Islam: Agama berikut di Amerika?

 Amerika Serikat mulanya adalah surga bagi pelarian ummat Kristiani. Namun agama apakah sekarang yang cocok untuk para zeitgist? Jawabannya mungkin saja adalah Islam

Warga Amerika condong memiliki pemahaman bahwa negaranya adalah sebuah negara Kristen. Bukankah para peziarah (para zeitgist) awalnya datang ke sini untuk mempraktekkan kekristenan mereka? Bukankah orang Kristen sangat menghargai kehidupan di bawah naungan Tuhan dan kebebasan, memperkuat nilai-nilai demokratis dan kapitalis mereka?

Memang benar. Namun, sekarang ada sebuah agama baru “on the block”, suatu agama yang sangat cocok bagi para zeitgeist. Agama itu adalah agama Islam.

Islam adalah agama ketiga terbesar dan komunitas keagamaan yang paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor imigrasi. Lebih dari 50 persen dari 6 juta warga Muslim Amerika merupakan kelompok yang lahir di Amerika. Indikasi statistik seperti ini memperlihatkan adanya hubungan erat antara nilai-nilai dasar warga Amerika dengan ajaran dasar agama Islam. Warga Amerika yang berani membuka hati dan meneliti sendiri, menjauh dari steriotip popular tentang Islam selama ini, di buat tercengang dengan menemukan banyaknya kesamaan nilai dan ajaran dasar itu. Apakah Amerika akan segera menjadi negara Muslim? Berikut adalah tujuh alasan kenapa jawabannya mungkin saja benar.

1. Islam adalah agama monotheistis. Orang Islam menyembah Tuhan yang sama yang disembah orang Yahudi dan Kristen. Islam juga memiliki nabi dan rasul yang sama seperti Yahudi dan Kristen, dari Nabi Ibrahim, nabi monotheist pertama; Nabi Musa, sampai ke Nabi Isa (Jesus) – dan termasuk pula Nabi Nuh, Yakub, ataupun Isaiah. Konsep dari budaya Judeo-Kristen baru muncul pada tahun 1940an di Amerika. Sekarang, sebagai sebuah negara, sangat mungkin kita semakin bergerak kearah tersebut, berpindah menuju pandangan “Abrahamic” yang lebih inklusif

2. Islam memiliki nilai-nilai demokrasi. Islam mengajarkan adanya hak untuk bersuara dan berpendapat, mendapatkan pendidikan dan memiliki penghidupan atau sebuah profesi. Al Quran, yang merupakan sumber ajaran dan hukum Islam, menganjurkan orang Islam untuk melaksanakan pemerintahan atas dasar diskusi dan konsultasi. Di Masjid, tidak ada hirarki kependetaan. Di dalam Islam setiap pribadi bertanggung jawab terhadap diri masing-masing. Setiap pribadi berdiri sejajar di hadapan Tuhan. Kebanyakan warga Amerika yang mengaitkan pemerintahan Islam di negara-negara Islam dengan system tiran, menemukan konsep kesejajaran ini dalam ajaran Islam ini sangat jauh dari kenyataan. Memang hal ini sangat jauh dari kebenaran. Para diktator yang sedang berkuasa di negara-negara Timur Tengah bukanlah hasil dari ajaran prinsip Islam. Mereka lebih merupakan hasil dari situasi ekonomi global dan sisa-sisa peninggalan kolonialisme Eropa.

3. Islam memiliki tradisi spiritual yang sangat menarik. Spiritualism disini adalah adanya dorongan untuk mencari dan kembali kepada Tuhan. Amerika sebenarnya merukapan tanah para pencari spiritualisme. Sangat mengherankan, salah satu kumpulan puisi best-seller di Amerika adalah, puisi kumpulan Rumi, seorang Muslim asal Persia 800 tahun yang lalu penemu tariqat Mevlevi, yang lebih dikenal di Barat sebagai Whirling Dervishes.

4. Islam memiliki nilai-nilai egalitarian. Dari New York sampai California, satu-satunya tempat ibadah yang secara rutin terintegrasi kedalam masyarakat adalah masjid-masjid yang sampai sekarang berjumlah sekitar 4,000an. Hal ini disebabkan karena Islam berlandaskan kemasyarakatan, terutama kalau urusannya adalah berdiri di hadapan Tuhan. Pledge of Allegiance (Janji setia warga Amerika) yang menyatakan adanya satu negara di bawah naungan Tuhan dan Pidato Gettysburg Lincoln yang menyatakan setiap manusia diciptakan sama, mengekspresikan tema-tema yang sama terdapat di dalam ajaran dasar Islam.

Islam sering dipandang sebagai agama yang agresif karena adanya ajaran Jihad, namun sebenarnya kata ini adalah kata yang paling sering disalahartikan. Karena orang Islam percaya bahwa Tuhan menghendaki keadilan, maka mereka cenderung manjadi aktivist kepada gerakan tersebut, dan mereka percaya pula bahwa setiap pribadi memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan. Inilah alasan kenapa warga kulit hitam Amerika menjadi sangat tertarik masuk kedalam Islam. Mereka kini mewakili sepertiga jumlah warga Muslim di Amerika.

Ajaran egalitarian ini menaungi baik lelaki maupun wanita. Muhammad (saw), utusan Tuhan dalam ajaran Islam, sebenarnya adalah seorang reformist pada masanya. Atas dasar perintah Al Quran, beliau (sawa) justeru membatasi jumlah istri yang boleh dimiliki seorang lelaki dan memberikan persyaratan yang sangat khusus dan ketat bagi yang berniat berpoligami. Al Quran memberikan hukum-hukum pernikahan yang memberikan jaminan kepada wanita untuk tetap menggunakan nama keluarganya, hak kepemilikan atas harta, hak menentukan pasangan hidup, dan hak untuk mengajukan perceraian. Pada masa awal Islam, para wanita memiliki profesi dan menjadi tuan tanah, sebagaimana lazimnya sekarang ini. Kenyataan-kenyataan ini tidak terlihat jelas bagi kebanyakan warga Amerika disbabkan adanya pengaruh budaya yang sering sekali membuat Islam menjadi agama yang seolah-olah sangat represif terhadap kaum wanita. Namun, dengan melihat secara seksama, akan mereka dapat menyadari ajaran egaliter ini yang masih terpelihara di dalam Al Quran. Di Iran misalnya, terdapat lebih banyak wanita yang belajar di Universitas daripada kaum lelaki, dan pada pemilu yang baru saja dilaksanakan disana, terdapat kurang lebih 5,000 wanita yang menjadi calon legislatif.

5. Islam memiliki ajaran yang sejalan dengan trend baru warga Amerika yaitu kebersihan makanan dan aturan diet. Warg Muslim melaksanakan satu bulan puasa dalam bulan suci Ramadan, suatu cara hidup yang banyak warga Amerika kagumi bahkan mencoba untuk mengikuti. Warga Muslim pula memiliki hukum-hukum diet yang mengatur macam daging yang boleh dan tidak boleh dimakan. Aturan ini menyatakan bahwa daging yang dibolehkan, yakni daging halal, disediakan melalui suatu cara yang menekankan prinsip kebersihan dan kemanusiaan terhadap binatang sembelihan. Aturan ini berjalan di suatu dasar yang membuat makanan organik semakin populer.

6. Islam sangat toleran terhadap agama lain. Sebagaimana halnya Amerika, Islam memiliki sejarah toleransi terhadap agama lain. Pada masa hidup Muhammad (saw), orang-orang Kristen, Sabiin, dan orang Yahudi yang hidup di tanah Muslim mendapatkan hak otonomi yang cukup besar. Ketika Islam menyebar ke arah timur, ke India dan China, agama Zoroastrian, Hindu, dan Buddhisme juga mendapatkan perlindungan yang serupa. Ketika Islam menyebar ke arah utara dan barat, agama Yahudi justeru yang paling diuntungkan. Warga Yahudi akhirnya dapat kembali ke Yerusalem setelah lama terlunta-lunta di pengembaraan hanya ketika Islam menguasai kota Yerusalem pada tahun 638 M. Hal pertama yang dilakukan orang Muslim pada waktu itu adalah menyelamatkan Temple Mount, yang pada waktu itu telah dijadikan tempat pembuangan sampah.

