Siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika…?

June 1, 2009

Saya sangat bangga berjalan keliling kota Tempe berasama istriku tersayang: ke Mekong Super Market (super market-nya orang Asia di kota Tempe); ketika naik bus; menyeberang jalanan di lampu merah; dan bahkan bersepeda di sekeliling kampus ASU dan di Hayden Park. Lho, memang kenapa sangat bangga? Karena istriku memakai jilbab dan gaun muslimah. Istriku adalah pembawa bendera labang identitas kita, identitas bahwa kami adalah Muslim di tengah masyarakat non Muslim.

Dengan memakai jilbab keliling kota Tempe, kami dikenal oleh saudara-saudara Muslim lainnya yang kami jumpai. Banyak dari mereka tidak akan pernah kami sadari bahwa mereka adalah Muslim seandainya istriku tidak memakai jilbab, tetapi ketika mereka melihat istriku, para suadara Muslim tersebut akan menghampiri kami dan langsung mengucapkan “Assalamu alaikum!” Sering pula dari kejauhan ada yang berteriak “Assalamu alaikum!” sambil mengangkat tangan.

Ketika kami berjumpa dengan wanita muslimah lain yang memakai jilbab, dari kejauhan sebelum berpapasan saya akan berbisik kepada istriku, “tu sallim, tu sallim,” Istriku akan menjawab sedikit marah, “memangnya saya ini Azuz…..” Ooh yah, jadi ceritanya begini, di masjid, ada anak teman kami yang bernama Azuz. Azuz berumur kurang lebih dua tahun. Si Azuz itu anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Ketika kami kami berjumpa dengan Azuz dan Ibu Bapaknya di Masjid, Ibu Bapaknya akan menyuruh Azuz bersalaman dengan kami atau dengan siapa pun yang ingin bersalaman dengannya; orang tuanya menyuruhnya dengan bahasa Arab, “Tu sallim, tu sallim.” (salamilah, salamilah). Nah begitulah candaku kepada istriku ketika kami melihat wanita muslimah lainnya, saya akan mengatakan “siap-siap tu sallim.”

Istriku itu kadang sangat sombong. Ketika jilbab dan pakaiannya diperhatikan dan dipandangi oleh orang-orang Amerika disini, dia justeru akan sedikit menyombongkan keindahan busana muslimahnya dengan cara memasang wajah yang sok berwibawa. Waduh, ini sungguh membuatku repot, saya harus terus mengingatkannya, “Sayang, berjalanlah dengan biasa-biasa aja, dan janganlah sombong.” Orang Amerika sesungguhnya sangat senang melihat jilbab muslimah istriku.

Sudah terlalu sering istriku dipuji jilbabnya atau sekedar senyuman ketika berpapasan dengan orang Amerika. Diatas bus ada seorang wanita yang memperhatikan istriku terus dengan penuh penasaran, dan akhirnya tidak sabar untuk menanyakan tentang cara pemakaiannya, “I’m sorry, is that just one piece of material you shape and wear?” Sayang sekali kita harus turun di stop berikutnya sehingga tidak dapat bercakap-cakap lebih lama. Dia mengatakan “It’s very beautiful.”

Ketika kami berjalan dan bertemu dengan wanita Arizona, terutama di musim panas sekarang ini, yang berpakaian super minim, saya akan bercanda dengan istriku agar dia berdiri di samping wanita berpakaian minim itu. Saya berpikir, “Mudah-mudahan orang Amerika melihat perbedaan yang sangat mencolok ini, bahwa pakaian muslimah itu sangat indah, santun dan berwibawa, sementara ketelanjangan sangat sangat merendahkan.” Saya yakin seandainya istriku dipasangkan berdiri berdampingan dengan salah satu tipikal wanita Arizona yang berpakaian super minim, kemudian ditanyakan kepada para ibu-ibu Arizona sendiri: “Dengan model berpakaian yang manakah anda akan merasa lebih aman dan nyaman untuk anak remaja putri anda ketika ia keluar dan bergaul dengan teman-temannya (termasuk para lelaki hidung belang)?” mereka (para ibu) pasti dalam hati mereka yang terdalam, akan menunjuk ke model pakaian istriku yang berjilbab dan bergaun muslimah.

