Archive for December, 2008

Al Quran 4: Dalam…Sindiran Yang Sangat Dalam

December 28, 2008

Pernahkah kita tersinggung terhadap suatu sindiran yang dilancarkan seseorang terhadap diri kita? Mungkin kita tersinggung karena kita tidak layak disinggung seperti itu, diperlakukan seperti itu…? Mungkin orang yang menyinggung diri kita itu tidak sadar apa yang ia lakukan; tidak sadar betapa tingginya derajat, ilmu, dan pengetahuan yang kita miliki…? Sepertinya orang itu perlu diajar apa yang dia ucapkan, “Tidak sadar dia, heh..?” 

Ataukah mungkin kita perlu sekali-kali tersinggung…? Siapa tahu itu adalah sehat. Mungkin sindiran itu mengandung kebenaran dan akan membuat kita sadar kembali ke jalan yang benar yang mana sebelumnya kita tinggalkan…? Kata-kata seorang ustads yang sering membawakan ceramah keagamaan di Kota Makassar – ustads Irawan, kalau tidak salah namanya – sambil sedikit bercanda: “…Ini saya tidak bermaksud menyindir, tapi kalau tersinggung…Alhamdulillah.”

Bagaimanakah seandainya kalau yang menyindir itu adalah Yang paling mengetahui keadaan kita, Yang memiliki kita, Yang menciptakan kita, Yang kepada-Nya kita menghambakan diri…?  Allah Azza wa Jal telah menyindir kita:

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan. (Al Qiyamah 36-37)

“Dalam”, “Dalem banget…!”

Bayangkan kita katakan kepada Mr. Donald Trump, “Bukankah kamu dulu yang datang kepadaku ingin meminjam satu quarter agar supaya kamu bisa membeli makan pagi?” Atau kepada Mr. Bill Gates, “Bukankah kamu dulu yang pernah datang kepadaku ingin belajar kali-kalian?”

SubhanaAllah…! This is Allah Azza wa Jal speaking to us…! Pantaslah kita tersinggung…! Lalu pertanyaan berupa sindirian apa lagi yang bisa lebih “dalam” daripada ini, yang bisa lebih merendahkan seperti ini…? Subhana Allah…alasan apa lagi kalau bukan untuk menyindir ketika Allah Azza wa Jal yang Maha Mengetahui segala sesuatu bertanya seperti ini…? Apakah arti setetes mani…!? “How low can you go?“ We are completely nothing, nothing, nothing – nothingness…!

Allah melanjutkan sindiran ini pada surah berikutnya, Al Insan, persis pada ayat pertama:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Al Insan: 1)

Sekali persis, nothingness…! We never even existed…!

Dan sindiran terakhir adalah sindiran berupa kalimat pernyataan, bukan pertanyaan; namun kali ini tanpa menyebut obyek asal usul manusia (air mani), melainkan sindiran bahwa kita sebenarnya sangat sadar akan kelemahan ini:

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ”ketahui” (Al Maarij: 38-39).

Subhan Allah, Astagfirullah…Ya Allah kami telah mendzalimi diri kita masing-masing, maka jadikanlah kami terus tersinggung pada sindiranmu ini…

Wa Allahu a’lam bissawab…

Universalitas “Islam”

December 4, 2008

Jam sudah menunjukkan waktu 14.15, lima belas menit sudah lewat dari batas waktu yang diberikan untuk menggelar table. Daerah sekeliling  Memorial Union sudah semakin sunyi, table-table kelompok yang lain sudah tidak terlihat di daerah fountain, sisa table-nya kelompok Ateis dengan tenda birunya yang masih berdiri. Tapi saya semakin penasaran, dimana Uthman, dimana Khalid, si Muhammad al Filistine juga belum datang. Waduh, saya tidak bisa mengemas semua perlengakapan ini sendiri, terutama tenda biru yang dibeli Khalid di Walmart ini yang biasa membutuhkan 4 orang untuk memasang dan mengemasnya.

