Pernahkah kita tersinggung terhadap suatu sindiran yang dilancarkan seseorang terhadap diri kita? Mungkin kita tersinggung karena kita tidak layak disinggung seperti itu, diperlakukan seperti itu…? Mungkin orang yang menyinggung diri kita itu tidak sadar apa yang ia lakukan; tidak sadar betapa tingginya derajat, ilmu, dan pengetahuan yang kita miliki…? Sepertinya orang itu perlu diajar apa yang dia ucapkan, “Tidak sadar dia, heh..?”
Ataukah mungkin kita perlu sekali-kali tersinggung…? Siapa tahu itu adalah sehat. Mungkin sindiran itu mengandung kebenaran dan akan membuat kita sadar kembali ke jalan yang benar yang mana sebelumnya kita tinggalkan…? Kata-kata seorang ustads yang sering membawakan ceramah keagamaan di Kota Makassar – ustads Irawan, kalau tidak salah namanya – sambil sedikit bercanda: “…Ini saya tidak bermaksud menyindir, tapi kalau tersinggung…Alhamdulillah.”
Bagaimanakah seandainya kalau yang menyindir itu adalah Yang paling mengetahui keadaan kita, Yang memiliki kita, Yang menciptakan kita, Yang kepada-Nya kita menghambakan diri…? Allah Azza wa Jal telah menyindir kita:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan. (Al Qiyamah 36-37)
“Dalam”, “Dalem banget…!”
Bayangkan kita katakan kepada Mr. Donald Trump, “Bukankah kamu dulu yang datang kepadaku ingin meminjam satu quarter agar supaya kamu bisa membeli makan pagi?” Atau kepada Mr. Bill Gates, “Bukankah kamu dulu yang pernah datang kepadaku ingin belajar kali-kalian?”
SubhanaAllah…! This is Allah Azza wa Jal speaking to us…! Pantaslah kita tersinggung…! Lalu pertanyaan berupa sindirian apa lagi yang bisa lebih “dalam” daripada ini, yang bisa lebih merendahkan seperti ini…? Subhana Allah…alasan apa lagi kalau bukan untuk menyindir ketika Allah Azza wa Jal yang Maha Mengetahui segala sesuatu bertanya seperti ini…? Apakah arti setetes mani…!? “How low can you go?“ We are completely nothing, nothing, nothing – nothingness…!
Allah melanjutkan sindiran ini pada surah berikutnya, Al Insan, persis pada ayat pertama:
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Al Insan: 1)
Sekali persis, nothingness…! We never even existed…!
Dan sindiran terakhir adalah sindiran berupa kalimat pernyataan, bukan pertanyaan; namun kali ini tanpa menyebut obyek asal usul manusia (air mani), melainkan sindiran bahwa kita sebenarnya sangat sadar akan kelemahan ini:
Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ”ketahui” (Al Maarij: 38-39).
Subhan Allah, Astagfirullah…Ya Allah kami telah mendzalimi diri kita masing-masing, maka jadikanlah kami terus tersinggung pada sindiranmu ini…
Wa Allahu a’lam bissawab…