Posts Tagged ‘A Muslim in Tempe’

Universalitas “Islam”

December 4, 2008

Jam sudah menunjukkan waktu 14.15, lima belas menit sudah lewat dari batas waktu yang diberikan untuk menggelar table. Daerah sekeliling  Memorial Union sudah semakin sunyi, table-table kelompok yang lain sudah tidak terlihat di daerah fountain, sisa table-nya kelompok Ateis dengan tenda birunya yang masih berdiri. Tapi saya semakin penasaran, dimana Uthman, dimana Khalid, si Muhammad al Filistine juga belum datang. Waduh, saya tidak bisa mengemas semua perlengakapan ini sendiri, terutama tenda biru yang dibeli Khalid di Walmart ini yang biasa membutuhkan 4 orang untuk memasang dan mengemasnya.

Tidak jauh didepanku ada pula tiga orang, satu lelaki dan dua perempuan, tanpa table, hanya berdiri membagi-bagikan sesuatu…entah apa. Mereka jelas orang Jew, kelihatan dari topi kippah hitam yang dikenakan yang lelaki dan apa yang dia tanyakan kepada setiap wanita yang lewat, “Permisi, apakah kamu seorang Jew?” Kebanyaka – tentunya - akan menggelengkan kepala dan cepat berlalu; memang berapa banyak sih orang Jew di Amerika maupun tempat manapun. Hmm…entah apa yang mereka lakukan. Saya kembali menyibukkan diri membaca harian The New York Times dalam kepenasaranku menunggu seorang brother untuk datang membantuku berkemas.

Hi, how’s it going?” tanya salah satu perempuan Jew tadi itu. tiba-tiba ada di depan dawah table.

Hi, how are?” Jawabku.

“Jadi, kira-kira buku apa yang menjadi referensi yang bagus bagi pemula seperti saya untuk mengetahui tentang Islam?” Tanyanya.

Saya berdiri, sedikit mundur untuk berjaga jarak dan terlibat diskusi dengannya selama 15 menit berikutnya, saling bebagi informasi mengenai agama Islam dan agama Yahudi. Namanya Samantha, dia mengaku dahulunya beragama Kristen tapi selama satu setengah tahun terakhir sedang berusaha berpindah agama masuk ke agama Yahudi… Conversion into Judaisme - suatu topik yang dari dulu menimbulkan tanda tanya (curiosity) buatku. 

“Apakah kamu sadar kami umat Islam tidak menamakan agama kami Muhammadanism,” saya bertanya ditengah-tengah percakapan kami. “Justeru agama kita bernama Islam? Apakah kamu tahu apa arti the word “Islam”, by the way? Artinya penyerahanan diri (submission), suatu nama yang sangat universal karena agama ini memang untuk semua.” Ini adalah pendekatan yang menjadi favoritku dalam memperkenalkan agama yang Haq ini -  memulai dari “what’s in a name.”

Saya melanjutkan, “Coba bandingkan dengan nama agama lain: Hindu, Budha, Christian, dan agama yang kamu ingin masuki, agama Yahudi; semua terbatasi oleh faktor geografi, keturunan, dan waktu. Misalnya nama Hindu berasal dari lembah Hindustan di India; Judaisme adalah keturunan Judah; dan Christian dan Budha adalah para pengikut the the Christ dan Sidharta Gautama… yang berarti semua orang yang hidup sebelum “Tuhan Yesus” tidak mungkin menjadi seorang Christian dan begitu pula perbandingannya pada agama Budha.”

“Itulah kenapa kita ummat Islam menganggap semua para nabi – Noah, Abraham, Moses, Jesus, Muhammad (saw) – semua beragama Islam sebab mereka adalah benar-benar sumbitters to the one true God! Mereka semua adalah muslim = orang yang ber-Islam = orang yang berserah diri kepada Allah!” simpulku.

You see, bukankah ini semua lebih make sense?” tanyaku. ” Muhammad (saw) tidak memperkenalkan dan memulai agama Islam, dia (saw) me-rivive apa yang sebelumnya dilupakan dan ditinggalkan sekaligus menyempurnakannya. Agama Islam sudah ada sejak awal kemanusiaan - Nabi Adam (as) - dan penyerahan diri manusia kepada Allah (Islam) akan terus menjadi agama yang Haq – menurut kami – sampai the end of times!”

Dia sepertinya sangat tertarik dengan pengetahuan sangat dasar ini yang sebelumnya dia tidak tahu sama sekali. Hanya saja rabbi yang biasa menjaga jewish table dan dari tadi berdiri berbicara dengan seorang temannya dengan tertawa-tawa melihat kearah saya dan Samantah dari kejauhan tiba-tiba memanggilnya, “Samantha…Samantha!” 

Sepertinya rabbi itu tidak senang Samantha berada di dakwah table mendengarkan seorang “gentile” menjelaskan agamanya.