Tidak jauh didepanku ada pula tiga orang, satu lelaki dan dua perempuan, tanpa table, hanya berdiri membagi-bagikan sesuatu…entah apa. Mereka jelas orang Jew, kelihatan dari topi kippah hitam yang dikenakan yang lelaki dan apa yang dia tanyakan kepada setiap wanita yang lewat, “Permisi, apakah kamu seorang Jew?” Kebanyaka – tentunya - akan menggelengkan kepala dan cepat berlalu; memang berapa banyak sih orang Jew di Amerika maupun tempat manapun. Hmm…entah apa yang mereka lakukan. Saya kembali menyibukkan diri membaca harian The New York Times dalam kepenasaranku menunggu seorang brother untuk datang membantuku berkemas.

Hi, how’s it going?” tanya salah satu perempuan Jew tadi itu. tiba-tiba ada di depan dawah table.

Hi, how are?” Jawabku.

“Jadi, kira-kira buku apa yang menjadi referensi yang bagus bagi pemula seperti saya untuk mengetahui tentang Islam?” Tanyanya.

Saya berdiri, sedikit mundur untuk berjaga jarak dan terlibat diskusi dengannya selama 15 menit berikutnya, saling bebagi informasi mengenai agama Islam dan agama Yahudi. Namanya Samantha, dia mengaku dahulunya beragama Kristen tapi selama satu setengah tahun terakhir sedang berusaha berpindah agama masuk ke agama Yahudi… Conversion into Judaisme - suatu topik yang dari dulu menimbulkan tanda tanya (curiosity) buatku. 

“Apakah kamu sadar kami umat Islam tidak menamakan agama kami Muhammadanism,” saya bertanya ditengah-tengah percakapan kami. “Justeru agama kita bernama Islam? Apakah kamu tahu apa arti the word “Islam”, by the way? Artinya penyerahanan diri (submission), suatu nama yang sangat universal karena agama ini memang untuk semua.” Ini adalah pendekatan yang menjadi favoritku dalam memperkenalkan agama yang Haq ini -  memulai dari “what’s in a name.”

Saya melanjutkan, “Coba bandingkan dengan nama agama lain: Hindu, Budha, Christian, dan agama yang kamu ingin masuki, agama Yahudi; semua terbatasi oleh faktor geografi, keturunan, dan waktu. Misalnya nama Hindu berasal dari lembah Hindustan di India; Judaisme adalah keturunan Judah; dan Christian dan Budha adalah para pengikut the the Christ dan Sidharta Gautama… yang berarti semua orang yang hidup sebelum “Tuhan Yesus” tidak mungkin menjadi seorang Christian dan begitu pula perbandingannya pada agama Budha.”

“Itulah kenapa kita ummat Islam menganggap semua para nabi – Noah, Abraham, Moses, Jesus, Muhammad (saw) – semua beragama Islam sebab mereka adalah benar-benar sumbitters to the one true God! Mereka semua adalah muslim = orang yang ber-Islam = orang yang berserah diri kepada Allah!” simpulku.

You see, bukankah ini semua lebih make sense?” tanyaku. ” Muhammad (saw) tidak memperkenalkan dan memulai agama Islam, dia (saw) me-rivive apa yang sebelumnya dilupakan dan ditinggalkan sekaligus menyempurnakannya. Agama Islam sudah ada sejak awal kemanusiaan - Nabi Adam (as) - dan penyerahan diri manusia kepada Allah (Islam) akan terus menjadi agama yang Haq – menurut kami – sampai the end of times!”

Dia sepertinya sangat tertarik dengan pengetahuan sangat dasar ini yang sebelumnya dia tidak tahu sama sekali. Hanya saja rabbi yang biasa menjaga jewish table dan dari tadi berdiri berbicara dengan seorang temannya dengan tertawa-tawa melihat kearah saya dan Samantah dari kejauhan tiba-tiba memanggilnya, “Samantha…Samantha!” 

Sepertinya rabbi itu tidak senang Samantha berada di dakwah table mendengarkan seorang “gentile” menjelaskan agamanya.

“Sepertinya teman kamu memanggilmu.”