Dari sudut pandang kesehatan pun saya berpikir. “Masak sih mereka tidak melihat rasionalitas berpakaian muslimah ini dibawah terikan panas matahari.” Saya tidak habis pikir kenapa wanita Arizona disini justeru harus semakin berpakaian minim di musim panas. Gerah, mungin iya, tetapi ancaman kanker kulit itu…waduh, berpakaian muslimah justeru lebih rasional.

Ingin dikenal sebagai seorang Muslim, saya pun kadang sengaja memakai topi haji. Tapi memang efek penghormatan dari saudara sesama Muslim maupun nonmuslim tidak sebesar identitas jilbab dan gaun muslimah. Pernah terjadi di bandara ketika istriku baru landing di Los Angeles, para penumpang yang baru datang memasuki Amerika diminta untuk membuka bagasi masing-masing di bagian custom. Banyak barang-barang dari bagasi tersebut disita misalnya karena membawa makanan dari negara masing-masing. Istriku pada ketika itu juga sudah memasrahkan semua perbekalan makanan khas Makassar di situ oleh custom….tiba-tiba salah satu petugas custom mengatakan, “Assalamu alaikum sista, where are you from, Malaysia?” Petugas custom tersebut, kata istriku, adalah seorang lelaki setengah baya etnis kaukasian dan bahasa Inggrisnya sangat fasih. Siapa yang tahu bahwa dia seorang Muslim seandainya istriku tidak berpakaian muslimah. “No, I’m from Indonesia,” jawab istriku. Pendek cerita, semua cemilan dan makanan khas Makassar yang telah dibawa oleh istriku di lewatkan di pos pemeriksaan custom walaupun istriku sudah memasrahkannya untuk disita.

Jadi, siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika…?

Ok, ok. Mungkin saya terlalu membanggakan istriku. Memang penhargaan utama haruslah disandangkan kepada badge of honor (lambang kehormatan) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada ibu-ibu dan saudari-saudari kami di dalam Al Quran yakni pemakaian jilbab atau hijab. Jadi kebanggaan ini milik semua muslimah yang ingin mengenakan kebanggaannya. Semoga saja semakin banyak wanita muslimah yang sadar akan kehormatan ini.

Amin ya Rabbal alamin, wallahu a’lam bissawab.


Penyerangan Gaza, Tahun baru dan Solusi buat Ummat Islam

December 31, 2008

Hari kelima penyerangan terbesar Israel dalam kurun waktu 40 tahun terhadap warga Palestina di Gaza telah menelan 380-an korban dan seribuan lainnya luka-luka (radio BBC, 31 Desember 2008); hanya Allah SWT yang tahu sampai mana batasnya. Rasanya sedih dan frustrasi sebab tidak bisa berbuat apa-apa…helpless. Saya terus mencari update berita dari berbagai sumber, dan apa yang dikatakan oleh para tokoh-tokoh muslim, terutama yang vokal dan “militant” seperti Anwar al Awlaki dan Sheik Faisal (masing-masing sudah pernah ditahan karena “ke-militansiannya” dan masing-masing telah dideportasi ke negara masing-masing karena alasan yang sama; Anwar kembali ke Yaman, dan Faisal ke Jamaica). Keduanya masih pada pendirian fatwanya untuk retaliate dengan rudal-rudal yang ditujukan ke pemukiman Yahudi, “an eye for an eye, a tooth for a tooth,” atau Qisas. Wallahu a’lam.