“Sepertinya teman kamu memanggilmu.”

“Oh, itu adalah jemputanku. nice talking to you, see you.”

“No problem, sampai jumpa.”

Paling tidak Samantha menitipkan emailnya padaku, saya masih bisa berkomunikasi dengannya tanpa rabbi itu mengganggu. Dalam percakapan kami, saya menawarkan mengirimkannnya beberapa buku pdf  Islam sesuai pertanyaan awalnya tadi….

Wallahu a’lam bissawab.

bersambung ke Penyerangan Mumbai…..

 

Penyerangan Mumbai dan Perjanjian Hudaibiyah

December 4, 2008

…..Bersambung dari Universalitas “Islam”

Oh well, saya tidak punya pilihan lain, saya harus berkemas sekarang juga.

Ketika saya mulai memasukkan semua brosur whyislam ke dalam dos dan membuka ikatan yang melilit spanduk “what is Islam”, tiba-tiba saya mendengar seseorang bertanya, “Apakah kamu butuh bantuan?” Saya berbalik dan melihat lelaki Jew yang memakai kippah hitam tadi itu.

Sure, thanks!” saya menjawab agak heran sekaligus kagum dengan tawarannya; ini adalah seorang Yahudi memakai kippah atau yarmulke menawarkan pertolongan yang sangat merepotkan kepada seorang Muslim yang memakai topi haji putih. Ini tentu akan membuat suatu pemandangan yang sangat menarik. Saya berpikir orang ini sungguh berjiwa besar.

“Yah, saya sebenarnya sedang menunggu beberapa teman untuk membantuku mengemas semua ini, tetapi sepertinya mereka tidak juga muncul sampai sekarang. Terima kasih atas tawarannya.”

Namanya adalah James. Dia membantu saya sampai mengangkatkan tenda biru yang sudah kami kemas dan cukup berat, mengangkatnya sampai ke basement Memorial Union, tempat semua perlengkapan table tersimpan. Saya menanyakan kepadanya apa yang dia lakukan sebelumnya membagi-bagikan sesuatu kepada para wanita yang lewat yang kebetulan Jew. Dia katakan itu adalah shabbat candles, lilin yang dinyalakan khusus oleh para wanita Jew menjelang hari shabbath. Jame khusus membagi-bagikannya pada hari ini sehubungan dengan penyerangan Mumbai Attack oleh 20-an teroris di India pada tanggal 26-29 November yang lalu.

“Sebenarnya apa yang terjadi sih di Mumbai?” saya bertanya kepadanya; dua minggu terakhir ini saya sangat sibuk dengan tugas-tugas kuliah mendekati akhir semester sehingga tidak sempat memperhatikan secara detail berita-berita global.

James menanggapi pertanyaanku tanpa penjelasan mendetail: “Bayangkan seseorang masuk ke dalam kamar hotel satu per satu, dor..dor…dor, just like that, begitu mudahnya membunuh. Tidakkah itu menyedihkan sekali!?”

“Itu sangat sangat menyedihkan,” saya katakan kepadanya, masih samar-samar terhadap apa yang  sebenarnya terjadi. 

James kemudian menjelaskan bagaimana salah satu target penyerangan para teroris adalah sebuah Jewish Center di Mumbai yang menyebabkan 6 orang Yahudi terbunuh, dan karena itulah dia secara khusus membagikan lilin-lilin ini sebagai tanda berduka.

Saya menjelaskan kepadanya bahwa di dalam Islam, nama yang di sandangkan kepada para extremis – kalau memang para ekstrimis ini mengaku beragama Islam dan bertindak atas nama Islam – adalah “Khawarij.” Saya jelaskan pula bahwa ada sebuah hadiths Rasulullah (saw) yang redaksinya: “kalbun nar” (anjing neraka) untuk menjelaskan keadaan para khawarij di neraka….(wallahu a’lam bissawaab). James menanggapinya dengan mengatakan ekstrimisme ada dimana-mana, pada semua agama, seolah-olah mengatakan, “don’t worry, saya tidak menyalahkannya agama yang notabene di anut oleh para teroris itu.”

Setelah malam harinya di kamar apartemen saya, saya me-youtube dan me-wikipedia “Mumbai Attack”, barulah saya sadar betapa seriusnya Mumbai Attack ini. SubhanaAllah, Naudzubillahil adzim, Lahaula wala quawata illa billahil adziim! Benar-benar para penyerang ini orang gila! Mereka dengan menggunakan kashalnikov dan granat tidak hanya menyerang orang-orang ‘bule’ di Hotel Taj Mahal, tapi secara membabi buta menembaki rakyat kecil yang sedang minding their own business di keramain stasiun kereta dan seluruh kota Mumbai, kota komersial dan terpadat di India! Pikiran apa yang ada di dalam otak mereka. Meraka benar-benar biadab!

