…..Bersambung dari Universalitas “Islam”
Oh well, saya tidak punya pilihan lain, saya harus berkemas sekarang juga.
Ketika saya mulai memasukkan semua brosur whyislam ke dalam dos dan membuka ikatan yang melilit spanduk “what is Islam”, tiba-tiba saya mendengar seseorang bertanya, “Apakah kamu butuh bantuan?” Saya berbalik dan melihat lelaki Jew yang memakai kippah hitam tadi itu.
“Sure, thanks!” saya menjawab agak heran sekaligus kagum dengan tawarannya; ini adalah seorang Yahudi memakai kippah atau yarmulke menawarkan pertolongan yang sangat merepotkan kepada seorang Muslim yang memakai topi haji putih. Ini tentu akan membuat suatu pemandangan yang sangat menarik. Saya berpikir orang ini sungguh berjiwa besar.
“Yah, saya sebenarnya sedang menunggu beberapa teman untuk membantuku mengemas semua ini, tetapi sepertinya mereka tidak juga muncul sampai sekarang. Terima kasih atas tawarannya.”
Namanya adalah James. Dia membantu saya sampai mengangkatkan tenda biru yang sudah kami kemas dan cukup berat, mengangkatnya sampai ke basement Memorial Union, tempat semua perlengkapan table tersimpan. Saya menanyakan kepadanya apa yang dia lakukan sebelumnya membagi-bagikan sesuatu kepada para wanita yang lewat yang kebetulan Jew. Dia katakan itu adalah shabbat candles, lilin yang dinyalakan khusus oleh para wanita Jew menjelang hari shabbath. Jame khusus membagi-bagikannya pada hari ini sehubungan dengan penyerangan Mumbai Attack oleh 20-an teroris di India pada tanggal 26-29 November yang lalu.
“Sebenarnya apa yang terjadi sih di Mumbai?” saya bertanya kepadanya; dua minggu terakhir ini saya sangat sibuk dengan tugas-tugas kuliah mendekati akhir semester sehingga tidak sempat memperhatikan secara detail berita-berita global.
James menanggapi pertanyaanku tanpa penjelasan mendetail: “Bayangkan seseorang masuk ke dalam kamar hotel satu per satu, dor..dor…dor, just like that, begitu mudahnya membunuh. Tidakkah itu menyedihkan sekali!?”
“Itu sangat sangat menyedihkan,” saya katakan kepadanya, masih samar-samar terhadap apa yang sebenarnya terjadi.
James kemudian menjelaskan bagaimana salah satu target penyerangan para teroris adalah sebuah Jewish Center di Mumbai yang menyebabkan 6 orang Yahudi terbunuh, dan karena itulah dia secara khusus membagikan lilin-lilin ini sebagai tanda berduka.
Saya menjelaskan kepadanya bahwa di dalam Islam, nama yang di sandangkan kepada para extremis – kalau memang para ekstrimis ini mengaku beragama Islam dan bertindak atas nama Islam – adalah “Khawarij.” Saya jelaskan pula bahwa ada sebuah hadiths Rasulullah (saw) yang redaksinya: “kalbun nar” (anjing neraka) untuk menjelaskan keadaan para khawarij di neraka….(wallahu a’lam bissawaab). James menanggapinya dengan mengatakan ekstrimisme ada dimana-mana, pada semua agama, seolah-olah mengatakan, “don’t worry, saya tidak menyalahkannya agama yang notabene di anut oleh para teroris itu.”
Setelah malam harinya di kamar apartemen saya, saya me-youtube dan me-wikipedia “Mumbai Attack”, barulah saya sadar betapa seriusnya Mumbai Attack ini. SubhanaAllah, Naudzubillahil adzim, Lahaula wala quawata illa billahil adziim! Benar-benar para penyerang ini orang gila! Mereka dengan menggunakan kashalnikov dan granat tidak hanya menyerang orang-orang ‘bule’ di Hotel Taj Mahal, tapi secara membabi buta menembaki rakyat kecil yang sedang minding their own business di keramain stasiun kereta dan seluruh kota Mumbai, kota komersial dan terpadat di India! Pikiran apa yang ada di dalam otak mereka. Meraka benar-benar biadab!
Saya teringat kuliah Shekh Jafar Idris menjelaskan mengenai The Hudaibiyah Treaty (Perjanjian Hudaibiyah), tentang keindahan dan hikmah dibelakang peristiwa besar tersebut. Berikut saya mencoba menceritakan ulang peristiwa besar ini (dirangkum dari buku The Sealed Nectar oleh Saiful Rahman Al-Mubarakpuri), mudah-mudahan tidak terlalu panjang, tapi insyaAllah its worth it :
Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai atau genjatan senjata yang direncanakan selama 10 tahun yang terjadi antara Muslim Madinah dan musyrikin Makkah pada 7 Hijriah. Perjanjian itu terjadi ketika Rasulullah (saw) dan para Sahabat radiallah anhum ingin memasuki Makkah untuk melakukan ibadah umrah, namun ditahan di Dhi Hulaifa, tempat dimana perjanjian itu disepakati. Perjanjian Hudaibiyah berisi poin-poin yang dipandang – oleh para sahabat pada wakt itu – sangat berat sebelah “menguntungkan” untuk pihak musyrikin Makkah dan sangat “merugikan” untuk para Muslimin. Isi perjanjina itu antara lain:
1. Kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tahun ini, mereka baru boleh memasuki Makkah tahun depan untuk menunaikan ibadah umrah, dan itupun hanya selama 3 hari.