Ummat Islam lainnya ada yang melakukan demonstrasi. Yel-yel para demonstran di NYC: “Bombs are dropping, why are you shopping!” – suatu slogan yang sangat tepat agar ummat islam bangun, benar-benar bangun! kutukan dan kecaman dikeluarkan dimana-mana. Di Facebook ada berbagai ajakan untuk bergabung menjadi “fans” dalam kelompok semisal “Symphathize with Gaza” (sudah mencapai 13,840 fans), “Let’s Collect 500,000 signitures to Support the Palestinians in Gaza” (19,089 members), “Crisis in GazaPlease Add Your Name to The Link Provided” (2,585 members), “Save the 1,5 Million People in Gaza” (1,814 members), “Stop Gaza Slaughter” (1,586) (pertanggal 31 Desember 2008).

Namun adakah solusi yang lebih tepat dari semua ini? Kalau sekedar demonstrasi…sampai sejauh mana efektifitasnya berteriak-teriak di depan kedubes atau kantor-kantor asing? Apakah kita berpikir bahwa mereka pada akhirnya luluh hatinya karena kita telah berjam-jam berteriak-teriak? Begitu halnya dengan kutukan-kutukan. Apakah kita berpikir bahwa mereka akan merasa malu hanya sekedar dikutuk? Dan begitu pula pengumpulan 1 juta tanda tangan, keanggotaan, atau dukungan di Facebook atau Friendster dan semacamnya, hasil apakah yang akan dicapai?

Saya tidak menafikan usaha para brothers and sisters sedunia dengan berbagai caranya, insyaAllah balasan ada pada Allah, namun rasanya seharusnya ada sesuatu yang lebih efektif…sesuatu yang harus lebih diutamakan. Sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tentu Allah SWT tahu akan keadaan ummat Islam dikemudian hari ketika Allah SWT telah mengutus Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau begitu, mungkin wasiat kutbah terakhir Rasulullah (saw) adalah jawabannya….yah, inilah seharusnya jawabannya:

“Sesunguhnya, aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikut kedu-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, Itulah Al-Quran dan Sunnahku. hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikannya kepada orang lain, dan hendaklah orang lain itu menyampaikan pula kepada yang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang mendengar langsung dariku.”

Coba perhatikan betapa kuatnya kata-kata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam: yang tidak mendengar langsung dari Rasulullah harus lebih memahami pesan tersebut daripada yang mendengar langsung…!

Oleh karena itu semua para lelaki muslim harus memenuhi shaf-shaf di masjid, buktinya masjid tidak sepenuh apa yang seharusnya. Konon, seorang petinggi Israel pernah mengatakan, “Kami tidak akan berhenti menyerang Palestina hingga shalat lima kalinya ummat Islam di masjid-masjid mereka, penuhnya bagaikan penuhnya pada salat Jumat” - mereka mengaku sendiri bahwa kita harus kembali ke Sunnah.

Para akhwat pula harus menutup aurat, memakai jilbab. Aneh sekali melihat banyaknya muslimah Gaza supporters di Facebook dan para demonstran menampakkan aurat! Bahkan bisa jadi dosa kita inilah yang menyebabkan fitnah terhadap ummat Islam….yah, sangat mungkin. Kalau berpegang pada Al Quran dan Sunnah adalah solusi yang diberikan kepada Ummat Islam oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, yang sekaligus akan memuliakan Ummat Islam, maka logika terbalik mengatakan meninggalkannya adalah kehinaan bagi Ummat Islam. Marilah kembali kepada Al Quran dan Sunnah, maka insya Allah kehinaan dan fitnah yang melanda ummat Islam zaman ini akan diangkat oleh Allah SWT.

Kemudian marilah kita meminta kepada Yang Maha Mendengar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Adil. Wahai Ummat Islam para pendukung Obama, yang mengkampanyekan Obama, yang memilih Obama, yang merayakan kemenangannya; dimana Obama-mu sekarang? Kalian merayakan kemenangan Obama bagaikan dialah solusi permasalahan kita. how low can we go…?