Saya teringat kuliah Shekh Jafar Idris menjelaskan mengenai The Hudaibiyah Treaty (Perjanjian Hudaibiyah), tentang keindahan dan hikmah dibelakang peristiwa besar tersebut. Berikut saya mencoba menceritakan ulang peristiwa besar ini (dirangkum dari buku The Sealed Nectar oleh Saiful Rahman Al-Mubarakpuri), mudah-mudahan tidak terlalu panjang, tapi insyaAllah its worth it :

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai atau genjatan senjata yang direncanakan selama 10 tahun yang terjadi antara Muslim Madinah dan musyrikin Makkah pada 7 Hijriah. Perjanjian itu terjadi ketika Rasulullah (saw) dan para Sahabat radiallah anhum ingin memasuki Makkah untuk melakukan ibadah umrah, namun ditahan di Dhi Hulaifa, tempat dimana perjanjian itu disepakati. Perjanjian Hudaibiyah berisi poin-poin yang dipandang – oleh para sahabat pada wakt itu – sangat berat sebelah “menguntungkan” untuk pihak musyrikin Makkah dan sangat “merugikan” untuk para Muslimin. Isi perjanjina itu antara lain:

1. Kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tahun ini, mereka baru boleh memasuki Makkah tahun depan untuk menunaikan ibadah umrah, dan itupun hanya selama 3 hari.

2. Seorang musyrik Makkah yang lari ke Madinah tanpa persetujuan walinya harus dipulangkan ke Makkah.

3. Seorang Muslim Madinah yang ke Makkah tidak perlu di pulangkan ke Madinah.

Untuk menambah “kerugian” dan “uji kesabaran” para Sahabat, pihak musyrikin yang diwakili oleh Suhail menghendaki penghapus redaksi “Bismillahi Rahmani Rahim” dan “Rasul Allah” dalam perjanjian itu; dan belum juga perjanjian itu ditandatangani, Sahabat Abu Juhal, anak dari Suhail sendiri, datang dengan tangan terantai dan dalam keadaan fisik yang sangat mengenaskan. Ia datang ingin menyelamatkan diri dari musyrikin Makkah karena ia telah masuk Islam. Suhail memperingatkan Rasulullah (saw) untuk memegang kata-katanya (saw) dalam perjanjian yaitu untuk mengembalikan Abu Juhal kepada pihak Quraish Makkah. Rasulullah (saw) dan para sahabat hanya bisa menahan sabar dan menyuruh Abu Juhal untuk bersabar.

Para sahabat sangat kecewa dari kejadian semua ini, sebaliknya Rasullullah (saw) menyuruh untuk besyukur dan merayakannya yakni dengan berkurban dan bercukur. Allah SWT pun pada kesempatan ini menurunkan surah Al Fath (kemenangan yang sangat besar).

Shekh Jafar Idris dalam mengomentari turunnya surah Al Fath ini mengatakan bahwa bahkan untuk peperangan Badr dimana merupakan peperangan fisik terhebat para Sahabat radiallahu anhum karena keberanian mereka, tidak mendapatkan sanjungan kemenangan sebesar peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. SubhanaAllah!

Lalu apa rahasia dan hikmah di balik peristiwa ini sampai-sampai Allah SWT sampai menurunkan surah Al Fath? Ternyata sejak peristiwa ini, dalam kurun waktu 2 tahun, jumlah musyrikin yang masuk Islam berlipat ganda dibandingkan dengan kurun waktu manapun pada tahun-tahun sebelumnya Rasulullah (saw) mendakwakan agama Islam! Buktinya adalah jumlah para Sahabat di Al Hudaibiyah pada waktu perjanjian hanya 1400, sebaliknya ketika Rasulullah (saw) keluar untuk memerdekan Makkah (Fathul Mekkah) dua tahun kemudian, jumlah sahabat sudah mencapai 10,000 . Ternyata apa yang diharapkan oleh Rasulullah pada waktu itu adalah “yang penting damai”, walaupun ummat Islam harus “merugi” sementara.  

Poin-poin tentang ekstradisi antara kedua belah pihak justeru menjadi keuntungan bagi ummat Islam. Muslim yang harus dikembalikan ke Makkah toh tetap tidak akan meninggalkan agamanya, dan Muslim Madinah yang ke Makkah justeru menjadi pribadi-pribadi yang sangat berpengaruh (center of influence) di Makkah. Mereka pada waktu itu bebas mendakwakan Islam karena gencatan senjata telah ditetapkan.