7. Islam mengajarkan kebebasan beragama. Para peziarah yang di di Plymouth Rock bukanlah cerita pertama mengenai emigrasi keagamaan. Muhammad (saw) dan pengikutnya yang berjumlah kurang lebih 100 orang meninggalkan pula penindasan keagamaan yang mereka alami, dari Mekah pada tahun 622 M. Mereka menyelamatkan diri dengan berhijrah ke Madinah, suatu oase yang terletak beberapa ratus kilometer kearah utara, dimana mereka mendirikan sebuah komunitas yang berdasarkan suatu agama yang hanya dapat mereka laksanakan secara terbatas dan tertindas ketika mereka masih berada di tanah kelahiran Mekah. Pantas saja, pada masa sekarang ini, terdapat banyak Muslim yang datang ke Amerika sebagai alternatif dari ketertindasan yang mereka alami di negara asal, seperti Kashmir, Bosnia, dan Kosovo, dimana menjadi seorang Muslim di daerah-daerah ini mengalami banyak kezaliman. Jika daftar emigran abad ke-20 dijumlahkan, akan terlihat jelas bahwa emigran Muslim memang sangat banyak.

Siapa tahu saja, mungkin tidak lama lagi bahwa kata-kata seperti “salat” (ibadah lima kali sehari seorang Muslim) dan “Ramadan” akan sangat lazim terdengar dan semakin lazim ditemukan di dalam kamus Webster’s sebagaimana kata “karma” dan “nirvana”, dan warga Muslim akan mendapatkan tempat khusus di dalam kehidupan arus utama Amerika Serikat.

(oleh Michael Wolfe, 2001, diterjemahkan dari http://www.ahmed-deedat.co.za)

Michael Wolfe adalah seorang sastrawan, penulis, and Presiden dan Executive Producer perusahaan media Unity Production Foundation. Beliau sering menjadi pembicara masalah studi Islam di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Melalui aktivitasnya pada media, dia telah memproduksi dua film dokumenter tentang Islam: “Hajj from Mecca” dan “Muhammad: Legacy of a Prophet” – kedua dokumenter tersebut mendapatkan sambutan yang cukup luas dan positif.

Penyerangan Gaza, Tahun baru dan Solusi buat Ummat Islam

Hari kelima penyerangan terbesar Israel dalam kurun waktu 40 tahun terhadap warga Palestina di Gaza telah menelan 380-an korban dan seribuan lainnya luka-luka (radio BBC, 31 Desember 2008); hanya Allah SWT yang tahu sampai mana batasnya. Rasanya sedih dan frustrasi sebab tidak bisa berbuat apa-apa…helpless. Saya terus mencari update berita dari berbagai sumber, dan apa yang dikatakan oleh para tokoh-tokoh muslim, terutama yang vokal dan “militant” seperti Anwar al Awlaki dan Sheik Faisal (masing-masing sudah pernah ditahan karena “ke-militansiannya” dan masing-masing telah dideportasi ke negara masing-masing karena alasan yang sama; Anwar kembali ke Yaman, dan Faisal ke Jamaica). Keduanya masih pada pendirian fatwanya untuk retaliate dengan rudal-rudal yang ditujukan ke pemukiman Yahudi, “an eye for an eye, a tooth for a tooth,” atau Qisas. Wallahu a’lam.

Ummat Islam lainnya ada yang melakukan demonstrasi. Yel-yel para demonstran di NYC: “Bombs are dropping, why are you shopping!” – suatu slogan yang sangat tepat agar ummat islam bangun, benar-benar bangun! kutukan dan kecaman dikeluarkan dimana-mana. Di Facebook ada berbagai ajakan untuk bergabung menjadi “fans” dalam kelompok semisal “Symphathize with Gaza” (sudah mencapai 13,840 fans), “Let’s Collect 500,000 signitures to Support the Palestinians in Gaza” (19,089 members), “Crisis in GazaPlease Add Your Name to The Link Provided” (2,585 members), “Save the 1,5 Million People in Gaza” (1,814 members), “Stop Gaza Slaughter” (1,586) (pertanggal 31 Desember 2008).

Namun adakah solusi yang lebih tepat dari semua ini? Kalau sekedar demonstrasi…sampai sejauh mana efektifitasnya berteriak-teriak di depan kedubes atau kantor-kantor asing? Apakah kita berpikir bahwa mereka pada akhirnya luluh hatinya karena kita telah berjam-jam berteriak-teriak? Begitu halnya dengan kutukan-kutukan. Apakah kita berpikir bahwa mereka akan merasa malu hanya sekedar dikutuk? Dan begitu pula pengumpulan 1 juta tanda tangan, keanggotaan, atau dukungan di Facebook atau Friendster dan semacamnya, hasil apakah yang akan dicapai?

Saya tidak menafikan usaha para brothers and sisters sedunia dengan berbagai caranya, insyaAllah balasan ada pada Allah, namun rasanya seharusnya ada sesuatu yang lebih efektif…sesuatu yang harus lebih diutamakan. Sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mungkin wasiat kutbah terakhir Rasulullah (saw) adalah jawabannya. Yah, inilah seharusnya jawabannya:

“Sesunguhnya, aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikut kedu-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, Itulah Al-Quran dan Sunnahku. hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikannya kepada orang lain, dan hendaklah orang lain itu menyampaikan pula kepada yang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang mendengar langsung dariku.”

Coba perhatikan betapa kuatnya kata-kata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam: yang tidak mendengar langsung dari Rasulullah harus lebih memahami pesan tersebut daripada yang mendengar langsung…!

Oleh karena itu semua para lelaki muslim harus memenuhi shaf-shaf di masjid, buktinya masjid tidak sepenuh apa yang seharusnya. Konon, seorang petinggi Israel pernah mengatakan, “Kami tidak akan berhenti menyerang Palestina hingga shalat lima kalinya ummat Islam di masjid-masjid mereka, penuhnya bagaikan penuhnya pada salat Jumat” - mereka mengaku sendiri bahwa kita harus kembali ke Sunnah.

Para akhwat  pula harus menutup aurat, memakai jilbab. Aneh sekali melihat banyaknya muslimah Gaza supporters di Facebook dan para demonstran menampakkan aurat! Bahkan bisa jadi dosa kita inilah yang menyebabkan fitnah terhadap ummat Islam….yah, sangat mungkin. Kalau berpegang pada Al Quran dan Sunnah adalah solusi yang diberikan kepada Ummat Islam oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, yang sekaligus akan memuliakan Ummat Islam, maka logika terbalik mengatakan meninggalkannya adalah kehinaan bagi Ummat Islam. Marilah kembali kepada Al Quran dan Sunnah, maka insya Allah kehinaan dan fitnah yang melanda ummat Islam zaman ini akan diangkat oleh Allah SWT.

Kemudian marilah kita meminta kepada Yang Maha Mendengar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Adil. Wahai Ummat Islam para pendukung Obama, yang mengkampanyekan Obama, yang memilih Obama, yang merayakan kemenangannya; dimana Obama-mu sekarang? Kalian merayakan kemenangan Obama bagaikan dialah solusi permasalahan kita. how low can we go…?

Sekarang sudah sore hari, tanggal 31 Desember di Kota Tempe, jalan-jalan sudah mulai ramai, becak ala Tempe sudah berkeliaran, meriam sudah berdentuman dan kembang api sebentar lagi akan menghiasi langit Tempe. Sudah berapa kali saya ditanya tentang rencana saya untuk malam Tahun Baru nanti malam itu apa. Saya jawab, “No, I don’t celebrate the New Years.” Dalam hati, saya hanya melanjutkan dengan tegas, “karena itu bukan Sunnah Nabiku sallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan khusus untuk Tahun Baru nanti ini, saya insya Allah akan tidur lebih awal, selepas salat Isya, untuk mengikuti Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam…!

Relakah kita bersorak sorai, meniup terompet, menyambut tahun baru ketika saudara-saudara kita sementara di bom…!? Naudzubillah…!Tidak, no thank you, saya lebih memilih untuk mengangkat tangan ber-Qunut Nazilah untuk saudara-saudara Muslim di Gaza dan kehancuran Israel, insya Allah.

 

 

 

Wallahu a’lam bissawab.

 

 

Sahabat yang terbaik

Berpuasa di tengah-tengah orang Amerika bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang asing di negeri orang asing. Dan salah satu kesedihan itu adalah karena 2 mata kuliahku yang mulai sore sampai malam, pas bertepatan dengan buka dan shalat maghrib sehingga saya tidak bisa iftar dan berjamaah maghrib dengan brothers and sisters di Tempe Mosque sebagaimana tiap hari saya programkan.

Suatu siang di puasa kedua bulan Ramadhan 2008, Natalia, teman kelasku dari Indonesia yang tidak berpuasa karena dia seorang kristen berkata, “Bar, sepertinya kamu satu-satunya orang yang puasa di kelas.”

“Mungkin juga tidak,” jawabku. “Pertemuan minggu lalu ketika perkenalan, kalau ngak salah, ada orang Afrika namanya Abdullah. Tau ngak, itulah nama yang Islam banget, bukan Muhammad, Ali, atau Akbar, karena itu artinya Abdi Allah – Hamba Allah.”

“Yah, itu cuma nama doang, bisa jadi dia ngak practicing.”

