Posts Tagged ‘Al Quran’

Al Quran 4: Dalam…Sindiran Yang Sangat Dalam

December 28, 2008

Pernahkah kita tersinggung terhadap suatu sindiran yang dilancarkan seseorang terhadap diri kita? Mungkin kita tersinggung karena kita tidak layak disinggung seperti itu, diperlakukan seperti itu…? Mungkin orang yang menyinggung diri kita itu tidak sadar apa yang ia lakukan; tidak sadar betapa tingginya derajat, ilmu, dan pengetahuan yang kita miliki…? Sepertinya orang itu perlu diajar apa yang dia ucapkan, “Tidak sadar dia, heh..?” 

Ataukah mungkin kita perlu sekali-kali tersinggung…? Siapa tahu itu adalah sehat. Mungkin sindiran itu mengandung kebenaran dan akan membuat kita sadar kembali ke jalan yang benar yang mana sebelumnya kita tinggalkan…? Kata-kata seorang ustads yang sering membawakan ceramah keagamaan di Kota Makassar – ustads Irawan, kalau tidak salah namanya – sambil sedikit bercanda: “…Ini saya tidak bermaksud menyindir, tapi kalau tersinggung…Alhamdulillah.”

Bagaimanakah seandainya kalau yang menyindir itu adalah Yang paling mengetahui keadaan kita, Yang memiliki kita, Yang menciptakan kita, Yang kepada-Nya kita menghambakan diri…?  Allah Azza wa Jal telah menyindir kita:

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan. (Al Qiyamah 36-37)

“Dalam”, “Dalem banget…!”

Bayangkan kita katakan kepada Mr. Donald Trump, “Bukankah kamu dulu yang datang kepadaku ingin meminjam satu quarter agar supaya kamu bisa membeli makan pagi?” Atau kepada Mr. Bill Gates, “Bukankah kamu dulu yang pernah datang kepadaku ingin belajar kali-kalian?”

SubhanaAllah…! This is Allah Azza wa Jal speaking to us…! Pantaslah kita tersinggung…! Lalu pertanyaan berupa sindirian apa lagi yang bisa lebih “dalam” daripada ini, yang bisa lebih merendahkan seperti ini…? Subhana Allah…alasan apa lagi kalau bukan untuk menyindir ketika Allah Azza wa Jal yang Maha Mengetahui segala sesuatu bertanya seperti ini…? Apakah arti setetes mani…!? “How low can you go?“ We are completely nothing, nothing, nothing – nothingness…!

Allah melanjutkan sindiran ini pada surah berikutnya, Al Insan, persis pada ayat pertama:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Al Insan: 1)

Sekali persis, nothingness…! We never even existed…!

Dan sindiran terakhir adalah sindiran berupa kalimat pernyataan, bukan pertanyaan; namun kali ini tanpa menyebut obyek asal usul manusia (air mani), melainkan sindiran bahwa kita sebenarnya sangat sadar akan kelemahan ini:

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ”ketahui” (Al Maarij: 38-39).

Subhan Allah, Astagfirullah…Ya Allah kami telah mendzalimi diri kita masing-masing, maka jadikanlah kami terus tersinggung pada sindiranmu ini…

Wa Allahu a’lam bissawab…

Al Quran Bagian I: Siapa Yang Mau Permen?

April 24, 2008

Bayangkan kita kembali menjadi kanak-kanak, kemudian tiba-tiba ada yang berteriak, “Adik-adik, kakak punya segudang permen nih yang cukup untuk semua, sangat mudah untuk adik-adik dapatkan, ayo, siapa yang mau, buruan!?”

Tentu kita akan menjadi anak-anak yang paling bahagia dan spontan akan saling berlomba untuk mendapatkan permen itu – betul?

Cara ini persis apa yang digunakan oleh Allah SWT didalam Al Quran yaitu pada surah Al Qamar. Bahkan didalam surah ini ayat tersebut diulang sebanyak 4 kali; menunjukkan betapa Allah berkendak memancing semangat ‘kanak-kanak’ kita:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qamar: 17, 22, 32,40)

Tidakkah begitu aneh betapa seringnya kita berpindah dari satu buku best-seller kepada buku best-seller yang lain agar terkesan sebagai seorang intelek, namun Al Quran sangat jarang kita baca kecuali kalau pada saat ada acara kematian!

Tidakkah kita sadar bahwa Al Quran akan menjadi pemberi syafaat pada suatu hari yang sangat dahsyat dimana tiap-tiap diri membutuhkan syafaat itu?

