Professor Pijawka berdiri didepan kelas menerangkan kepada mahasiswa beberapa konsep urban sustainability kepada kami. Para mahasiswa duduk berjejer dalam tiga baris dibelakang meja masing-masing. Ruangannya sedikit dingin, karena AC sentral yang berhembus dari ventilasi yang tergantung pada langit-langit ruangan. Tiba-tiba salah satu mahasiswi yang sedang duduk pada deretan paling depan – kalau tidak salah namanya Jesicca – mengeluarkan sebuah lunch box, kemudian mulailah ia makan hidangan dinner-nya dengan lahap, sambil mendengarkan penjelasan professor Pijawka. Mungkin saya saja dalam ruangan yang memperhatikan Jesicca dari belakang, bagaimana ia makan dengan lahapnya. Saya tahu bahwa memperhatikan seseorang makan tidaklah sopan, hanya saja saya tidak dapat berhenti memikirkan kebiasaan yang lazim ini dari para mahasiswa US: makan di ruangan kelas!
Satu contoh lagi, kadang para mahasiswa di ASU (Arizona State Univeristy) berada dalam diskusi untuk sebuah group project, kemudian di tengah-tengah diskusi tiba-tiba salah satu diantara teman group – tanpa permisi, tanpa meminta maaf, apalagi menawarkan – mengeluarkan sandwich dan langsung menikmatinya sendiri…!
Seorang teman, Aron, pernah bertanya kepada saya, “Apa salah satu cultural shock yang paling besar yang kamu rasakan disini?” Saya jawab, “makan di kelas..!” Tanpa penjelasan yang panjang lebar saya katakan, “I just can’t do it, no matter how hungry am, I just cannot and will not do it. I’d rather eat before or after class.”
Di Indonesia, ketika kita hendak makan, adalah sebuah kebiasaan sopan santun untuk memanggil dan mengajak teman atau orang-orang yang berada di dekat kita untuk ikut makan walaupun sekedar basa-basi. Makan di dalam budaya Indonesia adalah sebuah ritual yang sangat sakral dimana ia merupakan sebuah kesempatan bagi kita untuk berbagi, bertenggang rasa, dan bersyukur kepada Yang Memberikan kita makanan yaitu Allah Azza wa Jal. Saya sangat bersyukur bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia masih mempertahankan budaya kekeluargaan ini, dan tidak mengekor pada budaya individualistis yang ada pada mahasiswa Amerika. Dan inshaAllah tetap dilestarikan.
Apakah etika sopan santun kita mengenai makan memang built-in sebagai orangr Timur atau mungkin faktor ketaatan kita kepada agama? Allahu a’lam. Yang jelas, kita sebagai orang Islam wajib mengetahui bahwa urusan makan-makan memang mempunyai kedudukan yang sangat penting. Kata makan di dalam Al Quran terdapat sebanyak kuang lebih 40 Kali (Sheikh Ahmad, Imam Masjid ICC Tempe). Salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah selalu menempuh jalan kebaikan yang “mendaki” yaitu memberi makan pada kepada orang yang membutuhkan (Quran Al Balad: 14). Sebaliknya, orang kafir selalu digambarkan sebagai orang yang tidak suka memberikan makan. Bahkan dalam Surah Yasin, jawaban mereka sangat “kurang ajar”, dengan mengatakan seolah-olah mengatakan “itu urusan Allah”:
Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.” (Quran Surah Yasiin: 47)
Para Sahabat radiallahuanhum, dikarenakan ketaqwaan mereka dan karena urusan makan-makan ini, memperlihatkan suatu akhlak yang mulia yang mana Allah Azza wa Jal memuji sikap mereka dan mengabadikannya di dalam Al Quran:
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (Quran Al Insan: 8-9)
Latar belakang turunnya (asbabun nuzul) ayat ini berkaitan dengan perang Badr. Ketika perang usai, para Sahabat radiallahuanhum menawan beberapa musyrikin mekah dan membawanya ke Madinah. Dalam masa tahanannya, para tawanan diberikan makanan oleh para Sahabat walaupun para Sahabat juga membutuhkan makanan itu. Sikap ini ditanggapi oleh para tawanan musyrikin dengan mengatakan, “Kalian adalah penawan yang paling baik yang pernah kami temui.” Para Sahabat, dalam ayat tersebut diatas, bahkan tidak menuntut ucapan “terima kasih” dari para tawanan melainkan “hanya” mengharapkan keridhaan dan pertemua dengan Allah Azza wa Jal. SubhanaAllah!
Bagaimana pula sikap Nabi Ibrahim ‘alaihisalam masalah makanan? SubhanaAllah, Nabi Ibrahim ‘alaihisalam yang digelari oleh Allah Azza wa Jal khalil-ul-Allah adalah jagonya! Bukankah hal yang pertama Nabi Ibrahim ‘alaihisalam lakukan ketika para tamu (para malaikat) datang kepadanya adalah memberikan makan (Quran Surah Adz Dzaariat: 27)
Al kisah pulan Nabi Ibrahim ‘alaihisalam selama hidupnya tidak pernah makan sendiri…! Ketika Ia ‘alaihisalam hendak makanan tetapi tidak ada orang untuk menemaninya untuk makan, maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan keluar untuk mencari seseorang untuk menemaninya makan dan tidak akan kembali sampai ia ‘alaihisalam menemukan seseorang.
Didalam sebuah lecture series, Sheikh Riyadul Haq (seorang sheikh asal Inggris) menjelaskan tinkat ketelitian Imam Bukhari dalam menyaring kesahihan hadiths-hadiths yang ia kumpulkan. Ketika Imam Bukhari melakukan cross examination super ketat kepad para perawinya, al kisah Imam Bukhari tidak akan menerima qualifikasi seorang perawi seandainya si perawi itu dilaporkan memiliki kebiasaan makan sendiri di pinggir jalan tempat dimana orang berlalu lalang…!
Begitu tingginya standar akhlak Nabi kita, para Sahabat, dan para imam terdahulu (salafussalih) mengenai makanan. Makan dalam Islam memiliki kaidah tersendiri: tempat, waktu, dan pelaksanaan. Bukanlah pula jumlah yang menentukan, tetapi makan bersama adalah yang membawa keberkahan sekalipun jumlahnya sedikit. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadiths :
“Makanlah bersama dan janganlah berpisah, Makanan untuk satu orang cukup untuk dua dan …” Muslim 2059 , Musnad Imam Ahmad 13810, Tirmizi 1820 , ibn Majah 3254.
Mari kita makan ramai-ramai, duduk bersama, bersyukur kepada Allah Azza wa Jal, inshaAllah makanannya cukup untuk semua. Amin.