Sore harinya, Abdullah membuktikan siapa dirinya sebenarnya. Ketika tiba waktu buka, dia keluar ruangan dengan membawa suatu bungkusan dan minuman, pas ketika saya membuka kaleng sodaku untuk berbuka. “Ah, dia juga berbuka tapi diluar ruang kelas, kalau saya disini aja.” Makan dan minum dalam kelas memang is no problem, bahkan pake sendal dan angkat kaki di kursi tidak apa-apa.

5 menit kemudian ketika kelas jeda selama 10 menit sebelum melanjutkan sesi kedua, Abdullah menghampiriku. “Hey, have you break the fast?”

“Yeah, I had my soda here in the class.”

“Yeah, I did too. I found a place to pray. It’s in the other class. The class is empty, so if you got a sheet of paper, you can use that for your sujud.”

“That’s great, lets do Maghrib together.”

“No, I’ve prayed already but I’ll show you the room.”

Subhan Allah. Pantas saja Abdullah keluar kelas. Dia tidak hanya berbuka, tapi juga shalat maghrib. Saya yang tadinya memutuskan untuk menjama’ shalat saya di waktu Isha setelah kuliah, akhirnya shalat di ruangan kelas sebelah itu dengan beralaskan kertas kosong, tempat Abdullah shalat sebelumnya.

Adalah teman-teman seberti Abdullah yang kita butuhkan, selalu mengingatkan dalam Dien, ketika kita mulai melemah. Saya tidak terlalu kenal Abdullah, tapi sekarang saya bisa katakan dengan mantap bahwa dia adalah hakikat teman yang terbaik!

“What if you could focus on the things that really matter?”

Begitu selesai salam, imam yang tadinya khatib Jumat, mulai mengambil mic. “Brothers and sisters, we will start with 10,000 dollars.  Who can give me 10,000 dollars? Jannah is waiting for you. Invest your money with Allah. Whose promise is better than Allah? Don’t let syaitan remind you of poverty! Syaitan is your enemy. Do you want to listen to your enemy? 10.000 dollars…?

Tiba-tiba salah satu jamaah dari shaf ketiga mengangkat tangan. Imam menyahut, “Takbir,” yang disambut oleh jamaah lain serempak mengucapkan “Allahu Akbar,” dengan lembut, jangan salah, tidak dengan gaya “Allahu Akbar”-nya Amrozi di pengadilan. “JazakaAllah khairan akhi. Anybody else, 10.000 dollars…? This mosque will be seen from the 101 highway. Brothers…?

Ok, 5.000 dollars. Sisters at the back, why are you so quiet? We know your hiding something,” Imam berusaha menyelingi dengan canda, tetapi kemudian serius lagi dengan mengucapkan ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan menafkahkan hart, “…and those who spend their wealth in the cause of Allah…

Begitulah cara ‘pelelangan amal’ jumat lalu di Masjid Tempe yang sangat gencar karena kegiatan dawa di Tempe, Arizona, yang memang harus di danai oleh jammaah sendiri. Angkanya biasa mulai dari 10.000 dolars atau bahkan 20.000 kemudian turun 5.000, 2.500, 1.000, sampai 100 dolars. Minggu sebelumnya, ada penawaran pembelian tiket 25 dollar untuk seminar James Yee, pengarang For God And Country: Faith and Patriotism Under Fire sekaligus fund raising, dan jumat ini ada penawaran serupa dari Islamic Relief untuk mensponsori anak-anak yatim di Afganistan dan Irak. Satu anak 50 dollar per bulan untuk satu tahun.

img_4493

What if you could focus on the thing that really matter? adalah slogan iklan suatu produk yang caught my attention di troli bag ketika transit di Changi airport en route ke San Fransico. Yah… benar, walaupun slogan iklan tersebut maksudnya lain oleh yang mengiklankannya yakni untuk mempromosikan produk dagangannya, namun kalau kita benar-benar memikirkannya, sangat sahih begitu banyak waktu, tenaga, dan dana kita sia-siakan untuk hal yang tidak penting seperti junk burger, junk soda, junk music, junk TV shows, junk clothes…

Hari ini, teman saya, Burhan memiliki cara sendiri perihal slogan tersebut. Burhan adalah brother masjid yang berasal dari Dammam, Saudi, mengambil Master degree-nya dibidang elektronika, di ASU. Tiap hari say bertemu dengannya di Masjid ketika shalat.  Dia biasa datang ke masjid mengendarai mountain bike-nya, atau datang naik bus Orbit, atau dua-duanya (sepeda disini bisa dinaikkan ke atas bus).

Suatu malam, selesai tarawiyah, sekitar jam 10.30 pm, dalam perjalananku dari masjid ke apartemen naik sepeda, saya melihat Burhan berjalan bersama istrinya sambil menggendong anaknya. Dia juga pulang dari masjid. Rumahnya berjarak sekitar 3 km dari masjid. Rupanya dia tidak dapat bus karena bus Orbit hanya sampai jam 10.00 malam. Memang malam itu, pada shalat witir, doa qunut-nya panjang sekali sehingga jamaah pulang sedikit telat.

Saya bertanya pada diri sendiri, “Why doesn’t Burhan just get a car?” Di Tempe semua orang punya mobil, apalagi kalau ada istri dan anak. Harga mobil tidak seberapa. Memang mobil disini sekedar alat transportasi dan bukan identitas status. Pak Michael tetangga saya yang juga mahasiswa asal Indonesia membeli mobil di tempat pelelangan seharga 500. Apalagi Burhan sering membawa istri dan anaknya ke Masjid, mobil bisa lebih santai buatnya ke masjid. Hidup di Tempe, Arizona bersama anak dan istri dengan panas bisa mencapai 45 derajat Celsius pada musim summer bisa sangat repot tanpa mobil.

Apakah Burhan tidak memiliki dana untuk membeli mobil? Tentu tidak, dia di biayai oleh pemerintah petro dolar Saudi untuk pendidikannya disini. Mungkin Burhan tidak tahu menyetir? Atau dia lebih memilih hidup environmentally friendly dan sustainable dengan tidak menambah polusi karbon? Tetapi hari ini dan minggu lalu dia selalu angkat tangan menanggapi tawaran imam. Minggu lalu dia ‘membeli pelelangan’ seharga 1000 dolar untuk pembangunan masjid baru di Phoenix dan hari ini dia juga angkat tangan untuk mensoponsori anak-anak yatim Afganistan dan Irak – hanya Allah yang tahu berapa anak yatim yang dia sponsori. Apapun alasannya kenapa Burhan tidak membeli mobil (yang menjadi pertanyaan tersendiri buatku) buat kesehariannya di Tempe, tapi insya Allah, Burhan telah focusing on the really important issues yaitu Jannatun tajeri min tahtihal anhar (Surga yang di bawahnya mengalir Sungai).

Wallahu a’lam bissawab.

Encounter seorang muslim Indonesia dengan 9/11 Truth Movement of Arizona

Tanggal 20 hari Sabtu kemarin saya menghadiri pemutaran film dan diskusi di Murdock Hall, ASU mengenai peristiwa 9/11 dalam rangka memperingati 7 tahun kejadian yang sangat menggemparkan Amerika – dan dunia. Diskusi ini ternyata diadakan oleh 9/11 Truth Movement, suatu kelompok dan gerakan yang menentang teori arus utama mengenai penyebab dan detail kejadian penyerangan WTC yang di teribitkan oleh The 9/11 Commission Report.  Sangat menarik bukti-bukti scientifik yang mereka paparkan untuk mendukung claim mereka. Film-film yang diputar adalah: “September 11 Revisited,” “Pretext,” dan sebuah film lecture “The Destruction of the WTC.” Inti dari teori atau pendaat mereka (911 Truth Movement) adalah bahwa 9/11 adalah pekerjaan ‘orang dalam’ dan bahwa Osama bin Laden sama sekali tidak terlibat. 9/11 Truth Movement di Arizona ini bahkan menawarkan 10,000 dollar prize money melalui iklan satu halaman penuh di koran lokal bagi yang bersedia menyimak bukti-bukti mereka sekaligus menentangnya ( www.911wehavetheevidence.com ).

Namun yang menarik dari diskusi tersebut, adalah diskusi itu menjadi semacam observasi sosial bagi saya. Di akhir diskusi itu, tanya jawab dan komentar menjadi ‘ajang curhat’ di antara mereka. “My co-workers at my office hates me for believing in ‘the conspiracy theory’,” kata satu. “My wife thinks I’ve gone crazy,” “They think we are traitors,“After years of denial, I had to wake up.” “I feel I want to shut my eyes to the videos, but if it’s the truth…”  Itulah sebagian curahan hati mereka, salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat yang membentuk the American society; dalam hal ini mereka mewakili kelompok marginal. Namun walau mereka menjadi orang-orang yang termarginalkan, mereka masih punya semangat untuk menginformasikan public Amerika terutama kawan-kawan terdekat mereka: “Do you have any more of these brochures, I’d like to show them to my friends at work?” 