Dibelakang hari – sebelum Fathul Makkah – musyrikin Makkah justeru datang memohon kepada Rasulullah untuk membatalkan poin perjanjian tentang ekstradisi. Mereka baru merasakan betapa ruginya mereka perihal poin tersebut. Abu Juhal, Abu Baseer, dan beberapa Sahabat radillahu anhum yang dilarang ke Madinah akhirnya memilih tempat pelarian lain yaitu Saif Al Bahr. Semakin lama jumlah Sahabat pelarian ini semakin besar sehingga merekapun melakukan pembalasan kepada expedisi dagang musyrikin Makkah yang melewati Saif Al Bahr. Dengan dibatalkannya poin ekstradisi, para Sahabat di Saif Al Bahr sudah bisa ke Madinah dan delegasi dagang tidak mendapatkan gangguan lagi.

SubhanaAllah! Rasulullah (saw) sungguh seorang visioner dan benar-benar seorang Rasul Allah. Bisakah manusia lain yang bukan Rasul memiliki victory seperti ini!

So, the moral of the story: kekuatan agama Islam tidak terletak pada perang fisik. Islam tidak tertarik dan tidak butuh pada perang semacam ini dalam menyebarkan dan menegakkan agama Islam (walaupun jihad fisik akan terus ada sampai kiamat, tentu dengan ketentuan, peraturan dan persyaratan yang ekstra super ketat; dan sebagai alternatif terakhir -  the last resort – untuk pembelaan diri sendiri dan orang-orang yang terzalimi).

Islam hanya membutuhkan kondisi aman agar terjadi interaksi damai antara ummat Islam dan orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Islam. Kekuatan agama Islam adalah pada perang dakwah. Adalah pada perang inilah, Islam akan jaya sebab Islam adalah kebenaran, dan argumentasi apakah yang bisa mematikan kebenaran? 

SubhanAllah, semoga Allah menguatkan ummat Islam untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang benar. Amien.

Wallahu a’lam bissawab…

bersambung ke Perpindahan agama

Perpindahan agama kedalam agama Yahudi dan Islam

December 4, 2008

bersambunga dari Penyerangan Mumbai….

Salah satu perbincangan singkat saya dengan James adalah mengenai mengenai perpindahan agama ke dalam agama Yahudi.

So, Samantha ingin menjadi seorang Jew?”

“Oh, kamu tadi berbicara dengan Sam? Yah, dia mau masuk agama Yahudi.” Dia melanjutkan, “Para rabbi itu (yang memanggil Samantha) betul-betul giving her a hard time?”

“Kenapa para rabbi itu harus mempersulit perpindahannya?”

James mulai menjelaskan, “Agama Yahudi itu tidak sama dengan Christian dan Islam yang sangat concern dengan meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya penganut Yahudi akan selalu menjadi minoritas pada diaspora mererka masing-masing. Nah, ketika ada seseorang yang ingin masuk agama Yahudi, dia akan diuji apakah benar-benar dia seorang Jew. Menurut kepercayaan, semua roh orang Yahudi, baik lampau maupun akan datang, telah hadir pada saat terjadinya perjanjian (covenant) di Gunung Sinai antara Tuhan dan bangsa Israel.”

“Jadi ujian yang diberikan kepada Samantha adalah untuk menguji apakah rohnya hadir pada saat perjanjian itu?”

“Yah kurang lebih seperti itu.”

“Apakah kamu juga memberikan Samantha ‘a hard time’ ?”

“Apa? saya?  Oh tidak, saya mencintai Samantha.”

“Tidakkah kamu ingin mengetahui apakah rohnya Samantha benar-benar ada di Mount Sinai pada waktu itu?” saya bertanya sedikit menyindir namun juga serius.

No…itu adalah tugasnya para rabbi.”

Penjelasan James berakhir disitu, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya mengenai conversion to Judaism bagi saya. Saya membandingkannya dengan proses masuk Islam seorang muallaf, begitu mudahnya, tanpa embel-embel, tanpa rintangan dan hambatan. Seseorang cukup mengucapkan shahadah ” ashadu an La ilah ha illa Allah, Muhammadan Rasulullah” dimana pun dan kapan pun dia inginkan. Sebenarnya tidak perlu di hadapan seorang imam apalagi restu seorang imam, atau dihadapan siapa pun. ini adalah urusannya dia dengan Allah. Sebenarnya orang yang menyatakan shahadah di hadapan orang sekedar sebagai bentuk pengumuman bahwa “hey, saya sekarang seorang muslim, oleh karena itu terimalah saya sebagai saudaramu, dan biarkanlah orang yang benci membencinya”; bukan untuk mendapat pengakuan atau persetujuan siapapun. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kata-kata prosesi “peng-islaman” atau “di-islam-kannya ” seseorang, sebagaimana seringnya disebut di negara kita, harus ditinggalkan jauh-jauh. Emangnya “pembaptisan”! Sepertinya kata ”ke-islaman” seseorang insyaAllah lebih tepat sebab ketika seseorang masuk Islam, orang itu sendiri yang menjadi “subyek”, dia yang in control; bukan “obyek”. Dia tidak “di-Islamkan” oleh siapa pun; dia “meng-Islamkan” dirinya sendiri dengan bimbingan dan hidayah oleh Allah SWT.