Sekarang sudah sore hari, tanggal 31 Desember di Kota Tempe, jalan-jalan sudah mulai ramai, becak ala Tempe sudah berkeliaran, meriam sudah berdentuman dan kembang api sebentar lagi akan menghiasi langit Tempe. Sudah berapa kali saya ditanya tentang rencana saya untuk malam Tahun Baru nanti malam. Saya jawab, “No, I don’t celebrate the New Years.” Dalam hati, saya hanya melanjutkan dengan tegas, “karena itu bukan Sunnah Nabiku sallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan khusus untuk Tahun Baru nanti ini, saya insya Allah akan tidur lebih awal, selepas salat Isya, untuk mengikuti Sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam…!

Relakah kita bersorak sorai, meniup terompet, menyambut tahun baru ketika saudara-saudara kita sementara di bom…!? Naudzubillah…!Tidak, no thank you, saya lebih memilih untuk mengangkat tangan ber-Qunut Nazilah untuk saudara-saudara Muslim di Gaza dan kehancuran Israel, insya Allah.

Wallahu a’lam bissawab.


Al Quran 4: Dalam…Sindiran Yang Sangat Dalam

December 28, 2008

Pernahkah kita tersinggung terhadap suatu sindiran yang dilancarkan seseorang terhadap diri kita? Mungkin kita tersinggung karena kita tidak layak disinggung seperti itu, diperlakukan seperti itu…? Mungkin orang yang menyinggung diri kita itu tidak sadar apa yang ia lakukan; tidak sadar betapa tingginya derajat, ilmu, dan pengetahuan yang kita miliki…? Sepertinya orang itu perlu diajar apa yang dia ucapkan, “Tidak sadar dia, heh..?” 

Ataukah mungkin kita perlu sekali-kali tersinggung…? Siapa tahu itu adalah sehat. Mungkin sindiran itu mengandung kebenaran dan akan membuat kita sadar kembali ke jalan yang benar yang mana sebelumnya kita tinggalkan…? Kata-kata seorang ustads yang sering membawakan ceramah keagamaan di Kota Makassar – ustads Irawan, kalau tidak salah namanya – sambil sedikit bercanda: “…Ini saya tidak bermaksud menyindir, tapi kalau tersinggung…Alhamdulillah.”

Bagaimanakah seandainya kalau yang menyindir itu adalah Yang paling mengetahui keadaan kita, Yang memiliki kita, Yang menciptakan kita, Yang kepada-Nya kita menghambakan diri…?  Allah Azza wa Jal telah menyindir kita:

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan. (Al Qiyamah 36-37)

“Dalam”, “Dalem banget…!”

Bayangkan kita katakan kepada Mr. Donald Trump, “Bukankah kamu dulu yang datang kepadaku ingin meminjam satu quarter agar supaya kamu bisa membeli makan pagi?” Atau kepada Mr. Bill Gates, “Bukankah kamu dulu yang pernah datang kepadaku ingin belajar kali-kalian?”

SubhanaAllah…! This is Allah Azza wa Jal speaking to us…! Pantaslah kita tersinggung…! Lalu pertanyaan berupa sindirian apa lagi yang bisa lebih “dalam” daripada ini, yang bisa lebih merendahkan seperti ini…? Subhana Allah…alasan apa lagi kalau bukan untuk menyindir ketika Allah Azza wa Jal yang Maha Mengetahui segala sesuatu bertanya seperti ini…? Apakah arti setetes mani…!? “How low can you go?“ We are completely nothing, nothing, nothing – nothingness…!

Allah melanjutkan sindiran ini pada surah berikutnya, Al Insan, persis pada ayat pertama:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (Al Insan: 1)

Sekali persis, nothingness…! We never even existed…!