Sebagai orang awam dan orang yang baru saja mendarat di Amerika dan  melihat dan mendengar langsung suka duka mereka, saya sangat tercengang dengan semua informasi yang baru ini terutama mengenai pendapat mereka tentang ketidakterlibatan Osama bin Laden. Ketika sesi tanya jawab, saya sempatkan untuk mempertanyakan masalah ini: “Saya adalah seorang Muslim dari Indonesia, dan selama ini, kami  telah terbebani dan banyak mengalami diskriminasi untuk menjelaskan bahwa Islam bukan agama teroris. Saya sangat menghargai bahwa anda mengatakan bahwa Osama tidak terlibat, tetapi apakah memang benar-benar dia tidak terlibat? Bagaimana dengan rekaman pengakuan Osama dan keterlibatannya pada serangan WTC tahun 1993?”

Mike, pembicara utama dan host pada waktu itu, menjelaskan bahwa informasi ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, justeru sangat lazim kalau dilihat dari sejarah imperialism Amerika Serikat. Ia mengatakan Amerika mempunyai banyak ”Pretext” (Pretext adalah  strategi untuk menyembunyikan tujuan atau niat sebenarnya). Mike mengatakan bahwa Pearl Harbor adalah salah satu pretext untuk melakukan pengeboman nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Ia mengatakan bahwa FDR (Franklin Delano RooseveltPresiden Amerika Serikat pada waktu kejadian Pearl Harbor) sebenarnya tahu kedatangan Jepang pada serangan tersebut, tetapi membiarkan – agar nantinya menjadi sebuah pretext. Untuk masalah ini, David Griffen telah menulis buku berjudul: 911 the next Pearl Harbor.

Kemudian Mike memintaku untuk meng-google ”Fatty bin Laden” atau me-youtube-nya. Fatty bin Laden adalah pelesetan nama Osama karena dalam rekaman ‘pengakuannya’, ‘dia’ terlihat sedikit fatty (gemuk) dari biasanya (baca: dari sebenarnya). Menurut pengamatan saya, setelah melihat langsung dari youtube Fatty bin Laden ini, memang sangat jelas bahwa itu bukanlah Osama bin Laden yang asli. Mike mengatakan bahwa dalam pengadilan mana pun di Amerika dan dalam kasus apapun, rekaman sekabur rekaman tersebut tidak akan pernah cukup menjadi alat bukti utama keterlibatan seorang suspect kejahatan, anehnya rekaman ini justeru telah dijadikan bukti utama keterlibatan Osama bin Laden.

Pertemuan ini memberikan kesan tersendiri. Bahwa saya dari Indonesia dan mereka warga negara Amerika, bisa sama-sama memiliki keprihatinan terhadap permasalahan ini, walau dari perspektif yang berbeda. Indonesia menjadi negara yang sangat merasakan dampak 9/11 terutama permasalahan sentimen keagamaan dan masalah keamanan. Travel warning, kesusahan aplikasi visa dan tuduhan teroris adalah apa yang kami alami. Concern mereka sebaliknya hanyalah demi kebenaran.

Pada akhir film ketiga: “The destruction of the WTC,lecture yang dibawakan oleh Dr. David Ray Griffen, seorang theolog, filosof dan salah satu aktivis 9/11 yang paling terkemuka di Amerika Serikat, kalimat-kalimat penutupnya memperlihatkan landasan dan semangatnya yang didorong oleh semangat keagamaannya. Beliau mengingatkan warga Kristen Amerika bahwa ajaran dasar Yesus (Nabi Isa alaihi salam) adalah anti imperialisme…..

Wal Allahu a’lam bissawab….

You are a looser living in a nonbeliever society, unless….

Ayman menelponku dari kamar gawat darurat, “Ali, saya akan sedikit lebih lama karena dokter belum datang. Bisakah kamu menungguku sedikit lebih lama.”

“Ok, Ayman, no problem, inysa Allah.”

Let’s just wait for Ayman in the car,” usulku kepada Omar. “He said he needs more time.”

Ayman, lelaki setengah baya, adalah brother dari Jordan dan sekaligus my roommate yang menempati ruang tamu di apartement Del Sol nomor 8. Malam ini, dia sakit gigi sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Untungnya – Alhamdulillah – ada Omar, brother dari Somalia yang telah menjadi US citizen, punya mobil, cukup established dan selalu menawarkan bantuannya kepada seorang ‘musafir’ seperti saya. Malam ini, tawarannya akhirnya dapat disambut dan bermanfaat dengan mengantar Ayman ke Rumah Sakit Chandler.

Saya dan Omar akhirnya memilih menunggu di mobilnya yang terparkir di parking lot, sebenarnya  sekaligus untuk suatu tujuan: melanjutkan mendengarkan CD ceramah kumpulannya Omar dari syekh yang dia kagumi, Syekh Sayyid Muhammad Ya’qubi. Belum pernah ada brother yang saya temui yang lebih banyak mengucapkan “Subhana Allah” daripada Omar. Alhamdulillah berada bersama Omar insya Allah ingat Allah terus. Dan Omar dan saya punya satu hal in common, yaitu mendengarkan Islamic Lectures. Omar senang sekali membagi-bagikan CD ceramah dari Syekh Ya’qubi ini kepada brother muslims di Masjid. Subhana Allah, begitu bermanfaatnya mendengarkan ceramah keagamaan sambil mengisi waktu daripada mendengarkan lagu-lagu Bon Jovi misalnya - naudzu billah.

Syekh Muhammad Ya’qubi adalah pembicara yang sangat fasih dan eloquent dan sangat menarik untuk didengar. Dia adalah seorang Syekh dari Syria dan sekarang berdomisili di London dimana dia melakukan kegiatan dakwahnya. Kali ini ceramahnya adalah tentang pentingnya dakwah, dan karena ceramahnya ada pada konteks masyarakat Inggris, dia menyampaikan satu pesan penting dengan mengatakan: “You are a looser living in a nonbeliever society….unless you do the dakwah”

Dasar dari argumentasinya ini memang adalah ijma atau concensus para ulama, yang didukung dengan berbagai ayat dan hadiths dan sejarah kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Dia mengatakan hidup kita ini memang semata-mata un untuk hidup secara syari beribadah kepada Allah Azza wa Jal, menjalankan syariah (cara hidup islam) sehingga harus selalu mencari tempat yang dapat mendukung kehidupan syari’ itu. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) dan para sahabatnya, hijrah ke Madinah walaupun harus meninggalkan dan mengorbankan segala harta, rumah, dan kekerabatan di Makkah pada waktu itu, untuk satu tujuan, membangun masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam. Zaman sekarang, justeru kebalikan: masyarakat Muslim dari negara berpenduduk mayoritas Muslim datang ke Western World, meninggalkan suara adzan dari banyaknya masjid yang tersedia di tanah air, sekedar untuk mengejar satu hal - dolar! Subhana Allah!

Pesan Ya’qubi ini sama dengan pesannya Bilal Philips pada suatu topik ceramah yang sama (Dakwah in the West) yang mengatakan, “Your dakwah justifies your staying in a predominantly nonbeliever society.”

Wallahu a’lam bissawab….

Ya Allah, please make us among those who are not  the loosers. Amin…

Berakhirnya “The Ahmadinejed Argument”

Teringat beberapa tahun lalu ketika saya ramai berdiskusi (mungkin lebih tepatnya berdebat) mengenai permasalahan Sunni-shia dengan beberapa kenalan shia, salah satu argumen yang sangat sering muncul dari mereka adalah kevokalan dan perlawanan Ahmadinejad kepada Amerika Serikat. Ahmadinejad memang beberapa tahun terakhir ini pada tingakt internasional telah menjadi ikon David (Nabi Daud) melawan Goliath (Jalut). Mereka (orang-orang shia) akan selalu mengatakan hal semacam ini: “Cobalah lihat bagaimana Ahmadinejad sangat berani dan keras terhadap Amerika….inilah shia, berbeda dengan para diktator, raja-raja, dan pangeran beberapa negara Arab yang notabene beraliran sunni.”