Yah, itulah keunikan Islam, yaitu iman adalah haq dasar (fitrah) sejak lahir dan ia adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi yaitu hubungan pribadi antara tiap-tiap individu dengan Penciptanya Allah SWT! Oleh karena itu yang menyaksikan, yang memberikan petunjuk, yang menetapkan, yang memaklumkan, yang mem-pass atau meng-approve  keimanan seseorang adalah yang menciptakan orang itu yaitu Allah SWT! Tidakkah itu sudah cukup?

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu….. (Al Anam: 19)

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”  (Al Isra : 96)

“Inna Allah ‘ala kulli shain shaheed” (sesungguhnya Allah maha menyaksikan segala sesuatu).

Suatu waktu, insyaAllah, saya harus memberi tahukan ini kepada Samantha, tentang keterbukaan dan kemudahan yang ditawarkan Islam. Saya tidak tahu seberapa keras “hard time” yang harus dia lalui untuk masuk agama Yahudi, tapi satu setengah tahun sepertinya waktu yang cukup lama untuk mendapatkan “pengakuan” ke-Yahudiannya. Dan kalau sampai dia atau siapapun yang ingin masuk Islam ingin diuji keimanannya, maka don’t worry, Allah SWT inysaAllah akan memberikan semua ujian yang kamu inginkan:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah: 214).

 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 29)

SubhanaAllah, Ya Allah kuatkan hati kami dalam menghadapi cobaan yang engkau berikan kepada kami…

Wallahu a’lam bissawab….

You are a looser living in a nonbeliever society, unless….

October 3, 2008

Ayman menelponku dari kamar gawat darurat, “Ali, saya akan sedikit lebih lama karena dokter belum datang. Bisakah kamu menungguku sedikit lebih lama.”

“Ok, Ayman, no problem, inysa Allah.”

Let’s just wait for Ayman in the car,” usulku kepada Omar. “He said he needs more time.”

Ayman, lelaki setengah baya, adalah brother dari Jordan dan sekaligus my roommate yang menempati ruang tamu di apartement Del Sol nomor 8. Malam ini, dia sakit gigi sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Untungnya – Alhamdulillah – ada Omar, brother dari Somalia yang telah menjadi US citizen, punya mobil, cukup established dan selalu menawarkan bantuannya kepada seorang ‘musafir’ seperti saya. Malam ini, tawarannya akhirnya dapat disambut dan bermanfaat dengan mengantar Ayman ke Rumah Sakit Chandler.

Saya dan Omar akhirnya memilih menunggu di mobilnya yang terparkir di parking lot, sebenarnya  sekaligus untuk suatu tujuan: melanjutkan mendengarkan CD ceramah kumpulannya Omar dari syekh yang dia kagumi, Syekh Sayyid Muhammad Ya’qubi. Belum pernah ada brother yang saya temui yang lebih banyak mengucapkan “Subhana Allah” daripada Omar. Alhamdulillah berada bersama Omar insya Allah ingat Allah terus. Dan Omar dan saya punya satu hal in common, yaitu mendengarkan Islamic Lectures. Omar senang sekali membagi-bagikan CD ceramah dari Syekh Ya’qubi ini kepada brother muslims di Masjid. Subhana Allah, begitu bermanfaatnya mendengarkan ceramah keagamaan sambil mengisi waktu daripada mendengarkan lagu-lagu Bon Jovi misalnya - naudzu billah.

Syekh Muhammad Ya’qubi adalah pembicara yang sangat fasih dan eloquent dan sangat menarik untuk didengar. Dia adalah seorang Syekh dari Syria dan sekarang berdomisili di London dimana dia melakukan kegiatan dakwahnya. Kali ini ceramahnya adalah tentang pentingnya dakwah, dan karena ceramahnya ada pada konteks masyarakat Inggris, dia menyampaikan satu pesan penting dengan mengatakan: “You are a looser living in a nonbeliever society….unless you do the dakwah”

Dasar dari argumentasinya ini memang adalah ijma atau concensus para ulama, yang didukung dengan berbagai ayat dan hadiths dan sejarah kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Dia mengatakan hidup kita ini memang semata-mata un untuk hidup secara syari beribadah kepada Allah Azza wa Jal, menjalankan syariah (cara hidup islam) sehingga harus selalu mencari tempat yang dapat mendukung kehidupan syari’ itu. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) dan para sahabatnya, hijrah ke Madinah walaupun harus meninggalkan dan mengorbankan segala harta, rumah, dan kekerabatan di Makkah pada waktu itu, untuk satu tujuan, membangun masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam. Zaman sekarang, justeru kebalikan: masyarakat Muslim dari negara berpenduduk mayoritas Muslim datang ke Western World, meninggalkan suara adzan dari banyaknya masjid yang tersedia di tanah air, sekedar untuk mengejar satu hal - dolar! Subhana Allah!