Dan sindiran terakhir adalah sindiran berupa kalimat pernyataan, bukan pertanyaan; namun kali ini tanpa menyebut obyek asal usul manusia (air mani), melainkan sindiran bahwa kita sebenarnya sangat sadar akan kelemahan ini:

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam syurga yang penuh kenikmatan? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ”ketahui” (Al Maarij: 38-39).

Subhan Allah, Astagfirullah…Ya Allah kami telah mendzalimi diri kita masing-masing, maka jadikanlah kami terus tersinggung pada sindiranmu ini…

Wa Allahu a’lam bissawab…


Universalitas “Islam”

December 4, 2008

Jam sudah menunjukkan waktu 14.15, lima belas menit sudah lewat dari batas waktu yang diberikan untuk menggelar table. Daerah sekeliling  Memorial Union sudah semakin sunyi, table-table kelompok yang lain sudah tidak terlihat di daerah fountain, sisa table-nya kelompok Ateis dengan tenda birunya yang masih berdiri. Tapi saya semakin penasaran, dimana Uthman, dimana Khalid, si Muhammad al Filistine juga belum datang. Waduh, saya tidak bisa mengemas semua perlengakapan ini sendiri, terutama tenda biru yang dibeli Khalid di Walmart ini yang biasa membutuhkan 4 orang untuk memasang dan mengemasnya.

Tidak jauh didepanku ada pula tiga orang, satu lelaki dan dua perempuan, tanpa table, hanya berdiri membagi-bagikan sesuatu…entah apa. Mereka jelas orang Jew, kelihatan dari topi kippah hitam yang dikenakan yang lelaki dan apa yang dia tanyakan kepada setiap wanita yang lewat, “Permisi, apakah kamu seorang Jew?” Kebanyaka – tentunya - akan menggelengkan kepala dan cepat berlalu; memang berapa banyak sih orang Jew di Amerika maupun tempat manapun. Hmm…entah apa yang mereka lakukan. Saya kembali menyibukkan diri membaca harian The New York Times dalam kepenasaranku menunggu seorang brother untuk datang membantuku berkemas.

Hi, how’s it going?” tanya salah satu perempuan Jew tadi itu. tiba-tiba ada di depan dawah table.

Hi, how are?” Jawabku.

“Jadi, kira-kira buku apa yang menjadi referensi yang bagus bagi pemula seperti saya untuk mengetahui tentang Islam?” Tanyanya.

Saya berdiri, sedikit mundur untuk berjaga jarak dan terlibat diskusi dengannya selama 15 menit berikutnya, saling bebagi informasi mengenai agama Islam dan agama Yahudi. Namanya Samantha, dia mengaku dahulunya beragama Kristen tapi selama satu setengah tahun terakhir sedang berusaha berpindah agama masuk ke agama Yahudi… Conversion into Judaisme - suatu topik yang dari dulu menimbulkan tanda tanya (curiosity) buatku. 

“Apakah kamu sadar kami umat Islam tidak menamakan agama kami Muhammadanism,” saya bertanya ditengah-tengah percakapan kami. “Justeru agama kita bernama Islam? Apakah kamu tahu apa arti the word “Islam”, by the way? Artinya penyerahanan diri (submission), suatu nama yang sangat universal karena agama ini memang untuk semua.” Ini adalah pendekatan yang menjadi favoritku dalam memperkenalkan agama yang Haq ini -  memulai dari “what’s in a name.”

Saya melanjutkan, “Coba bandingkan dengan nama agama lain: Hindu, Budha, Christian, dan agama yang kamu ingin masuki, agama Yahudi; semua terbatasi oleh faktor geografi, keturunan, dan waktu. Misalnya nama Hindu berasal dari lembah Hindustan di India; Judaisme adalah keturunan Judah; dan Christian dan Budha adalah para pengikut the the Christ dan Sidharta Gautama… yang berarti semua orang yang hidup sebelum “Tuhan Yesus” tidak mungkin menjadi seorang Christian dan begitu pula perbandingannya pada agama Budha.”

