Perpindahan agama kedalam agama Yahudi dan Islam

December 4, 2008

bersambunga dari Penyerangan Mumbai….

Salah satu perbincangan singkat saya dengan James adalah mengenai mengenai perpindahan agama ke dalam agama Yahudi.

So, Samantha ingin menjadi seorang Jew?”

“Oh, kamu tadi berbicara dengan Sam? Yah, dia mau masuk agama Yahudi.” Dia melanjutkan, “Para rabbi itu (yang memanggil Samantha) betul-betul giving her a hard time?”

“Kenapa para rabbi itu harus mempersulit perpindahannya?”

James mulai menjelaskan, “Agama Yahudi itu tidak sama dengan Christian dan Islam yang sangat concern dengan meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya penganut Yahudi akan selalu menjadi minoritas pada diaspora mererka masing-masing. Nah, ketika ada seseorang yang ingin masuk agama Yahudi, dia akan diuji apakah benar-benar dia seorang Jew. Menurut kepercayaan, semua roh orang Yahudi, baik lampau maupun akan datang, telah hadir pada saat terjadinya perjanjian (covenant) di Gunung Sinai antara Tuhan dan bangsa Israel.”

“Jadi ujian yang diberikan kepada Samantha adalah untuk menguji apakah rohnya hadir pada saat perjanjian itu?”

“Yah kurang lebih seperti itu.”

“Apakah kamu juga memberikan Samantha ‘a hard time’ ?”

“Apa? saya?  Oh tidak, saya mencintai Samantha.”

“Tidakkah kamu ingin mengetahui apakah rohnya Samantha benar-benar ada di Mount Sinai pada waktu itu?” saya bertanya sedikit menyindir namun juga serius.

No…itu adalah tugasnya para rabbi.”

Penjelasan James berakhir disitu, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya mengenai conversion to Judaism bagi saya. Saya membandingkannya dengan proses masuk Islam seorang muallaf, begitu mudahnya, tanpa embel-embel, tanpa rintangan dan hambatan. Seseorang cukup mengucapkan shahadah ” ashadu an La ilah ha illa Allah, Muhammadan Rasulullah” dimana pun dan kapan pun dia inginkan. Sebenarnya tidak perlu di hadapan seorang imam apalagi restu seorang imam, atau dihadapan siapa pun. ini adalah urusannya dia dengan Allah. Sebenarnya orang yang menyatakan shahadah di hadapan orang sekedar sebagai bentuk pengumuman bahwa “hey, saya sekarang seorang muslim, oleh karena itu terimalah saya sebagai saudaramu, dan biarkanlah orang yang benci membencinya”; bukan untuk mendapat pengakuan atau persetujuan siapapun. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kata-kata prosesi “peng-islaman” atau “di-islam-kannya ” seseorang, sebagaimana seringnya disebut di negara kita, harus ditinggalkan jauh-jauh. Emangnya “pembaptisan”! Sepertinya kata ”ke-islaman” seseorang insyaAllah lebih tepat sebab ketika seseorang masuk Islam, orang itu sendiri yang menjadi “subyek”, dia yang in control; bukan “obyek”. Dia tidak “di-Islamkan” oleh siapa pun; dia “meng-Islamkan” dirinya sendiri dengan bimbingan dan hidayah oleh Allah SWT.

Yah, itulah keunikan Islam, yaitu iman adalah haq dasar (fitrah) sejak lahir dan ia adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi yaitu hubungan pribadi antara tiap-tiap individu dengan Penciptanya Allah SWT! Oleh karena itu yang menyaksikan, yang memberikan petunjuk, yang menetapkan, yang memaklumkan, yang mem-pass atau meng-approve  keimanan seseorang adalah yang menciptakan orang itu yaitu Allah SWT! Tidakkah itu sudah cukup?

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu….. (Al Anam: 19)

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”  (Al Isra : 96)

“Inna Allah ‘ala kulli shain shaheed” (sesungguhnya Allah maha menyaksikan segala sesuatu).

Suatu waktu, insyaAllah, saya harus memberi tahukan ini kepada Samantha, tentang keterbukaan dan kemudahan yang ditawarkan Islam. Saya tidak tahu seberapa keras “hard time” yang harus dia lalui untuk masuk agama Yahudi, tapi satu setengah tahun sepertinya waktu yang cukup lama untuk mendapatkan “pengakuan” ke-Yahudiannya. Dan kalau sampai dia atau siapapun yang ingin masuk Islam ingin diuji keimanannya, maka don’t worry, Allah SWT inysaAllah akan memberikan semua ujian yang kamu inginkan:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah: 214).

 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 29)

SubhanaAllah, Ya Allah kuatkan hati kami dalam menghadapi cobaan yang engkau berikan kepada kami…

Wallahu a’lam bissawab….

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.