Pesan Ya’qubi ini sama dengan pesannya Bilal Philips pada suatu topik ceramah yang sama (Dakwah in the West) yang mengatakan, “Your dakwah justifies your staying in a predominantly nonbeliever society.”

Wallahu a’lam bissawab….

Ya Allah, please make us among those who are not  the loosers. Amin…

Encounter seorang muslim Indonesia dengan 9/11 Truth Movement of Arizona

September 21, 2008

Tanggal 20 hari Sabtu kemarin saya menghadiri pemutaran film dan diskusi di Murdock Hall, ASU mengenai peristiwa 9/11 dalam rangka memperingati 7 tahun kejadian yang sangat menggemparkan Amerika – dan dunia. Diskusi ini ternyata diadakan oleh 9/11 Truth Movement, suatu kelompok dan gerakan yang menentang teori arus utama mengenai penyebab dan detail kejadian penyerangan WTC yang di teribitkan oleh The 9/11 Commission Report.  Sangat menarik bukti-bukti scientifik yang mereka paparkan untuk mendukung claim mereka. Film-film yang diputar adalah: “September 11 Revisited,” “Pretext,” dan sebuah film lecture “The Destruction of the WTC.” Inti dari teori atau pendaat mereka (911 Truth Movement) adalah bahwa 9/11 adalah pekerjaan ‘orang dalam’ dan bahwa Osama bin Laden sama sekali tidak terlibat. 9/11 Truth Movement di Arizona ini bahkan menawarkan 10,000 dollar prize money melalui iklan satu halaman penuh di koran lokal bagi yang bersedia menyimak bukti-bukti mereka sekaligus menentangnya ( www.911wehavetheevidence.com ).

Namun yang menarik dari diskusi tersebut, adalah diskusi itu menjadi semacam observasi sosial bagi saya. Di akhir diskusi itu, tanya jawab dan komentar menjadi ‘ajang curhat’ di antara mereka. “My co-workers at my office hates me for believing in ‘the conspiracy theory’,” kata satu. “My wife thinks I’ve gone crazy,” “They think we are traitors,“After years of denial, I had to wake up.” “I feel I want to shut my eyes to the videos, but if it’s the truth…”  Itulah sebagian curahan hati mereka, salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat yang membentuk the American society; dalam hal ini mereka mewakili kelompok marginal. Namun walau mereka menjadi orang-orang yang termarginalkan, mereka masih punya semangat untuk menginformasikan public Amerika terutama kawan-kawan terdekat mereka: “Do you have any more of these brochures, I’d like to show them to my friends at work?” 

Sebagai orang awam dan orang yang baru saja mendarat di Amerika dan  melihat dan mendengar langsung suka duka mereka, saya sangat tercengang dengan semua informasi yang baru ini terutama mengenai pendapat mereka tentang ketidakterlibatan Osama bin Laden. Ketika sesi tanya jawab, saya sempatkan untuk mempertanyakan masalah ini: “Saya adalah seorang Muslim dari Indonesia, dan selama ini, kami  telah terbebani dan banyak mengalami diskriminasi untuk menjelaskan bahwa Islam bukan agama teroris. Saya sangat menghargai bahwa anda mengatakan bahwa Osama tidak terlibat, tetapi apakah memang benar-benar dia tidak terlibat? Bagaimana dengan rekaman pengakuan Osama dan keterlibatannya pada serangan WTC tahun 1993?”

Mike, pembicara utama dan host pada waktu itu, menjelaskan bahwa informasi ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, justeru sangat lazim kalau dilihat dari sejarah imperialism Amerika Serikat. Ia mengatakan Amerika mempunyai banyak ”Pretext” (Pretext adalah  strategi untuk menyembunyikan tujuan atau niat sebenarnya). Mike mengatakan bahwa Pearl Harbor adalah salah satu pretext untuk melakukan pengeboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Ia mengatakan bahwa FDR (Franklin Delano RooseveltPresiden Amerika Serikat pada waktu kejadian Pearl Harbor) sebenarnya tahu kedatangan Jepang pada serangan tersebut, tetapi membiarkan – agar nantinya menjadi sebuah pretext. Untuk masalah ini, David Griffen telah menulis buku berjudul: 911 the next Pearl Harbor.