“Itulah kenapa kita ummat Islam menganggap semua para nabi – Noah, Abraham, Moses, Jesus, Muhammad (saw) – semua beragama Islam sebab mereka adalah benar-benar sumbitters to the one true God! Mereka semua adalah muslim = orang yang ber-Islam = orang yang berserah diri kepada Allah!” simpulku.

You see, bukankah ini semua lebih make sense?” tanyaku. ” Muhammad (saw) tidak memperkenalkan dan memulai agama Islam, dia (saw) me-rivive apa yang sebelumnya dilupakan dan ditinggalkan sekaligus menyempurnakannya. Agama Islam sudah ada sejak awal kemanusiaan - Nabi Adam (as) - dan penyerahan diri manusia kepada Allah (Islam) akan terus menjadi agama yang Haq – menurut kami – sampai the end of times!”

Dia sepertinya sangat tertarik dengan pengetahuan sangat dasar ini yang sebelumnya dia tidak tahu sama sekali. Hanya saja rabbi yang biasa menjaga jewish table dan dari tadi berdiri berbicara dengan seorang temannya dengan tertawa-tawa melihat kearah saya dan Samantah dari kejauhan tiba-tiba memanggilnya, “Samantha…Samantha!” 

Sepertinya rabbi itu tidak senang Samantha berada di dakwah table mendengarkan seorang “gentile” menjelaskan agamanya.

“Sepertinya teman kamu memanggilmu.”

“Oh, itu adalah jemputanku. nice talking to you, see you.”

“No problem, sampai jumpa.”

Paling tidak Samantha menitipkan emailnya padaku, saya masih bisa berkomunikasi dengannya tanpa rabbi itu mengganggu. Dalam percakapan kami, saya menawarkan mengirimkannnya beberapa buku pdf  Islam sesuai pertanyaan awalnya tadi….

Wallahu a’lam bissawab.

bersambung ke Penyerangan Mumbai…..

 


Penyerangan Mumbai dan Perjanjian Hudaibiyah

December 4, 2008

…..Bersambung dari Universalitas “Islam”

Oh well, saya tidak punya pilihan lain, saya harus berkemas sekarang juga.

Ketika saya mulai memasukkan semua brosur whyislam ke dalam dos dan membuka ikatan yang melilit spanduk “what is Islam”, tiba-tiba saya mendengar seseorang bertanya, “Apakah kamu butuh bantuan?” Saya berbalik dan melihat lelaki Jew yang memakai kippah hitam tadi itu.

Sure, thanks!” saya menjawab agak heran sekaligus kagum dengan tawarannya; ini adalah seorang Yahudi memakai kippah atau yarmulke menawarkan pertolongan yang sangat merepotkan kepada seorang Muslim yang memakai topi haji putih. Ini tentu akan membuat suatu pemandangan yang sangat menarik. Saya berpikir orang ini sungguh berjiwa besar.

“Yah, saya sebenarnya sedang menunggu beberapa teman untuk membantuku mengemas semua ini, tetapi sepertinya mereka tidak juga muncul sampai sekarang. Terima kasih atas tawarannya.”

Namanya adalah James. Dia membantu saya sampai mengangkatkan tenda biru yang sudah kami kemas dan cukup berat, mengangkatnya sampai ke basement Memorial Union, tempat semua perlengkapan table tersimpan. Saya menanyakan kepadanya apa yang dia lakukan sebelumnya membagi-bagikan sesuatu kepada para wanita yang lewat yang kebetulan Jew. Dia katakan itu adalah shabbat candles, lilin yang dinyalakan khusus oleh para wanita Jew menjelang hari shabbath. Jame khusus membagi-bagikannya pada hari ini sehubungan dengan penyerangan Mumbai Attack oleh 20-an teroris di India pada tanggal 26-29 November yang lalu.

“Sebenarnya apa yang terjadi sih di Mumbai?” saya bertanya kepadanya; dua minggu terakhir ini saya sangat sibuk dengan tugas-tugas kuliah mendekati akhir semester sehingga tidak sempat memperhatikan secara detail berita-berita global.