“Oh, itu adalah jemputanku. nice talking to you, see you.”

“No problem, sampai jumpa.”

Paling tidak Samantha menitipkan emailnya padaku, saya masih bisa berkomunikasi dengannya tanpa rabbi itu mengganggu. Dalam percakapan kami, saya menawarkan mengirimkannnya beberapa buku pdf  Islam sesuai pertanyaan awalnya tadi….

Wallahu a’lam bissawab.

bersambung ke Penyerangan Mumbai…..

 

Penyerangan Mumbai dan Perjanjian Hudaibiyah

December 4, 2008

…..Bersambung dari Universalitas “Islam”

Oh well, saya tidak punya pilihan lain, saya harus berkemas sekarang juga.

Ketika saya mulai memasukkan semua brosur whyislam ke dalam dos dan membuka ikatan yang melilit spanduk “what is Islam”, tiba-tiba saya mendengar seseorang bertanya, “Apakah kamu butuh bantuan?” Saya berbalik dan melihat lelaki Jew yang memakai kippah hitam tadi itu.

Sure, thanks!” saya menjawab agak heran sekaligus kagum dengan tawarannya; ini adalah seorang Yahudi memakai kippah atau yarmulke menawarkan pertolongan yang sangat merepotkan kepada seorang Muslim yang memakai topi haji putih. Ini tentu akan membuat suatu pemandangan yang sangat menarik. Saya berpikir orang ini sungguh berjiwa besar.

“Yah, saya sebenarnya sedang menunggu beberapa teman untuk membantuku mengemas semua ini, tetapi sepertinya mereka tidak juga muncul sampai sekarang. Terima kasih atas tawarannya.”

Namanya adalah James. Dia membantu saya sampai mengangkatkan tenda biru yang sudah kami kemas dan cukup berat, mengangkatnya sampai ke basement Memorial Union, tempat semua perlengkapan table tersimpan. Saya menanyakan kepadanya apa yang dia lakukan sebelumnya membagi-bagikan sesuatu kepada para wanita yang lewat yang kebetulan Jew. Dia katakan itu adalah shabbat candles, lilin yang dinyalakan khusus oleh para wanita Jew menjelang hari shabbath. Jame khusus membagi-bagikannya pada hari ini sehubungan dengan penyerangan Mumbai Attack oleh 20-an teroris di India pada tanggal 26-29 November yang lalu.

“Sebenarnya apa yang terjadi sih di Mumbai?” saya bertanya kepadanya; dua minggu terakhir ini saya sangat sibuk dengan tugas-tugas kuliah mendekati akhir semester sehingga tidak sempat memperhatikan secara detail berita-berita global.

James menanggapi pertanyaanku tanpa penjelasan mendetail: “Bayangkan seseorang masuk ke dalam kamar hotel satu per satu, dor..dor…dor, just like that, begitu mudahnya membunuh. Tidakkah itu menyedihkan sekali!?”

“Itu sangat sangat menyedihkan,” saya katakan kepadanya, masih samar-samar terhadap apa yang  sebenarnya terjadi. 

James kemudian menjelaskan bagaimana salah satu target penyerangan para teroris adalah sebuah Jewish Center di Mumbai yang menyebabkan 6 orang Yahudi terbunuh, dan karena itulah dia secara khusus membagikan lilin-lilin ini sebagai tanda berduka.

Saya menjelaskan kepadanya bahwa di dalam Islam, nama yang di sandangkan kepada para extremis – kalau memang para ekstrimis ini mengaku beragama Islam dan bertindak atas nama Islam – adalah “Khawarij.” Saya jelaskan pula bahwa ada sebuah hadiths Rasulullah (saw) yang redaksinya: “kalbun nar” (anjing neraka) untuk menjelaskan keadaan para khawarij di neraka….(wallahu a’lam bissawaab). James menanggapinya dengan mengatakan ekstrimisme ada dimana-mana, pada semua agama, seolah-olah mengatakan, “don’t worry, saya tidak menyalahkannya agama yang notabene di anut oleh para teroris itu.”