“Apakah kamu sering membaca Al Quran?” tanya seseorang kepada sahabatnya.
“Terus terang,” jawab sahabatnya dengan malu-malu, ”saya bukan ‘anak-alim’.”

Bahkan kalaupun kita bukan ‘anak-alim’, Al Quran tetap saja bisa kita baca sebagai sumber yang penuh dengan informasi. Apakah anda harus menjadi ‘anak-sastra’ untuk menikmati bait-bait Khalil Gibran. Tentu anda tidak perlu menjadi ‘anak-pesantren’ untuk menikmati ayat-ayat Allah. Bukankah cukup bahwa anda adalah seorang Muslim?

Kita bisa membaca Al Quran dalam bentuknya yang asli yaitu bahasa Arab dengan suara yang merdu; kemudian membaca artinya dan gaya bahasanya yang sangat retoris; berlanjut dengan tafsir para ulama kalau ingin lebih mendalam; kemudian kita bisa membaca drama dibalik turunnya setiap ayat, dan biografi pribadi-pribadi yakni para sahabat dan sahabiyah yang berkaitan dengan ayat tersebut; kita bisa mempelajari sejarah, bangsa dan tempat-tempat yang disebut dalam Al Quran; dan seterusnya!

Tetapi,  Al Quran tentu tidak dapat dibandingkan dengan buku karangan dan syair apa pun:“Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya” (QS Al Haaqqah: 41) 

Subhana Allah, Ya Allah jadikanlah kami beriman kepada Al Quran dan mewarisi dan mengamalkannya.

Al Quran Bagian II: Cara Membaca Al Quran

April 10, 2008

Salah seorang teman yang sangat saya cintai karena keimanannya memiliki semangat yang sangat tinggi dalam membaca Al Quran, terutama lagi pada bulan Ramadhan; dia bisa duduk berjam-jam membaca Al Quran. Karena semakin seringnya membaca Al Quran, kecepatan membacanya bisa 1 halaman (standar mushaf madinah) per 2,5 menit yang berarti 1 juz tiap kurang lebih 50 menit. Gaya membacanya adalah dengan mengayun-ayunkan badannya ke depan dan belakang seperti gaya anak-anak pakistan umur 6-10 tahun dalam proses menghafal Al Quran di sebuah madrasah (saya melihat ini di film Osama).

 

Tetapi kalau temanku ini ditanya apa yang baru saja dia baca, ia akan menjawab, “tidak tahu,” sebab dia memang bukan orang Arab, tidak pernah belajar bahasa Arab; dia hanyalah seorang pemuda dari Palopo – sama seperti saya. “Jadi 2-3 jam anda membaca Al Quran, dan anda tidak tahu sedikitpun apa yang anda baca….?”

 

Oleh karena itu, saudara-saudaraku, marilah kita membaca Al Quran tidak dengan posisi berayun-ayun gaya orang yang hendak menghafal Al Quran; tetapi dengan posisi satu tangan memegang dagu (kalau yang berjenggot boleh menyisir-nyisirnya dengan jari-jemari), sesekali berhenti dan melamun, atau bahkan berdiri berjalan kesana kemari, lalu berdiri di depan jendela, menerawang jauh ke langit, melepaskan kaca mata, dan menggigit lembut gagangnya, untuk kemudian kembali pada posisi semula –  membaca Al Quran.

 

Jangan lupa pula untuk selalu sediakan pensil dan polpen, stabilo warna hijau dan oranye, berilah coretan dan komentar, jangan takut untuk ‘mengotorinya’, pada sisi kiri dan kanan halaman, atau diatas sebuah kata atau bagian yang menggugah. Berilah tanda tanya pada bagian yang kurang dipahami atau menimbulkan rasa ingin lebih tahu agar di lain hari anda dapat menanyakannya kepada Pak ustadz . Dengan ke rumah anda atau anda pun bisa memburunya di masjid. Dengan demikian Al Quran akan menjadi diary pribadi anda, menyatu dengan diri anda. Mungkin cara membaca Al Quran seperti inilah yang harus biasakan. Mari…, “membaca” Al Quran…..

 

Maka apakah mereka tidak menghayati dengan teliti Al Quran?..(QS An Nisa : 82)

Al Quran Bagian III: “Sungguh, Sungguh, Sungguh!”

April 5, 2008

Film tentang time travel adalah sebuah imaginasi favorit para pembuat film di Hollywood. Saya masih ingat masa kejayaan film yang dibintangi oleh Michael J Fox, Back to the future yang saking populernya release pertama, director Robert Zemeckis dan producer Steven Speilberg harus membuat sequel kedua dan ketiga. Film-film lain yang bertema time travel pun juga bermunuculan. Ide perjalanan waktu memang membuka pintu-pintu khayalan tak terbatas kita terhadap kalimat yang begitu sering kita ungkapkan, “seandainya sebelumnya saya melakukan ini dan itu, saya akan….”