James menanggapi pertanyaanku tanpa penjelasan mendetail: “Bayangkan seseorang masuk ke dalam kamar hotel satu per satu, dor..dor…dor, just like that, begitu mudahnya membunuh. Tidakkah itu menyedihkan sekali!?”

“Itu sangat sangat menyedihkan,” saya katakan kepadanya, masih samar-samar terhadap apa yang  sebenarnya terjadi. 

James kemudian menjelaskan bagaimana salah satu target penyerangan para teroris adalah sebuah Jewish Center di Mumbai yang menyebabkan 6 orang Yahudi terbunuh, dan karena itulah dia secara khusus membagikan lilin-lilin ini sebagai tanda berduka.

Saya menjelaskan kepadanya bahwa di dalam Islam, nama yang di sandangkan kepada para extremis – kalau memang para ekstrimis ini mengaku beragama Islam dan bertindak atas nama Islam – adalah “Khawarij.” Saya jelaskan pula bahwa ada sebuah hadiths Rasulullah (saw) yang redaksinya: “kalbun nar” (anjing neraka) untuk menjelaskan keadaan para khawarij di neraka….(wallahu a’lam bissawaab). James menanggapinya dengan mengatakan ekstrimisme ada dimana-mana, pada semua agama, seolah-olah mengatakan, “don’t worry, saya tidak menyalahkannya agama yang notabene di anut oleh para teroris itu.”

Setelah malam harinya di kamar apartemen saya, saya me-youtube dan me-wikipedia “Mumbai Attack”, barulah saya sadar betapa seriusnya Mumbai Attack ini. SubhanaAllah, Naudzubillahil adzim, Lahaula wala quawata illa billahil adziim! Benar-benar para penyerang ini orang gila! Mereka dengan menggunakan kashalnikov dan granat tidak hanya menyerang orang-orang ‘bule’ di Hotel Taj Mahal, tapi secara membabi buta menembaki rakyat kecil yang sedang minding their own business di keramain stasiun kereta dan seluruh kota Mumbai, kota komersial dan terpadat di India! Pikiran apa yang ada di dalam otak mereka. Meraka benar-benar biadab!

Saya teringat kuliah Shekh Jafar Idris menjelaskan mengenai The Hudaibiyah Treaty (Perjanjian Hudaibiyah), tentang keindahan dan hikmah dibelakang peristiwa besar tersebut. Berikut saya mencoba menceritakan ulang peristiwa besar ini (dirangkum dari buku The Sealed Nectar oleh Saiful Rahman Al-Mubarakpuri), mudah-mudahan tidak terlalu panjang, tapi insyaAllah its worth it :

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai atau genjatan senjata yang direncanakan selama 10 tahun yang terjadi antara Muslim Madinah dan musyrikin Makkah pada 7 Hijriah. Perjanjian itu terjadi ketika Rasulullah (saw) dan para Sahabat radiallah anhum ingin memasuki Makkah untuk melakukan ibadah umrah, namun ditahan di Dhi Hulaifa, tempat dimana perjanjian itu disepakati. Perjanjian Hudaibiyah berisi poin-poin yang dipandang – oleh para sahabat pada wakt itu – sangat berat sebelah “menguntungkan” untuk pihak musyrikin Makkah dan sangat “merugikan” untuk para Muslimin. Isi perjanjina itu antara lain:

1. Kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tahun ini, mereka baru boleh memasuki Makkah tahun depan untuk menunaikan ibadah umrah, dan itupun hanya selama 3 hari.