Setelah malam harinya di kamar apartemen saya, saya me-youtube dan me-wikipedia “Mumbai Attack”, barulah saya sadar betapa seriusnya Mumbai Attack ini. SubhanaAllah, Naudzubillahil adzim, Lahaula wala quawata illa billahil adziim! Benar-benar para penyerang ini orang gila! Mereka dengan menggunakan kashalnikov dan granat tidak hanya menyerang orang-orang ‘bule’ di Hotel Taj Mahal, tapi secara membabi buta menembaki rakyat kecil yang sedang minding their own business di keramain stasiun kereta dan seluruh kota Mumbai, kota komersial dan terpadat di India! Pikiran apa yang ada di dalam otak mereka. Meraka benar-benar biadab!

Saya teringat kuliah Shekh Jafar Idris menjelaskan mengenai The Hudaibiyah Treaty (Perjanjian Hudaibiyah), tentang keindahan dan hikmah dibelakang peristiwa besar tersebut. Berikut saya mencoba menceritakan ulang peristiwa besar ini (dirangkum dari buku The Sealed Nectar oleh Saiful Rahman Al-Mubarakpuri), mudah-mudahan tidak terlalu panjang, tapi insyaAllah its worth it :

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai atau genjatan senjata yang direncanakan selama 10 tahun yang terjadi antara Muslim Madinah dan musyrikin Makkah pada 7 Hijriah. Perjanjian itu terjadi ketika Rasulullah (saw) dan para Sahabat radiallah anhum ingin memasuki Makkah untuk melakukan ibadah umrah, namun ditahan di Dhi Hulaifa, tempat dimana perjanjian itu disepakati. Perjanjian Hudaibiyah berisi poin-poin yang dipandang – oleh para sahabat pada wakt itu – sangat berat sebelah “menguntungkan” untuk pihak musyrikin Makkah dan sangat “merugikan” untuk para Muslimin. Isi perjanjina itu antara lain:

1. Kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tahun ini, mereka baru boleh memasuki Makkah tahun depan untuk menunaikan ibadah umrah, dan itupun hanya selama 3 hari.

2. Seorang musyrik Makkah yang lari ke Madinah tanpa persetujuan walinya harus dipulangkan ke Makkah.

3. Seorang Muslim Madinah yang ke Makkah tidak perlu di pulangkan ke Madinah.

Untuk menambah “kerugian” dan “uji kesabaran” para Sahabat, pihak musyrikin yang diwakili oleh Suhail menghendaki penghapus redaksi “Bismillahi Rahmani Rahim” dan “Rasul Allah” dalam perjanjian itu; dan belum juga perjanjian itu ditandatangani, Sahabat Abu Juhal, anak dari Suhail sendiri, datang dengan tangan terantai dan dalam keadaan fisik yang sangat mengenaskan. Ia datang ingin menyelamatkan diri dari musyrikin Makkah karena ia telah masuk Islam. Suhail memperingatkan Rasulullah (saw) untuk memegang kata-katanya (saw) dalam perjanjian yaitu untuk mengembalikan Abu Juhal kepada pihak Quraish Makkah. Rasulullah (saw) dan para sahabat hanya bisa menahan sabar dan menyuruh Abu Juhal untuk bersabar.

Para sahabat sangat kecewa dari kejadian semua ini, sebaliknya Rasullullah (saw) menyuruh untuk besyukur dan merayakannya yakni dengan berkurban dan bercukur. Allah SWT pun pada kesempatan ini menurunkan surah Al Fath (kemenangan yang sangat besar).

Shekh Jafar Idris dalam mengomentari turunnya surah Al Fath ini mengatakan bahwa bahkan untuk peperangan Badr dimana merupakan peperangan fisik terhebat para Sahabat radiallahu anhum karena keberanian mereka, tidak mendapatkan sanjungan kemenangan sebesar peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. SubhanaAllah!