2. Seorang musyrik Makkah yang lari ke Madinah tanpa persetujuan walinya harus dipulangkan ke Makkah.
3. Seorang Muslim Madinah yang ke Makkah tidak perlu di pulangkan ke Madinah.
Untuk menambah “kerugian” dan “uji kesabaran” para Sahabat, pihak musyrikin yang diwakili oleh Suhail menghendaki penghapus redaksi “Bismillahi Rahmani Rahim” dan “Rasul Allah” dalam perjanjian itu; dan belum juga perjanjian itu ditandatangani, Sahabat Abu Juhal, anak dari Suhail sendiri, datang dengan tangan terantai dan dalam keadaan fisik yang sangat mengenaskan. Ia datang ingin menyelamatkan diri dari musyrikin Makkah karena ia telah masuk Islam. Suhail memperingatkan Rasulullah (saw) untuk memegang kata-katanya (saw) dalam perjanjian yaitu untuk mengembalikan Abu Juhal kepada pihak Quraish Makkah. Rasulullah (saw) dan para sahabat hanya bisa menahan sabar dan menyuruh Abu Juhal untuk bersabar.
Para sahabat sangat kecewa dari kejadian semua ini, sebaliknya Rasullullah (saw) menyuruh untuk besyukur dan merayakannya yakni dengan berkurban dan bercukur. Allah SWT pun pada kesempatan ini menurunkan surah Al Fath (kemenangan yang sangat besar).
Shekh Jafar Idris dalam mengomentari turunnya surah Al Fath ini mengatakan bahwa bahkan untuk peperangan Badr dimana merupakan peperangan fisik terhebat para Sahabat radiallahu anhum karena keberanian mereka, tidak mendapatkan sanjungan kemenangan sebesar peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. SubhanaAllah!
Lalu apa rahasia dan hikmah di balik peristiwa ini sampai-sampai Allah SWT sampai menurunkan surah Al Fath? Ternyata sejak peristiwa ini, dalam kurun waktu 2 tahun, jumlah musyrikin yang masuk Islam berlipat ganda dibandingkan dengan kurun waktu manapun pada tahun-tahun sebelumnya Rasulullah (saw) mendakwakan agama Islam! Buktinya adalah jumlah para Sahabat di Al Hudaibiyah pada waktu perjanjian hanya 1400, sebaliknya ketika Rasulullah (saw) keluar untuk memerdekan Makkah (Fathul Mekkah) dua tahun kemudian, jumlah sahabat sudah mencapai 10,000 . Ternyata apa yang diharapkan oleh Rasulullah pada waktu itu adalah “yang penting damai”, walaupun ummat Islam harus “merugi” sementara.
Poin-poin tentang ekstradisi antara kedua belah pihak justeru menjadi keuntungan bagi ummat Islam. Muslim yang harus dikembalikan ke Makkah toh tetap tidak akan meninggalkan agamanya, dan Muslim Madinah yang ke Makkah justeru menjadi pribadi-pribadi yang sangat berpengaruh (center of influence) di Makkah. Mereka pada waktu itu bebas mendakwakan Islam karena gencatan senjata telah ditetapkan.
Dibelakang hari – sebelum Fathul Makkah – musyrikin Makkah justeru datang memohon kepada Rasulullah untuk membatalkan poin perjanjian tentang ekstradisi. Mereka baru merasakan betapa ruginya mereka perihal poin tersebut. Abu Juhal, Abu Baseer, dan beberapa Sahabat radillahu anhum yang dilarang ke Madinah akhirnya memilih tempat pelarian lain yaitu Saif Al Bahr. Semakin lama jumlah Sahabat pelarian ini semakin besar sehingga merekapun melakukan pembalasan kepada expedisi dagang musyrikin Makkah yang melewati Saif Al Bahr. Dengan dibatalkannya poin ekstradisi, para Sahabat di Saif Al Bahr sudah bisa ke Madinah dan delegasi dagang tidak mendapatkan gangguan lagi.
SubhanaAllah! Rasulullah (saw) sungguh seorang visioner dan benar-benar seorang Rasul Allah. Bisakah manusia lain yang bukan Rasul memiliki victory seperti ini!
So, the moral of the story: kekuatan agama Islam tidak terletak pada perang fisik. Islam tidak tertarik dan tidak butuh pada perang semacam ini dalam menyebarkan dan menegakkan agama Islam (walaupun jihad fisik akan terus ada sampai kiamat, tentu dengan ketentuan, peraturan dan persyaratan yang ekstra super ketat; dan sebagai alternatif terakhir - the last resort – untuk pembelaan diri sendiri dan orang-orang yang terzalimi).
Islam hanya membutuhkan kondisi aman agar terjadi interaksi damai antara ummat Islam dan orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Islam. Kekuatan agama Islam adalah pada perang dakwah. Adalah pada perang inilah, Islam akan jaya sebab Islam adalah kebenaran, dan argumentasi apakah yang bisa mematikan kebenaran?
SubhanAllah, semoga Allah menguatkan ummat Islam untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang benar. Amien.
Wallahu a’lam bissawab…
bersambung ke Perpindahan agama