serangan tersebut, tetapi membiarkan – agar nantinya menjadi sebuah pretext. Untuk masalah ini, David Griffen telah menulis buku berjudul: 911 the next Pearl Harbor.
Kemudian Mike memintaku untuk meng-google ”Fatty bin Laden” atau me-youtube-nya. Fatty bin Laden adalah pelesetan nama Osama karena dalam rekaman ‘pengakuannya’, ‘dia’ terlihat sedikit fatty (gemuk) dari biasanya (baca: dari sebenarnya). Menurut pengamatan saya, setelah melihat langsung dari youtube Fatty bin Laden ini, memang sangat jelas bahwa itu bukanlah Osama bin Laden yang asli. Mike mengatakan bahwa dalam pengadilan mana pun di Amerika dan dalam kasus apapun, rekaman sekabur rekaman tersebut tidak akan pernah cukup menjadi alat bukti utama keterlibatan seorang suspect kejahatan, anehnya rekaman ini justeru telah dijadikan bukti utama keterlibatan Osama bin Laden.
Pertemuan ini memberikan kesan tersendiri. Bahwa saya dari Indonesia dan mereka warga negara Amerika, bisa sama-sama memiliki keprihatinan terhadap permasalahan ini, walau dari perspektif yang berbeda. Indonesia menjadi negara yang sangat merasakan dampak 9/11 terutama permasalahan sentimen keagamaan dan masalah keamanan. Travel warning, kesusahan aplikasi visa dan tuduhan teroris adalah apa yang kami alami. Concern mereka sebaliknya hanyalah demi kebenaran.
Pada akhir film ketiga: “The destruction of the WTC,” lecture yang dibawakan oleh Dr. David Ray Griffen, seorang theolog, filosof dan salah satu aktivis 9/11 yang paling terkemuka di Amerika Serikat, kalimat-kalimat penutupnya memperlihatkan landasan dan semangatnya yang didorong oleh semangat keagamaannya. Beliau mengingatkan warga Kristen Amerika bahwa ajaran dasar Yesus (Nabi Isa alaihi salam) adalah anti imperialisme…..
Wal Allahu a’lam bissawab….