Kemudian Mike memintaku untuk meng-google ”Fatty bin Laden” atau me-youtube-nya. Fatty bin Laden adalah pelesetan nama Osama karena dalam rekaman ‘pengakuannya’, ‘dia’ terlihat sedikit fatty (gemuk) dari biasanya (baca: dari sebenarnya). Menurut pengamatan saya, setelah melihat langsung dari youtube Fatty bin Laden ini, memang sangat jelas bahwa itu bukanlah Osama bin Laden yang asli. Mike mengatakan bahwa dalam pengadilan mana pun di Amerika dan dalam kasus apapun, rekaman sekabur rekaman tersebut tidak akan pernah cukup menjadi alat bukti utama keterlibatan seorang suspect kejahatan, anehnya rekaman ini justeru telah dijadikan bukti utama keterlibatan Osama bin Laden.

Pertemuan ini memberikan kesan tersendiri. Bahwa saya dari Indonesia dan mereka warga negara Amerika, bisa sama-sama memiliki keprihatinan terhadap permasalahan ini, walau dari perspektif yang berbeda. Indonesia menjadi negara yang sangat merasakan dampak 9/11 terutama permasalahan sentimen keagamaan dan masalah keamanan. Travel warning, kesusahan aplikasi visa dan tuduhan teroris adalah apa yang kami alami. Concern mereka sebaliknya hanyalah demi kebenaran.

Pada akhir film ketiga: “The destruction of the WTC,lecture yang dibawakan oleh Dr. David Ray Griffen, seorang theolog, filosof dan salah satu aktivis 9/11 yang paling terkemuka di Amerika Serikat, kalimat-kalimat penutupnya memperlihatkan landasan dan semangatnya yang didorong oleh semangat keagamaannya. Beliau mengingatkan warga Kristen Amerika bahwa ajaran dasar Yesus (Nabi Isa alaihi salam) adalah anti imperialisme…..

Wal Allahu a’lam bissawab….

“What if you could focus on the things that really matter?”

September 19, 2008

Begitu selesai salam, imam yang tadinya khatib Jumat, mulai mengambil mic. “Brothers and sisters, we will start with 10,000 dollars.  Who can give me 10,000 dollars? Jannah is waiting for you. Invest your money with Allah. Whose promise is better than Allah? Don’t let syaitan remind you of poverty! Syaitan is your enemy. Do you want to listen to your enemy? 10.000 dollars…?

Tiba-tiba salah satu jamaah dari shaf ketiga mengangkat tangan. Imam menyahut, “Takbir,” yang disambut oleh jamaah lain serempak mengucapkan “Allahu Akbar,” dengan lembut, jangan salah, tidak dengan gaya “Allahu Akbar”-nya Amrozi di pengadilan. “JazakaAllah khairan akhi. Anybody else, 10.000 dollars…? This mosque will be seen from the 101 highway. Brothers…?

Ok, 5.000 dollars. Sisters at the back, why are you so quiet? We know your hiding something,” Imam berusaha menyelingi dengan canda, tetapi kemudian serius lagi dengan mengucapkan ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan menafkahkan hart, “…and those who spend their wealth in the cause of Allah…

Begitulah cara ‘pelelangan amal’ jumat lalu di Masjid Tempe yang sangat gencar karena kegiatan dawa di Tempe, Arizona, yang memang harus di danai oleh jammaah sendiri. Angkanya biasa mulai dari 10.000 dolars atau bahkan 20.000 kemudian turun 5.000, 2.500, 1.000, sampai 100 dolars. Minggu sebelumnya, ada penawaran pembelian tiket 25 dollar untuk seminar James Yee, pengarang For God And Country: Faith and Patriotism Under Fire sekaligus fund raising, dan jumat ini ada penawaran serupa dari Islamic Relief untuk mensponsori anak-anak yatim di Afganistan dan Irak. Satu anak 50 dollar per bulan untuk satu tahun.

img_4493

What if you could focus on the thing that really matter? adalah slogan iklan suatu produk yang caught my attention di troli bag ketika transit di Changi airport en route ke San Fransico. Yah… benar, walaupun slogan iklan tersebut maksudnya lain oleh yang mengiklankannya yakni untuk mempromosikan produk dagangannya, namun kalau kita benar-benar memikirkannya, sangat sahih begitu banyak waktu, tenaga, dan dana kita sia-siakan untuk hal yang tidak penting seperti junk burger, junk soda, junk music, junk TV shows, junk clothes…

Hari ini, teman saya, Burhan memiliki cara sendiri perihal slogan tersebut. Burhan adalah brother masjid yang berasal dari Dammam, Saudi, mengambil Master degree-nya dibidang elektronika, di ASU. Tiap hari say bertemu dengannya di Masjid ketika shalat.  Dia biasa datang ke masjid mengendarai mountain bike-nya, atau datang naik bus Orbit, atau dua-duanya (sepeda disini bisa dinaikkan ke atas bus).