Lalu apa rahasia dan hikmah di balik peristiwa ini sampai-sampai Allah SWT sampai menurunkan surah Al Fath? Ternyata sejak peristiwa ini, dalam kurun waktu 2 tahun, jumlah musyrikin yang masuk Islam berlipat ganda dibandingkan dengan kurun waktu manapun pada tahun-tahun sebelumnya Rasulullah (saw) mendakwakan agama Islam! Buktinya adalah jumlah para Sahabat di Al Hudaibiyah pada waktu perjanjian hanya 1400, sebaliknya ketika Rasulullah (saw) keluar untuk memerdekan Makkah (Fathul Mekkah) dua tahun kemudian, jumlah sahabat sudah mencapai 10,000 . Ternyata apa yang diharapkan oleh Rasulullah pada waktu itu adalah “yang penting damai”, walaupun ummat Islam harus “merugi” sementara.  

Poin-poin tentang ekstradisi antara kedua belah pihak justeru menjadi keuntungan bagi ummat Islam. Muslim yang harus dikembalikan ke Makkah toh tetap tidak akan meninggalkan agamanya, dan Muslim Madinah yang ke Makkah justeru menjadi pribadi-pribadi yang sangat berpengaruh (center of influence) di Makkah. Mereka pada waktu itu bebas mendakwakan Islam karena gencatan senjata telah ditetapkan.

Dibelakang hari – sebelum Fathul Makkah – musyrikin Makkah justeru datang memohon kepada Rasulullah untuk membatalkan poin perjanjian tentang ekstradisi. Mereka baru merasakan betapa ruginya mereka perihal poin tersebut. Abu Juhal, Abu Baseer, dan beberapa Sahabat radillahu anhum yang dilarang ke Madinah akhirnya memilih tempat pelarian lain yaitu Saif Al Bahr. Semakin lama jumlah Sahabat pelarian ini semakin besar sehingga merekapun melakukan pembalasan kepada expedisi dagang musyrikin Makkah yang melewati Saif Al Bahr. Dengan dibatalkannya poin ekstradisi, para Sahabat di Saif Al Bahr sudah bisa ke Madinah dan delegasi dagang tidak mendapatkan gangguan lagi.

SubhanaAllah! Rasulullah (saw) sungguh seorang visioner dan benar-benar seorang Rasul Allah. Bisakah manusia lain yang bukan Rasul memiliki victory seperti ini!

So, the moral of the story: kekuatan agama Islam tidak terletak pada perang fisik. Islam tidak tertarik dan tidak butuh pada perang semacam ini dalam menyebarkan dan menegakkan agama Islam (walaupun jihad fisik akan terus ada sampai kiamat, tentu dengan ketentuan, peraturan dan persyaratan yang ekstra super ketat; dan sebagai alternatif terakhir -  the last resort – untuk pembelaan diri sendiri dan orang-orang yang terzalimi).

Islam hanya membutuhkan kondisi aman agar terjadi interaksi damai antara ummat Islam dan orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Islam. Kekuatan agama Islam adalah pada perang dakwah. Adalah pada perang inilah, Islam akan jaya sebab Islam adalah kebenaran, dan argumentasi apakah yang bisa mematikan kebenaran? 

SubhanAllah, semoga Allah menguatkan ummat Islam untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang benar. Amien.

Wallahu a’lam bissawab…

bersambung ke Perpindahan agama

Perpindahan agama kedalam agama Yahudi dan Islam

December 4, 2008

bersambunga dari Penyerangan Mumbai….

Salah satu perbincangan singkat saya dengan James adalah mengenai mengenai perpindahan agama ke dalam agama Yahudi.

So, Samantha ingin menjadi seorang Jew?”

“Oh, kamu tadi berbicara dengan Sam? Yah, dia mau masuk agama Yahudi.” Dia melanjutkan, “Para rabbi itu (yang memanggil Samantha) betul-betul giving her a hard time?”

“Kenapa para rabbi itu harus mempersulit perpindahannya?”