 

Mari kita ikut berhayal sejenak, bahwa kita juga memiliki sebuah time-travel machine, dimana kita bisa kembali ke masa lampu diri kita masing-masing. Kita akan kembali untuk memberi tahu diri kita di masa lalu, peristiwa-peristiwa masa depan agar kita bisa lebih beruntung. Tetapi, skenarionya, kita mendapatkan resistensi yang sangat besar dari masyarakat dan bahkan diri kita sendiri, sebab mereka dan diri kita adalah orang-orang ‘rasional’, tidak percaya kepada time-travel machine apa pun, bahwa waktu hanya berbentuk garis linear satu arah dan tidak seorang pun bisa mengotak-atiknya. Jadi kedatangan kita dan informasi yang kita bawa ditolak mentah-mentah. Lalu situasi semakin genting, entah karena masalah waktu yang semakin kritis, ataupun derajat keseriusan informasi yang kita ingin sampaikan. Yang jelas informasi ini harus disampaikan….!

 

Sampai disitu dulu ceritanya. Sekarang, saya punya satu pertanyaan: bahasa apakah kira-kira yang akan anda gunakan pada kondisi ini untuk meyakinkan diri anda sendiri dan orang-orang yang tidak percaya agar informasi masa depan yang anda bawah betul-betul dipercayai? “Sungguh, Benar-benar, Aku tidak bohong!” mungkin beberapa contoh. Betul atau betul? Kalau orang Bugis Makassar tempat asalku akan menggunakan ungkapan seperti, “Tojeng-tojeng ka kodong!” yang berarti “sesungguhnya.” Coba dalam bahasa Inggris: “Man, I’m really really really telling you the truth!”

 

Nah…marilah kita membuka Al Quran. Sangat mengherankan; kita akan temukan di dalamnya kata sesungguhnya terulang dengan sangat seringnya. Begitu banyak ayat yang dimulai dengan kata sesunguhnya. Bahkan tidak hanya frekuesnsi munculnya, namun berbagai macam bentuknya. Kalau kita mempelajari bahasa Arab, anda akan memahami terdapat tidak hanya satu bentuk kata sesungguhnya, tetapi berbagai macam cara untuk mengekspresikan gaya bahasa penekanan (emphasis) ini, misalnya kata ‘inna’ dan ‘laqad’, awalan ‘la’, dan kalimat yang diawali dengan ‘wa’ (dan) menggambarkan emphasis. Bahkan di dalam Al Quran ada satu ayat yang walaupun pendek namun tetap bisa meramu kesemua bentuk ini secara compact dan indah:

 

Wa innaka la ‘alaa khulukin ‘adziim.” (dan sesungguhnya engkau Muhammad (saw) berada pada akhlak yang sangat mulia. (Al Quran Al Kalam (68):4)

 

Pada ayat ini, Allah SWT sampai-sampai menggunakan 3 bentuk emphasis pertama diatas kemudian ditutup dengan adziim (sangat) untuk meyakinkan dan menggembirakan Rasulullah (saw) dari kesedihannya karena penolakan masyarakat Quraish pada waktu itu. Sampai-sampai Rasulullah (saw) disebut majnun, kaththaab, sihrun mubiin (gila, pembohong, tukang sihir) setelah 40 tahun sebelumnya digelari Al Amin (yang terpercaya). Oleh karena itu kata Syech Mamdouh Muhammad, seorang pengajar bahasa Arab di American Open Univerisity, ayat ini pada hakekatnya dapat diterjemahkan sebagai: “Sesungguhnya, Sesungguhnya, Sesungguhnya, Sesungguhnya” (4 kali) engkau Muhammad (saw) memiliki akhlak yang mulia.” Inilah salah satu keindahan dan ciri khas gaya bahasa Al Quran yang tidak dimiliki oleh buku dan kitab mana pun.

 

Oleh karena itu, marilah kita merenungi… Apakah gaya bahasa penekanan (emphasis) Al Quran kebetulan saja sama dengan gaya bahasa yang kemungkinan besar kita akan gunakan pada saat genting seperti pada perandaian skenario time-travel kita diatas…? Atau apakah kebetulan saja tidak ada kitab keagamaan lain yang memiliki gaya bahasa seperti ini, selain Al Quran…?

 

Atau… apakah memang karena Al Quran “Sesungguhnya-Sesungguhnya-Sesungguhnya” menyampaikan Al Haq (kebenaran)?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.