Tentu argumentasi ini sangat invalid, karena keimanan kita tidak didasari oleh pemimpin-pemimpin yang sedang berkuasa dan bagaimana sikap, akhlak, dan keimanan mereka. Saya tentu tidak menjadi ahlussunnah karena si raja ini dan pangeran itu adalah ahlussunnah. Begitu pula agama kita tidak didasarkan kepada agama orang-orang yang menjadi simbol perlawanan kezaliman. Apakah kita rela beragama dengan agamanya para pejuang kemanusiaan yang terkenal dalam sejarah, sebut saja Mahatma Gandi, Che Guevara, dan Martin Luther King hanya karena mereka adalah simbol-simbol perjuangan? Pada masa sekarang kepala negara Korea Utara (Kim Jong Il) dan Venezuela (Hugo Chavez) juga sangat sangat vokal kepada hegemoni Amerika Serikat. Apakah kemudian kita akan beragama kepada agama para kepala negara ini hanya karena kevokalan mereka terhadap Amerika? Tentu saja tidak. Kita beriman berdasarkan Al Quran dan Assunnah (Rasulullah), dan para sahabat yang telah berhasil menegakkan ajaran utama At Tauhid “laa ilah ha illa Allah” yang mana para penganut shia – percayalah – betapa pun sederhananya sama sekali tidak memahaminya.

Terbukti sekarang – dengan perlawanan rakyat Iran sendiri kepada autorcracy para Mullah dan pengorbanan hingga kini puluhan “Neda Agha-Soltan” – kekaguman kepada Ahmadinejad selama ini dan mengaitkannya kepada agama Islam hanyalah merupakan pendekatan emosional memahami Dien Al Islam yang suci ini dan tidak memiliki landasan yang kuat sama sekali. Sudah saatnya kita sadari bahwa revolusi iran ‘79 bukanlah representasi kebangkitan Islam, para ‘basiji’ bukanlah tentara Islam, dan autocracy para mullah dan Khomeini juga bukanlah Imam Islam, dan agama Shia sangatlah jauh dari Islam.  “Argumentasi Ahmadinejad” kini telah berakhir….

Wallahu a’lam bissawab.

Jangan Malu Katakan InshAllah

Kita hidup dalam suatu zaman dan lingkungan yang membuat kita sangat jauh dari pengakuan akan keberadaan Allah: dalam percakapan kita sehari-hari, di tempat kerja, ketika ke pasar, di lingkungan keluarga – bahkan, dan di lingkungan kampus. Ketika menyebut nama Allah atau mengasosiasikan sesuat dengan kekuasaan-Nya, maka sering orang-orang di sekitar kita seolah-olah akan membahasakan sikap: “Oh no, not God again.” (astagfirullah).

Hal ini sama dirasakan oleh produser Nathan Frankowski  dan host Ben Stein yang tahun lalu (2008) memproduksi film dokumenter independen “Expelled: No Intelligence Allowed.” Mereka menggambarkan suka duka beberapa professor dan ilmuan di beberapa lingkungan kampus US yang dipecat dari posisi mengajarnya hanya karena telah menulis, menyebut, atau mendukung teori Intelligent Design, yang merupakan oposisi langsung dari teori Evolusionis dan Darwinis. Kampus-kampus di Amerika, menurut film dokumenter ini, memang sedang dikuasi oleh kedua paham ateism terakhir ini.  

Sudah sedemikian dikuasainya kita ole ide-ide sekularisme dan ateisme, sampai-sampai kita pun sudah menjadi sangat minder dan menciut untuk berbangga membanggakan penyebutan kekuasaan Allah. Allah mengatakan dalam Al Quran: “…..fa qulu sh haduu bi anna muslimuun” (dan katakanlah (berbanggalah) bahwa saya sesungguhnay adalah seorang Muslim) (Surah Ali Imran: 64).

Oleh karena itu, hal yang paling tidak kita bisa lakukan untuk kembali membanggakan keberadaan dan kekuasaan Allah adalah melakukan beberapa penyetelan dalam tata cara berucap dan berkata kita. Misalnya, alangkah indahnya bilamana kita semakin sering menggunakan kata “inshaAllah” ketika kita berbicara dalam bentuk future tense. Ketika saya melamar pada program scholarship Fulbright tahun 2008, salah satu dokumen penting diterimanya aplikasiku itu adalah deskripis post-study plan.  Sebagai seorang Muslim yang inshaAllah ingin melaksanakan perintah Allah, saya sangat risih ketika saya mengatakan “I will” tanpa dibarengi dengan “inshaAllah”. Orang lain mungkin berpikir dokument post-study plan itu terlalu formal untuk diselipkan kosa kata inshaAllah apalagi yang membacanya mungkin saja orang Amerika yang sama sekali tidak paham artinya. Namun Alhamdulillah saya memutuskan untuk tetap menggunakannya. Alhamdulillah, sekarang saya sedang berada dalam tahun keduaku dalam program Fulbright.

Memang Allah telah mengatakan dengan jelas dalam Al Quran:

kahfi23-24

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”…(Al Quran Surah Al Kahfi 23-24).

Allah juga menggambarkan kepada kita cerita tentang pemilik-pemilik kebun dalam Surah Al Qalam dimana mereka berniat memetik buah-buahan di kebun mereka pada pagi harinya. Ketika mereka tiba di kebun, mereka mendapati kebun itu sudah hancur diliputi suatu bencana. Allah telah mengirim bencana tersebut karena kesombongan mereka dan karena mereka tidak berkata: “inshaAllah.”

al Qalam 17

Dan mereka tidak menyebut inshaAllah (Al Quran Surah Al Qalam: 18 – terjemahan Muhsin Khan). 

Kita sendiri semua pasti sudah mengalami saat-saat dimana perencanaan dan perhitungan sudah sangat matang namun akhirnya hasil yang keluar sangat jauh dari yang diharapkan. Lemah, begitu lemah kita semua; sombong, begitu sombong kita ketika menolak untuk mengingat bahwa Kehendak Allah diatas kehendak semuanya.

Di Dawa Table (Meja Dawa) kami di  kampus Arizona State University, saya pun Alhamdulillah sering menyebut inshaAllah ketika berbicara dengan pengunjung yang datang berdiskusi mengenai Islam. Saya katakana misalnya: “InshaAllah we will be here every Monday to Friday, 10.00 am to 2.00 pm. So, if you have some other questions, just feel free to stop by and have a little chat with us.” Kadang yang mendengar tidak terlalu memperdulikan apa yang saya omongkan. Dia berpikir munkin saya tadi berkumur-kumur. Tapi kadang ada juga yang bertanya, “What was that you said?” Saya jawab “Oh ‘inshaAllah’, it means ‘by the will of God’.”

Saya pernah katakan kepada temanku, Pablo, yang sering berkunjung ke Meja Dawa kami, “Apa kamu ingat film Rambo 3, pada bagian paling akhir film tersebut …. apa kamu ingat kata-kata terakhir si Sylvester Stallone dalam film tersebut kepada para mujahidin?” Pablo mengatakan tidak ingat sebab dia belum pernah nonton (waduh…kadang saya lupa bahwa saya sudah begitu tua dan para undergrad di sini masih begitu muda; mereka hidup pad zaman perfilman yang berbeda dengan saya). Saya katakan apa yang Rambo katakan: “inshaAllah..!”

Begitupun dengan beberapa kosakata dan ekpresi yang perlu kita semakin sering ungkapkan ketika kita berbicara – paling tidak dengan sesama Muslim – adalah kata-kata: Alhamdulillah, MashaAllah, SubhanaAllah (daripada “luar biasa”); Wa Allahu a’lam (daripada “saya tidak tahu”); dan JazakAllah khairan dan BarakaAllah (daripada “terima kasih”). Semua kata-kata ini subhanaAllah mengandung penyebutan asma Allah, dzikir kepada Allah, dan ibadah kepada Allah. Tidak ada hal yang paling memuaskan dalam hidup ini kecauli kesyukuran kepda Allah. Kata “terima kasih” misalnya; padanya, adakah penyandangan (acknowledgment) kepada Kekuasaan Allah serta doa dan harapan kepadaNya, ataukah ia hanyalah rangkaian semantik yang manis di bibir…?

Beberapa tahun yang lalu di Jalan Ratulangi terjadi tabrakan seorang pengendara motor. Wajah dan mulutnya berlumuruan darah dan dia pun tidak sadarkan diri. Masyarakat menghentikan sebuah pete-pete (mikrolet) untuk melarikan korban ke Rumah Sakit Labuang Baji. Hanya saya dan si korban berada di bagian belakang pete-pete dan sopir di depan. Korban terlentang di lantai pete-pete ketika tiba-tiba ia siuman. Wajahnya mulai bergerak-gerak dan ketika dia bisa mengeluarkan satu dua kata-kata, hal yang paling pertama ia katakan secara berulang-ulang adalah: “ Ya Malle” (bahasa Makassar: Oh ibu). Saya kasihan sekali dengan kondisi Bapak ini, bukan karena lumuran darahnya yang memenuhi wajahnya, tetapi karena ucapannya. Bagaimana seandanya di meninggal pada saat itu dan “Ya Malle”-lah menjadi kata-kata terakhirnya, wal yaudzuillah. (Wallahu a’lam apa yang terjadi pada Bapak tersebut setelah saya meninggalkannya di rumah sakit. Semoga Allah melindunginya).

