Amerika Serikat mulanya adalah surga bagi pelarian ummat Kristiani. Namun agama apakah sekarang yang cocok untuk para zeitgist? Jawabannya mungkin saja adalah Islam
Warga Amerika condong memiliki pemahaman bahwa negaranya adalah sebuah negara Kristen. Bukankah para peziarah (para zeitgist) awalnya datang ke sini untuk mempraktekkan kekristenan mereka? Bukankah orang Kristen sangat menghargai kehidupan di bawah naungan Tuhan dan kebebasan, memperkuat nilai-nilai demokratis dan kapitalis mereka?
Memang benar. Namun, sekarang ada sebuah agama baru “on the block”, suatu agama yang sangat cocok bagi para zeitgeist. Agama itu adalah agama Islam.
Islam adalah agama ketiga terbesar dan komunitas keagamaan yang paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor imigrasi. Lebih dari 50 persen dari 6 juta warga Muslim Amerika merupakan kelompok yang lahir di Amerika. Indikasi statistik seperti ini memperlihatkan adanya hubungan erat antara nilai-nilai dasar warga Amerika dengan ajaran dasar agama Islam. Warga Amerika yang berani membuka hati dan meneliti sendiri, menjauh dari steriotip popular tentang Islam selama ini, di buat tercengang dengan menemukan banyaknya kesamaan nilai dan ajaran dasar itu. Apakah Amerika akan segera menjadi negara Muslim? Berikut adalah tujuh alasan kenapa jawabannya mungkin saja benar.
1. Islam adalah agama monotheistis. Orang Islam menyembah Tuhan yang sama yang disembah orang Yahudi dan Kristen. Islam juga memiliki nabi dan rasul yang sama seperti Yahudi dan Kristen, dari Nabi Ibrahim, nabi monotheist pertama; Nabi Musa, sampai ke Nabi Isa (Jesus) – dan termasuk pula Nabi Nuh, Yakub, ataupun Isaiah. Konsep dari budaya Judeo-Kristen baru muncul pada tahun 1940an di Amerika. Sekarang, sebagai sebuah negara, sangat mungkin kita semakin bergerak kearah tersebut, berpindah menuju pandangan “Abrahamic” yang lebih inklusif
2. Islam memiliki nilai-nilai demokrasi. Islam mengajarkan adanya hak untuk bersuara dan berpendapat, mendapatkan pendidikan dan memiliki penghidupan atau sebuah profesi. Al Quran, yang merupakan sumber ajaran dan hukum Islam, menganjurkan orang Islam untuk melaksanakan pemerintahan atas dasar diskusi dan konsultasi. Di Masjid, tidak ada hirarki kependetaan. Di dalam Islam setiap pribadi bertanggung jawab terhadap diri masing-masing. Setiap pribadi berdiri sejajar di hadapan Tuhan. Kebanyakan warga Amerika yang mengaitkan pemerintahan Islam di negara-negara Islam dengan system tiran, menemukan konsep kesejajaran ini dalam ajaran Islam ini sangat jauh dari kenyataan. Memang hal ini sangat jauh dari kebenaran. Para diktator yang sedang berkuasa di negara-negara Timur Tengah bukanlah hasil dari ajaran prinsip Islam. Mereka lebih merupakan hasil dari situasi ekonomi global dan sisa-sisa peninggalan kolonialisme Eropa.
3. Islam memiliki tradisi spiritual yang sangat menarik. Spiritualism disini adalah adanya dorongan untuk mencari dan kembali kepada Tuhan. Amerika sebenarnya merukapan tanah para pencari spiritualisme. Sangat mengherankan, salah satu kumpulan puisi best-seller di Amerika adalah, puisi kumpulan Rumi, seorang Muslim asal Persia 800 tahun yang lalu penemu tariqat Mevlevi, yang lebih dikenal di Barat sebagai Whirling Dervishes.
4. Islam memiliki nilai-nilai egalitarian. Dari New York sampai California, satu-satunya tempat ibadah yang secara rutin terintegrasi kedalam masyarakat adalah masjid-masjid yang sampai sekarang berjumlah sekitar 4,000an. Hal ini disebabkan karena Islam berlandaskan kemasyarakatan, terutama kalau urusannya adalah berdiri di hadapan Tuhan. Pledge of Allegiance (Janji setia warga Amerika) yang menyatakan adanya satu negara di bawah naungan Tuhan dan Pidato Gettysburg Lincoln yang menyatakan setiap manusia diciptakan sama, mengekspresikan tema-tema yang sama terdapat di dalam ajaran dasar Islam.
Islam sering dipandang sebagai agama yang agresif karena adanya ajaran Jihad, namun sebenarnya kata ini adalah kata yang paling sering disalahartikan. Karena orang Islam percaya bahwa Tuhan menghendaki keadilan, maka mereka cenderung manjadi aktivist kepada gerakan tersebut, dan mereka percaya pula bahwa setiap pribadi memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan. Inilah alasan kenapa warga kulit hitam Amerika menjadi sangat tertarik masuk kedalam Islam. Mereka kini mewakili sepertiga jumlah warga Muslim di Amerika.