James mulai menjelaskan, “Agama Yahudi itu tidak sama dengan Christian dan Islam yang sangat concern dengan meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya penganut Yahudi akan selalu menjadi minoritas pada diaspora mererka masing-masing. Nah, ketika ada seseorang yang ingin masuk agama Yahudi, dia akan diuji apakah benar-benar dia seorang Jew. Menurut kepercayaan, semua roh orang Yahudi, baik lampau maupun akan datang, telah hadir pada saat terjadinya perjanjian (covenant) di Gunung Sinai antara Tuhan dan bangsa Israel.”

“Jadi ujian yang diberikan kepada Samantha adalah untuk menguji apakah rohnya hadir pada saat perjanjian itu?”

“Yah kurang lebih seperti itu.”

“Apakah kamu juga memberikan Samantha ‘a hard time’ ?”

“Apa? saya?  Oh tidak, saya mencintai Samantha.”

“Tidakkah kamu ingin mengetahui apakah rohnya Samantha benar-benar ada di Mount Sinai pada waktu itu?” saya bertanya sedikit menyindir namun juga serius.

No…itu adalah tugasnya para rabbi.”

Penjelasan James berakhir disitu, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya mengenai conversion to Judaism bagi saya. Saya membandingkannya dengan proses masuk Islam seorang muallaf, begitu mudahnya, tanpa embel-embel, tanpa rintangan dan hambatan. Seseorang cukup mengucapkan shahadah ” ashadu an La ilah ha illa Allah, Muhammadan Rasulullah” dimana pun dan kapan pun dia inginkan. Sebenarnya tidak perlu di hadapan seorang imam apalagi restu seorang imam, atau dihadapan siapa pun. ini adalah urusannya dia dengan Allah. Sebenarnya orang yang menyatakan shahadah di hadapan orang sekedar sebagai bentuk pengumuman bahwa “hey, saya sekarang seorang muslim, oleh karena itu terimalah saya sebagai saudaramu, dan biarkanlah orang yang benci membencinya”; bukan untuk mendapat pengakuan atau persetujuan siapapun. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kata-kata prosesi “peng-islaman” atau “di-islam-kannya ” seseorang, sebagaimana seringnya disebut di negara kita, harus ditinggalkan jauh-jauh. Emangnya “pembaptisan”! Sepertinya kata ”ke-islaman” seseorang insyaAllah lebih tepat sebab ketika seseorang masuk Islam, orang itu sendiri yang menjadi “subyek”, dia yang in control; bukan “obyek”. Dia tidak “di-Islamkan” oleh siapa pun; dia “meng-Islamkan” dirinya sendiri dengan bimbingan dan hidayah oleh Allah SWT.

Yah, itulah keunikan Islam, yaitu iman adalah haq dasar (fitrah) sejak lahir dan ia adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi yaitu hubungan pribadi antara tiap-tiap individu dengan Penciptanya Allah SWT! Oleh karena itu yang menyaksikan, yang memberikan petunjuk, yang menetapkan, yang memaklumkan, yang mem-pass atau meng-approve  keimanan seseorang adalah yang menciptakan orang itu yaitu Allah SWT! Tidakkah itu sudah cukup?

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu….. (Al Anam: 19)

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”  (Al Isra : 96)

“Inna Allah ‘ala kulli shain shaheed” (sesungguhnya Allah maha menyaksikan segala sesuatu).

Suatu waktu, insyaAllah, saya harus memberi tahukan ini kepada Samantha, tentang keterbukaan dan kemudahan yang ditawarkan Islam. Saya tidak tahu seberapa keras “hard time” yang harus dia lalui untuk masuk agama Yahudi, tapi satu setengah tahun sepertinya waktu yang cukup lama untuk mendapatkan “pengakuan” ke-Yahudiannya. Dan kalau sampai dia atau siapapun yang ingin masuk Islam ingin diuji keimanannya, maka don’t worry, Allah SWT inysaAllah akan memberikan semua ujian yang kamu inginkan:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah: 214).

 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 29)

SubhanaAllah, Ya Allah kuatkan hati kami dalam menghadapi cobaan yang engkau berikan kepada kami…

Wallahu a’lam bissawab….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.