Apakah penyebutan asma Allah telah menjadi kebiasaan di bibir kita? Kali lain, ketika kita naik pesawat dan terjadi sedikit turbulence, perhatikanlah… bagaimnaa first response kita? Apakah seruan asma Allah yang kita ucapkan… ataukah selain dari-Nya…(wal yaudzubillah)…?

Semoga penyebutan asma Allah benar-benar menghiasi kehidupan kita sehari-hari sehingga ketika tamu yang satu itu datang (kematian), dankedatangannya pun sudah sangat dipastikan, kata-kata terkhir kita adalah “Laa ilah ha illa Allah” …..inshaAllah.

Amin.

Siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika

Saya sangat bangga berjalan keliling kota Tempe berasama istriku tersayang: ke Mekong Super Market (super market-nya orang Asia di kota Tempe); ketika naik bus; menyeberang jalanan di lampu merah; dan bahkan bersepeda di sekeliling kampus ASU dan di Hayden Park. Lho, memang kenapa sangat bangga? Karena istriku memakai jilbab dan gaun muslimah. Istriku adalah pembawa bendera labang identitas kita, identitas bahwa kami adalah Muslim di tengah masyarakat non Muslim.

Dengan memakai jilbab keliling kota Tempe, kami dikenal oleh saudara-saudara Muslim lainnya yang kami jumpai. Banyak dari mereka tidak akan pernah kami sadari bahwa mereka adalah Muslim seandainya istriku tidak memakai jilbab, tetapi ketika mereka melihat istriku, para suadara Muslim tersebut akan menghampiri kami dan langsung mengucapkan “Assalamu alaikum!” Sering pula dari kejauhan ada yang berteriak “Assalamu alaikum!” sambil mengangkat tangan.

Ketika kami berjumpa dengan wanita muslimah lain yang memakai jilbab, dari kejauhan sebelum berpapasan saya akan berbisik kepada istriku, “tu sallim, tu sallim,” Istriku akan menjawab sedikit marah, “memangnya saya ini Azuz…..” Ooh yah, jadi ceritanya begini, di masjid, ada anak teman kami yang bernama Azuz. Azuz berumur kurang lebih dua tahun. Si Azuz itu anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Ketika kami kami berjumpa dengan Azuz dan Ibu Bapaknya di Masjid, Ibu Bapaknya akan menyuruh Azuz bersalaman dengan kami atau dengan siapa pun yang ingin bersalaman dengannya; orang tuanya menyuruhnya dengan bahasa Arab, “Tu sallim, tu sallim.” (salamilah, salamilah). Nah begitulah candaku kepada istriku ketika kami melihat wanita muslimah lainnya, saya akan mengatakan “siap-siap tu sallim.”

Istriku itu kadang sangat sombong. Ketika jilbab dan pakaiannya diperhatikan dan dipandangi oleh orang-orang Amerika disini, dia justeru akan sedikit menyombongkan keindahan busana muslimahnya dengan cara memasang wajah yang sok berwibawa. Waduh, ini sungguh membuatku repot, saya harus terus mengingatkannya, “Sayang, berjalanlah dengan biasa-biasa aja, dan janganlah sombong.” Orang Amerika sesungguhnya sangat senang melihat jilbab muslimah istriku.

Sudah terlalu sering istriku dipuji jilbabnya atau sekedar senyuman ketika berpapasan dengan orang Amerika. Diatas bus ada seorang wanita yang memperhatikan istriku terus dengan penuh penasaran, dan akhirnya tidak sabar untuk menanyakan tentang cara pemakaiannya, “I’m sorry, is that just one piece of material you shape and wear?” Sayang sekali kita harus turun di stop berikutnya sehingga tidak dapat bercakap-cakap lebih lama. Dia mengatakan “It’s very beautiful.”

Ketika kami berjalan dan bertemu dengan wanita Arizona, terutama di musim panas sekarang ini, yang berpakaian super minim, saya akan bercanda dengan istriku agar dia berdiri di samping wanita berpakaian minim itu. Saya berpikir, “Mudah-mudahan orang Amerika melihat perbedaan yang sangat mencolok ini, bahwa pakaian muslimah itu sangat indah, santun dan berwibawa, sementara ketelanjangan sangat sangat merendahkan.” Saya yakin seandainya istriku dipasangkan berdiri berdampingan dengan salah satu tipikal wanita Arizona yang berpakaian super minim, kemudian ditanyakan kepada para ibu-ibu Arizona sendiri: “Dengan model berpakaian yang manakah anda akan merasa lebih aman dan nyaman untuk anak remaja putri anda ketika ia keluar dan bergaul dengan teman-temannya (termasuk para lelaki hidung belang)?” mereka (para ibu) pasti dalam hati mereka yang terdalam, akan menunjuk ke model pakaian istriku yang berjilbab dan bergaun muslimah.

Dari sudut pandang kesehatan pun saya berpikir. “Masak sih mereka tidak melihat rasionalitas berpakaian muslimah ini dibawah terikan panas matahari.” Saya tidak habis pikir kenapa wanita Arizona disini justeru harus semakin berpakaian minim di musim panas. Gerah, mungin iya, tetapi ancaman kanker kulit itu…waduh, berpakaian muslimah justeru lebih rasional.

Ingin dikenal sebagai seorang Muslim, saya pun kadang sengaja memakai topi haji. Tapi memang efek penghormatan dari saudara sesama Muslim maupun nonmuslim tidak sebesar identitas jilbab dan gaun muslimah. Pernah terjadi di bandara ketika istriku baru landing di Los Angeles, para penumpang yang baru datang memasuki Amerika diminta untuk membuka bagasi masing-masing di bagian custom. Banyak barang-barang dari bagasi tersebut disita misalnya karena membawa makanan dari negara masing-masing. Istriku pada ketika itu juga sudah memasrahkan semua perbekalan makanan khas Makassar di situ oleh custom….tiba-tiba salah satu petugas custom mengatakan, “Assalamu alaikum sista, where are you from, Malaysia?” Petugas custom tersebut, kata istriku, adalah seorang lelaki setengah baya etnis kaukasian dan bahasa Inggrisnya sangat fasih. Siapa yang tahu bahwa dia seorang Muslim seandainya istriku tidak berpakaian muslimah. “No, I’m from Indonesia,” jawab istriku. Pendek cerita, semua cemilan dan makanan khas Makassar yang telah dibawa oleh istriku di lewatkan di pos pemeriksaan custom walaupun istriku sudah memasrahkannya untuk disita.

Jadi, siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika…?

Ok, ok. Mungkin saya terlalu membanggakan istriku. Memang penhargaan utama haruslah disandangkan kepada badge of honor (lambang kehormatan) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada ibu-ibu dan saudari-saudari kami di dalam Al Quran yakni pemakaian jilbab atau hijab. Jadi kebanggaan ini milik semua muslimah yang ingin mengenakan kebanggaannya. Semoga saja semakin banyak wanita muslimah yang sadar akan kehormatan ini.

Amin ya Rabbal alamin, wallahu a’lam bissawab.

Psikologi orang Amerika masuk Agama Islam

bersambung dari “Shahadah Pertama di Dawa Table.”

Belajar dari peristiwa ke-Islaman Troy, dan juga dari mendengar ceramah work shop “How to give shahada in 10 minutes” oleh Kamal Al Makki yang saya dapat dari www.kalamullah.com, saya baru sadar bahwa psyikologi orang Amerika masuk agama Islam adalah bahwa mereka sebenarnya sangat menunggu untuk diundang, untuk dilamar. Penyebaran informasi mengenai agama Islam kepada mereka ternayta tidaklah cukup, tetapi undangan yang direct  dan jelas dari orang-orang Islam mereka nanti-nantikan.

Bayangkan saja kamu diundang kesuatu acara, ulang tahun atau suatu syukuran, dimana dihidangkan santap siang. Kamu datang terlambat dan para hadirin yang lainnya sedang duduk-duduk di halaman depan dengan santai karena sudah kenyang menyantap hidangan makan siang. Kamu datang sendiri, dan tidak ada satu pun kamu kenal kecuali tuan rumah yang telah mengundang kamu. Hidangan siang terletak di dalam rumah, jauh di belakang. Dalam keadaan seperti ini, apakah kamu dapat dengan percaya diri melewati para tamu masuk ke dalam rumah untuk mengambil hidangan coto atau bakso – yang dari luar itu memang tercium sangat sedap - ditambah lagi kamu memang sangat lapar…? Kebanyakan orang akan duduk di luar dan tidak akan masuk kecuali sedikit didesak dan dibujuk dengan kalimat merdu ini: “Ayo Pak, mari masuk makan” lalu diantar langsung oleh sang tuan rumah. Mungkin inilah perumpamaan psikologi orang Amerika masuk agama Islam, mereka sangat berhasrat pada agama Islam namun menunggu saat yang special itu, ajakan langsung dari seorang Muslim.