Suatu malam, selesai tarawiyah, sekitar jam 10.30 pm, dalam perjalananku dari masjid ke apartemen naik sepeda, saya melihat Burhan berjalan bersama istrinya sambil menggendong anaknya. Dia juga pulang dari masjid. Rumahnya berjarak sekitar 3 km dari masjid. Rupanya dia tidak dapat bus karena bus Orbit hanya sampai jam 10.00 malam. Memang malam itu, pada shalat witir, doa qunut-nya panjang sekali sehingga jamaah pulang sedikit telat.

Saya bertanya pada diri sendiri, “Why doesn’t Burhan just get a car?” Di Tempe semua orang punya mobil, apalagi kalau ada istri dan anak. Harga mobil tidak seberapa. Memang mobil disini sekedar alat transportasi dan bukan identitas status. Pak Michael tetangga saya yang juga mahasiswa asal Indonesia membeli mobil di tempat pelelangan seharga 500. Apalagi Burhan sering membawa istri dan anaknya ke Masjid, mobil bisa lebih santai buatnya ke masjid. Hidup di Tempe, Arizona bersama anak dan istri dengan panas bisa mencapai 45 derajat Celsius pada musim summer bisa sangat repot tanpa mobil.

Apakah Burhan tidak memiliki dana untuk membeli mobil? Tentu tidak, dia di biayai oleh pemerintah petro dolar Saudi untuk pendidikannya disini. Mungkin Burhan tidak tahu menyetir? Atau dia lebih memilih hidup environmentally friendly dan sustainable dengan tidak menambah polusi karbon? Tetapi hari ini dan minggu lalu dia selalu angkat tangan menanggapi tawaran imam. Minggu lalu dia ‘membeli pelelangan’ seharga 1000 dolar untuk pembangunan masjid baru di Phoenix dan hari ini dia juga angkat tangan untuk mensoponsori anak-anak yatim Afganistan dan Irak – hanya Allah yang tahu berapa anak yatim yang dia sponsori. Apapun alasannya kenapa Burhan tidak membeli mobil (yang menjadi pertanyaan tersendiri buatku) buat kesehariannya di Tempe, tapi insya Allah, Burhan telah focusing on the really important issues yaitu Jannatun tajeri min tahtihal anhar (Surga yang di bawahnya mengalir Sungai).

Wallahu a’lam bissawab.

Sahabat yang terbaik

September 17, 2008

Berpuasa di tengah-tengah orang Amerika bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang asing di negeri orang asing. Dan salah satu kesedihan itu adalah karena 2 mata kuliahku yang mulai sore sampai malam, pas bertepatan dengan buka dan shalat maghrib sehingga saya tidak bisa iftar dan berjamaah maghrib dengan brothers and sisters di Tempe Mosque sebagaimana tiap hari saya programkan.

Suatu siang di puasa kedua bulan Ramadhan 2008, Natalia, teman kelasku dari Indonesia yang tidak berpuasa karena dia seorang kristen berkata, “Bar, sepertinya kamu satu-satunya orang yang puasa di kelas.”

“Mungkin juga tidak,” jawabku. “Pertemuan minggu lalu ketika perkenalan, kalau ngak salah, ada orang Afrika namanya Abdullah. Tau ngak, itulah nama yang Islam banget, bukan Muhammad, Ali, atau Akbar, karena itu artinya Abdi Allah – Hamba Allah.”

“Yah, itu cuma nama doang, bisa jadi dia ngak practicing.”

Sore harinya, Abdullah membuktikan siapa dirinya sebenarnya. Ketika tiba waktu buka, dia keluar ruangan dengan membawa suatu bungkusan dan minuman, pas ketika saya membuka kaleng sodaku untuk berbuka. “Ah, dia juga berbuka tapi diluar ruang kelas, kalau saya disini aja.” Makan dan minum dalam kelas memang is no problem, bahkan pake sendal dan angkat kaki di kursi tidak apa-apa.

5 menit kemudian ketika kelas jeda selama 10 menit sebelum melanjutkan sesi kedua, Abdullah menghampiriku. “Hey, have you break the fast?”

“Yeah, I had my soda here in the class.”

“Yeah, I did too. I found a place to pray. It’s in the other class. The class is empty, so if you got a sheet of paper, you can use that for your sujud.”

“That’s great, lets do Maghrib together.”

“No, I’ve prayed already but I’ll show you the room.”

Subhan Allah. Pantas saja Abdullah keluar kelas. Dia tidak hanya berbuka, tapi juga shalat maghrib. Saya yang tadinya memutuskan untuk menjama’ shalat saya di waktu Isha setelah kuliah, akhirnya shalat di ruangan kelas sebelah itu dengan beralaskan kertas kosong, tempat Abdullah shalat sebelumnya.

Adalah teman-teman seberti Abdullah yang kita butuhkan, selalu mengingatkan dalam Dien, ketika kita mulai melemah. Saya tidak terlalu kenal Abdullah, tapi sekarang saya bisa katakan dengan mantap bahwa dia adalah hakikat teman yang terbaik!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.