Ajaran egalitarian ini menaungi baik lelaki maupun wanita. Muhammad (saw), utusan Tuhan dalam ajaran Islam, sebenarnya adalah seorang reformist pada masanya. Atas dasar perintah Al Quran, beliau (sawa) justeru membatasi jumlah istri yang boleh dimiliki seorang lelaki dan memberikan persyaratan yang sangat khusus dan ketat bagi yang berniat berpoligami. Al Quran memberikan hukum-hukum pernikahan yang memberikan jaminan kepada wanita untuk tetap menggunakan nama keluarganya, hak kepemilikan atas harta, hak menentukan pasangan hidup, dan hak untuk mengajukan perceraian. Pada masa awal Islam, para wanita memiliki profesi dan menjadi tuan tanah, sebagaimana lazimnya sekarang ini. Kenyataan-kenyataan ini tidak terlihat jelas bagi kebanyakan warga Amerika disbabkan adanya pengaruh budaya yang sering sekali membuat Islam menjadi agama yang seolah-olah sangat represif terhadap kaum wanita. Namun, dengan melihat secara seksama, akan mereka dapat menyadari ajaran egaliter ini yang masih terpelihara di dalam Al Quran. Di Iran misalnya, terdapat lebih banyak wanita yang belajar di Universitas daripada kaum lelaki, dan pada pemilu yang baru saja dilaksanakan disana, terdapat kurang lebih 5,000 wanita yang menjadi calon legislatif.
5. Islam memiliki ajaran yang sejalan dengan trend baru warga Amerika yaitu kebersihan makanan dan aturan diet. Warg Muslim melaksanakan satu bulan puasa dalam bulan suci Ramadan, suatu cara hidup yang banyak warga Amerika kagumi bahkan mencoba untuk mengikuti. Warga Muslim pula memiliki hukum-hukum diet yang mengatur macam daging yang boleh dan tidak boleh dimakan. Aturan ini menyatakan bahwa daging yang dibolehkan, yakni daging halal, disediakan melalui suatu cara yang menekankan prinsip kebersihan dan kemanusiaan terhadap binatang sembelihan. Aturan ini berjalan di suatu dasar yang membuat makanan organik semakin populer.
6. Islam sangat toleran terhadap agama lain. Sebagaimana halnya Amerika, Islam memiliki sejarah toleransi terhadap agama lain. Pada masa hidup Muhammad (saw), orang-orang Kristen, Sabiin, dan orang Yahudi yang hidup di tanah Muslim mendapatkan hak otonomi yang cukup besar. Ketika Islam menyebar ke arah timur, ke India dan China, agama Zoroastrian, Hindu, dan Buddhisme juga mendapatkan perlindungan yang serupa. Ketika Islam menyebar ke arah utara dan barat, agama Yahudi justeru yang paling diuntungkan. Warga Yahudi akhirnya dapat kembali ke Yerusalem setelah lama terlunta-lunta di pengembaraan hanya ketika Islam menguasai kota Yerusalem pada tahun 638 M. Hal pertama yang dilakukan orang Muslim pada waktu itu adalah menyelamatkan Temple Mount, yang pada waktu itu telah dijadikan tempat pembuangan sampah.
7. Islam mengajarkan kebebasan beragama. Para peziarah yang di di Plymouth Rock bukanlah cerita pertama mengenai emigrasi keagamaan. Muhammad (saw) dan pengikutnya yang berjumlah kurang lebih 100 orang meninggalkan pula penindasan keagamaan yang mereka alami, dari Mekah pada tahun 622 M. Mereka menyelamatkan diri dengan berhijrah ke Madinah, suatu oase yang terletak beberapa ratus kilometer kearah utara, dimana mereka mendirikan sebuah komunitas yang berdasarkan suatu agama yang hanya dapat mereka laksanakan secara terbatas dan tertindas ketika mereka masih berada di tanah kelahiran Mekah. Pantas saja, pada masa sekarang ini, terdapat banyak Muslim yang datang ke Amerika sebagai alternatif dari ketertindasan yang mereka alami di negara asal, seperti Kashmir, Bosnia, dan Kosovo, dimana menjadi seorang Muslim di daerah-daerah ini mengalami banyak kezaliman. Jika daftar emigran abad ke-20 dijumlahkan, akan terlihat jelas bahwa emigran Muslim memang sangat banyak.
Siapa tahu saja, mungkin tidak lama lagi bahwa kata-kata seperti “salat” (ibadah lima kali sehari seorang Muslim) dan “Ramadan” akan sangat lazim terdengar dan semakin lazim ditemukan di dalam kamus Webster’s sebagaimana kata “karma” dan “nirvana”, dan warga Muslim akan mendapatkan tempat khusus di dalam kehidupan arus utama Amerika Serikat.
(oleh Michael Wolfe, 2001, diterjemahkan dari http://www.ahmed-deedat.co.za)
Michael Wolfe adalah seorang sastrawan, penulis, and Presiden dan Executive Producer perusahaan media Unity Production Foundation. Beliau sering menjadi pembicara masalah studi Islam di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Melalui aktivitasnya pada media, dia telah memproduksi dua film dokumenter tentang Islam: “Hajj from Mecca” dan “Muhammad: Legacy of a Prophet” – kedua dokumenter tersebut mendapatkan sambutan yang cukup luas dan positif.
Filed under: Islam | Tagged: islam amerika | Leave a Comment »