Dan beginilah cara dawa Rasulullah (saw). Ketika musim haji telah tiba, di kota Makkah, Rasulullah (saw) akan mendatangi satu per satu jamaah, dan tidak hanya sekedar menjelaskan agama Islam, namun juga mengajak masuk agama Islam. Dalam ceramah work shop Kamal Al Makki, dia menceritakan bagaimana Rasulullah (saw) mengajak sekaligus menyadarkan Umar ibn Khattab (ra) yang sebelumnya sangat benci dan menjadi musuh dawa Islam: Rasulullah (saw) memegang kedua bahu Umar (ra) dengan kuat sambil berkata, “Tidakkah telah sampai waktunya engkau menjadi seorang Muslim, wahai Umar…!”

SubhanaAllah, hukum yang pasti mengatakan history tends to repeat itself (sejarah senantiasa terus berulang). Kalau sejarah perkembangan Islam di tanah air Indonesia terjadi dari interaksi antara pedagang Muslim dan nenek moyang kami yang pagan dan Hindu pada waktu itu (dan tidak seperti penindasan kolonialisme Belanda di tanah air dengan cara 3G – Gold, Glory dan Gospel), maka sangat sangat mungkin sejarah itu akan terulang di tanah Amerika Serikat ini. Begitupula, kalau sejarah rasisme dan penindasan orang kulit hitam terjadi kurang lebih 50 tahun lalu, pada masa Malcolm X dan Kings, dan kini mereka telah memiliki Obama sebagai presiden, maka dengan melihat perkembangan agama Islam di Amerika Serikat, sangat mungkin sejarah ini akan berulang pada orang-orang Muslim, kini tertindas di Guantanamo… 50 tahun ke depan – wa Allahu a’lam – Amerika akan memiliki Presiden Muslim Pertama. 

SubhanaAllah, the power of directly proposing untuk masuk kedalam naungan teduh Dienul Islam dan memuaskan dahaga spiritual mereka yang telah disesatkan oleh lingkungannya. InshaAllah, kini saya akan semakin sering mengajak para pencari Tuhan untuk menerima Islam. Amien.

Wallahu A’lam bissawab.

Shahadah Pertama di Dawa Table

Alhamdulillah, Allahu Akbar, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi brothers di Dawa Table; hari ini merupakan kali  pertama seseorang menyatakan shahadah di Dawa Table, declaration of faith, pernyataan ke-Islaman seserorang, bahwa dia percaya “tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad (saw) adalah utusan-Nya.

 Troy adalah mahasiswa yang majoring pada film industri di ASU. Sejak Spring semester lalu, Troy sering sekali datang sekedar nongkrong di Dawa Table. Kadang dia duduk saja melihat aktivitas kami. Dia sangat pendiam, oleh karena itu selama ini kita tidak menyangka apa yang ada dipikirannya – bahwa dia ternyata tertarik apa agama Islam. Kita selama ini sibuk memanggil dan menyapa para mahasiswa yang lewat dan tidak pernah memberikan dawa khusus, membahas dan menawarkan agama Islam kepada Troy.

Sampai akhirnya Jumat yang lalu dia datang berkunjung ke Masjid kami, Masjid Tempe. Dia datang atas ajakan Khalid. Khalid pada waktu itu tidak sempat salat Jumat di Masjid Tempe, akhirnya dia menelponku, “Assalamu alaikum brother Ali. Hey, Troy wants to come to the Masjid, can you host him?”

Alhamdulillah sure,” jawabku. Saya akhirnya menelpon Troy dan katakan bahwa saya menunggunya di Masjid. Alhamdulillah dia tiba pas sebelum adzan, sehingga kita berdua bisa masuk ke dalam Masjid dan inshaAllah tercatat dalam catatan malaikat pencatat para jamaah yang datang sebelum Khatib naik mimbar. saya menyiapkan Troy tempat duduk di belakang, tempat yang memang sudah disiapkan bagi pengunjung di masjid Tempe. ”So Troy, you can just sit, watch and listen here,” saya berusaha membuatnya nyaman. Saya sendiri ke deretan shaf bagian depan yang masih kosong.

SubhanaAllah, ternyata Troy tidak sekedar sit, watch, and listen. Dia ikut shalat di shaf belakang. Ini dia katakan kepadaku ketika shalat telah usai dan para jamaah sedang sibuk berkumpul di halaman dan pekarangan masjid, saling berbagi cerita sebelum pulang ke rumah dan kantor masing-masing. Dan karena dia sangat pendiam, ini dia katakan kepadaku setelah saya tanyakan kepadanya bagaimana keadaannya ketika jamaah sedang salat tadi, apa ia tetap nyaman duduk di belakang. dia katakan kepadaku dengan santai, “I prayed in the line.” Saya katakan kepadanya, “What….You didn’t have to do that, you know!” yang kemudian dia jawab dengan singakat dan cool “I know.” Saya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.

Hari ini dia datang ke Dawa Table ketika kita sedang berkemas-kemas karena sudah jam dua siang dan para brothers masing-masing ingin lari ke kelas termasuk Troy. Dia hanya datang ingin menyapa kami sebelum menghilang menuju kelasnya. Saya menahannya sejenak dan menanyakan kepadanya apa dia ingin ke masjid lagi Jumat yang akan datang ini. Dia jawab dan gaya cool dan pendiamnya, “maybe.” Saya usulkan kepadanya dengan sangat speculatif dan sedikit bercanda ”InshaAllah you can take the shadaha next Jumuah.” (hampir tiap selesai shalat Jumat ada saja yang masuk Islam di Masjid Tempe). Sekali lagi dia katakan, “maybe,” dengan gaya hip hop dan cool.

Pada saat inilah saya sadar bahwa sebenarnya dia sudah ingin masuk Islam. Bayangkan saja, apa arti jawaban “maybe” kalau bukan sebenarnya signal yang berarti: ”iya!” Bagaikan bola yang sudah siap di-smash dalam permainana tennis, saya tidak boleh sia-siakan kesempatan ini. Saya katakan kepadanya dengan sangat exited, “Maksud kamu apa ‘maybe, maybe, maybe‘, ucapkanlah Shahadah sekarang juga!” “Take it now…!”

Alhamdulillah, Troy akhirnya mengucapkan shahadah, di depan saya, Khalid, dan brother Muhammad Asad. Saya memandunya dalam bahasa Inggris, mengingatkannya apa yang dia harus yakini dan apa yang dia harus ucapkan, “I testify that there is no worthy of worship except Allah, and that Muhammad (saw) is his final messenger.” Khalid kemudian membimbingnya dalam bahasa Al Quran, “Ash hadu anlaa ilaha illa Allah wa ash hadu anna Muhammadan rasul Allah!” Kami bertiga kemudian mengangkat genggaman dan bertakbir dan bergantian bersalaman dan berpelukan dengan Troy di tengah para mahasiswa ASU yang sedang sibuk menuju kelas masing-masing. Para mahasiswa yang sedang sibuk dengan dunya ini benar-benar  tidak sadar bahwa telah terjadi peristiwa yang sangat luar biasa, seorang hamba Allah telah kembali kepada fitrah-nya, setelah lama menghilang…kembali kepada Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Satu orang Amerika ini saja sudah membuat kami sangat bersyukur atas kegiatan Dawa Table yang selama ini kami lakukan di ASU. Namun masa depan Islam di Amerika sepertinya kelihatan sangat cerah, dan inshaAllah shahadah tidak akan berhenti disitu saja. Shalat Ashar tadi, ternyata, di Masjid Tempe, ada seorang mantan tentara perang teluk, Earny namanya, lelaki umur 50an, juga masuk Islam. Shalat Ashr tadi merupakan shalat pertamanya. Sekali lagi Allahu Akbar….!

Allahumma aizzal Islama wal muslimin, wa azzilla syirka wal musyrikin. Amien yaa Rabbal Alamin.

bersambung pada “Psikologi orang Amerika masuk agama Islam.”

Procastination

Sewaktu Fulbright Predeparture Orientation di Jakarta – orientasi Fulbrighters untuk mengantisipasi segala tantangan studi di Amerika, mulai dari permalahan visa, kesehatan, kebudayaan, dan akademis – salah satu poin yang sering ditekankan untuk meningkatkan academic performance adalah kata yang besar ini: “procastination“. Sewaktu tiba di NYC dan mengikuti Gateway Orientation, orientasi serupa sewaktu di Jakarta, hanya kali ini orientasinya adalah ketika sudah tiba di US bersama Fulbrighter manca negara, kata besar ini, “procastination“, kembali muncul. Percayalah, kata ini baik bagi orang English speaker adalah kata yang “canggih” karena lebih dikenal dalam percakapan sehari-hari dengan kata: “delay“ (menunda).

Setelah menjalani studi di Amerika, memang sangat benar, procastination atau menunda-nunda adalah penyakit terburuk yang anda bisa miliki dalam menjalani studi. Betapa seringnya saya mengatakan pada saat deadline menghantui, “seandainya saya punya waktu lebih untuk mengerjakan tugas ini,” atau “seandainya saya telah memulai mengerjakannya lebih awal.”

Jadi, dalam mengahadapi tugas kuliah, strategi yang paling tepat untuk dimiliki adalah: Ucapkanlah Bismillah dan “just do it”; ngak perlu mikir-mikir panjang, menunggu pencerahan datang. Biarkanlah proses berpikir itu menjadi bagian pada saat memulai dan melaksanakan assignments. Penyakit ini sungguh sangat ganas, bahkan pada detik ini pun saya sedang mengetik ini, penyakit ini bisa sewaktu-waktu kambuh. Jihad melawan penyakit ini harus continous.

Kalau kita kembali membaca Al Quran, kita akan terus dibuat sadar agar tidak menjadi procastinators. Subhan Allah, what a coincidence……! Lihat saja, ketika Allah Azza wa Jal menggambarkan usaha da’wa Nabi Nuh (as) dalam kata-katanya kepada kaumnya:

 

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (Nuh: 2-4)

Pada kesempatan yang lain di dalam Al Quran, Allah Azza wa Jal mengingatkan kepada kita agar tidak menjadi procrastinators, misalnya dalam melakukan amalan saleh dan dalam mengeluarkan zakat dan infaq (Munafiqun: 10); dan menggambarkan pula “doa” para procastinators (merekapun akhirnya berdoa) (Sajdah: 12) :

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Munafiquun:10)

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (Sajadah: 12)

Ya Allah, jadikanlah kami tidak termasuk golongan orang-orang “procastinators”, dalam urusan dunia kami, terlebih-lebih untuk akhirat kami.

Wallahu ‘alam bissawab.

 

Al Quran 4: Dalam…Sindiran Yang Sangat Dalam

Pernahkah kita tersinggung terhadap suatu sindiran yang dilancarkan seseorang terhadap diri kita? Mungkin kita tersinggung karena kita tidak layak disinggung seperti itu, diperlakukan seperti itu…? Mungkin orang yang menyinggung diri kita itu tidak sadar apa yang ia lakukan; tidak sadar betapa tingginya derajat, ilmu, dan pengetahuan yang kita miliki…? Sepertinya orang itu perlu diajar apa yang dia ucapkan, “Tidak sadar dia, heh..?” 

Ataukah mungkin kita perlu sekali-kali tersinggung…? Siapa tahu itu adalah sehat. Mungkin sindiran itu mengandung kebenaran dan akan membuat kita sadar kembali ke jalan yang benar yang mana sebelumnya kita tinggalkan…? Kata-kata seorang ustads yang sering membawakan ceramah keagamaan di Kota Makassar – ustads Irawan, kalau tidak salah namanya – sambil sedikit bercanda: “…Ini saya tidak bermaksud menyindir, tapi kalau tersinggung…Alhamdulillah.”

Bagaimanakah seandainya kalau yang menyindir itu adalah Yang paling mengetahui keadaan kita, Yang memiliki kita, Yang menciptakan kita, Yang kepada-Nya kita menghambakan diri…?  Allah Azza wa Jal telah menyindir kita:

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan. (Al Qiyamah 36-37)

“Dalam”, “Dalem banget…!”

Bayangkan kita katakan kepada Mr. Donald Trump, “Bukankah kamu dulu yang datang kepadaku ingin meminjam satu quarter agar supaya kamu bisa membeli makan pagi?” Atau kepada Mr. Bill Gates, “Bukankah kamu dulu yang pernah datang kepadaku ingin belajar kali-kalian?”

SubhanaAllah…! This is Allah Azza wa Jal speaking to us…! Pantaslah kita tersinggung…! Lalu pertanyaan berupa sindirian apa lagi yang bisa lebih “dalam” daripada ini, yang bisa lebih merendahkan seperti ini…? Subhana Allah…alasan apa lagi kalau bukan untuk menyindir ketika Allah Azza wa Jal yang Maha Mengetahui segala sesuatu bertanya seperti ini…? Apakah arti setetes mani…!? “How low can you go?“ We are completely nothing, nothing, nothing – nothingness…!

Allah melanjutkan sindiran ini pada surah berikutnya, Al Insan, persis pada ayat pertama:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Al Insan: 1)

Sekali persis, nothingness…! We never even existed…!

Dan sindiran terakhir adalah sindiran berupa kalimat pernyataan, bukan pertanyaan; namun kali ini tanpa menyebut obyek asal usul manusia (air mani), melainkan sindiran bahwa kita sebenarnya sangat sadar akan kelemahan ini:

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ”ketahui” (Al Maarij: 38-39).

Subhan Allah, Astagfirullah…Ya Allah kami telah mendzalimi diri kita masing-masing, maka jadikanlah kami terus tersinggung pada sindiranmu ini…

Wa Allahu a’lam bissawab…

Shalat Fajr Pertama

Jamaah telah berdiri membentuk syaf pertama dipimpin oleh the newly young elected Imam, Al Hafidz Imam ‘Amr. Tentu jumlah jamaah pada saat ini adalah yang paling sedikit karena ini shalat Fajr, shalat jamaah dimana terlihat siapa muslim sejati dan siapa muslim ‘loyo’, sebagaimana sabda Rasulullah (saw) yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (ra):

“Tidak ada yang lebih susah bagi para munafik selain shalat Fajr dan ‘Isha’, dan kalau mereka mengetahui balasan bagi shalat ini pada waktunya, tentu mereka akan hadir (di masjid) walau mereka harus datang dengan merangkak.” (Bukhari volume 1, buku 11, 626)

Ini adalah shalat subuh pertama saya di masjid Tempe setelah kurang lebih lima bulan saya  diTempe, SubhanAllah, Astagfirullah, semoga Allah mengampuni saya. Selama ini entah kenapa saya begitu malas – atau takut. Yah, takut. karena saya dipengaruhi oleh kenyataan banyaknya homeless di Tempe dan berita-berita kejahatan yang terjadi di Phoenix and sekitarnya. Di surat kabar The State Press, ada bagian Police Beat,  bagian khusus kejahatan yang memberitakan: “jam sekian-sekian” terjadi perampokanan atau penganiayaan – kebanyakan terjadi pada dini hari.

Berita kejahatan terakhir di Mesa: killing spree, seorang maniac yang keliling kota melakukan penembakan dan pembunuhan. Korbannya telah mencapai 8 orang meninggal dalam kurun waktu 2 tahun. Dia biasanya menargetkan orang yang bersepeda atau berjalan sendirian antara 10.00 pm-3.00 am. Sekarang si maniac itu, Dale Hausner, sudah tertangkap dan sementara dalam proses peradilan. Motifnya: just for fun, dia menjadi exited menonton hasil kejahatannya di televisi dimana semua orang sibuk mencari pembunuhnya. Berita terkini lainnya yang menggemparkan: anak 8 tahun menembak mati Bapak dan teman bapaknya. Naudzubillah. Indeks kejahatan di Phoenix memang relative tinggi, diperparah lagi dengan legalitas kepemilikan senjata di State of Arizona dan juga sangat bisa jadi krisis ekonomi yang sedang melanda Amerika saat ini.

Astagfirullah, setan telah memanfaatkan berita-berita ini untuk mengurungkan niat saya kemasjid  jamaah Fajr. Tidak apa, so what, insyaAllah Allah yang menjadi pelindung kita.

Begitu saya masuk masjid untuk join ke jamaah, saya melihat teman saya Bandar telah ada di belakang imam. Inilah teman saya yang kuat sekali imannya, insyaAllah, selalu saja dia ada di masjid. Teman saya inilah yang tidak memiliki mobil tapi masih bisa ke jamaah Fajr. Ia biasa naik sepeda atau jalan. Jarak apartemennya ke masjid hampir sama dengan jarak apartement saya, kurang lebih 3 km. Saya merasa malu. Selama ini saya katakan nanti kalau saya sudah beli mobil saya akan jamaah Fajr terutama dalam keadaan musim winter yang dingin ini. Alhamdulillah, sekarang saya sudah beli mobil itu, mobil pertama saya, mitsubishi mirage 98, dan kini saya sudah ada dibarisan jamaah, tapi insyaAllah besok-besok saya naik sepeda. 

SubhanAllah, Ya Allah, berikanlah saudaraku Bandar ganjaran yang, insyaAllah, pantas ia dapatkan. Ya Allah, kuatkanlah keimanan kita dan selamatkanlah kami dari kemunafikan.

Wallahu a’lam bissawab.