2. Seorang musyrik Makkah yang lari ke Madinah tanpa persetujuan walinya harus dipulangkan ke Makkah.

3. Seorang Muslim Madinah yang ke Makkah tidak perlu di pulangkan ke Madinah.

Untuk menambah “kerugian” dan “uji kesabaran” para Sahabat, pihak musyrikin yang diwakili oleh Suhail menghendaki penghapus redaksi “Bismillahi Rahmani Rahim” dan “Rasul Allah” dalam perjanjian itu; dan belum juga perjanjian itu ditandatangani, Sahabat Abu Juhal, anak dari Suhail sendiri, datang dengan tangan terantai dan dalam keadaan fisik yang sangat mengenaskan. Ia datang ingin menyelamatkan diri dari musyrikin Makkah karena ia telah masuk Islam. Suhail memperingatkan Rasulullah (saw) untuk memegang kata-katanya (saw) dalam perjanjian yaitu untuk mengembalikan Abu Juhal kepada pihak Quraish Makkah. Rasulullah (saw) dan para sahabat hanya bisa menahan sabar dan menyuruh Abu Juhal untuk bersabar.

Para sahabat sangat kecewa dari kejadian semua ini, sebaliknya Rasullullah (saw) menyuruh untuk besyukur dan merayakannya yakni dengan berkurban dan bercukur. Allah SWT pun pada kesempatan ini menurunkan surah Al Fath (kemenangan yang sangat besar).

Shekh Jafar Idris dalam mengomentari turunnya surah Al Fath ini mengatakan bahwa bahkan untuk peperangan Badr dimana merupakan peperangan fisik terhebat para Sahabat radiallahu anhum karena keberanian mereka, tidak mendapatkan sanjungan kemenangan sebesar peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. SubhanaAllah!

Lalu apa rahasia dan hikmah di balik peristiwa ini sampai-sampai Allah SWT sampai menurunkan surah Al Fath? Ternyata sejak peristiwa ini, dalam kurun waktu 2 tahun, jumlah musyrikin yang masuk Islam berlipat ganda dibandingkan dengan kurun waktu manapun pada tahun-tahun sebelumnya Rasulullah (saw) mendakwakan agama Islam! Buktinya adalah jumlah para Sahabat di Al Hudaibiyah pada waktu perjanjian hanya 1400, sebaliknya ketika Rasulullah (saw) keluar untuk memerdekan Makkah (Fathul Mekkah) dua tahun kemudian, jumlah sahabat sudah mencapai 10,000 . Ternyata apa yang diharapkan oleh Rasulullah pada waktu itu adalah “yang penting damai”, walaupun ummat Islam harus “merugi” sementara.  

Poin-poin tentang ekstradisi antara kedua belah pihak justeru menjadi keuntungan bagi ummat Islam. Muslim yang harus dikembalikan ke Makkah toh tetap tidak akan meninggalkan agamanya, dan Muslim Madinah yang ke Makkah justeru menjadi pribadi-pribadi yang sangat berpengaruh (center of influence) di Makkah. Mereka pada waktu itu bebas mendakwakan Islam karena gencatan senjata telah ditetapkan.

Dibelakang hari – sebelum Fathul Makkah – musyrikin Makkah justeru datang memohon kepada Rasulullah untuk membatalkan poin perjanjian tentang ekstradisi. Mereka baru merasakan betapa ruginya mereka perihal poin tersebut. Abu Juhal, Abu Baseer, dan beberapa Sahabat radillahu anhum yang dilarang ke Madinah akhirnya memilih tempat pelarian lain yaitu Saif Al Bahr. Semakin lama jumlah Sahabat pelarian ini semakin besar sehingga merekapun melakukan pembalasan kepada expedisi dagang musyrikin Makkah yang melewati Saif Al Bahr. Dengan dibatalkannya poin ekstradisi, para Sahabat di Saif Al Bahr sudah bisa ke Madinah dan delegasi dagang tidak mendapatkan gangguan lagi.

SubhanaAllah! Rasulullah (saw) sungguh seorang visioner dan benar-benar seorang Rasul Allah. Bisakah manusia lain yang bukan Rasul memiliki victory seperti ini!

So, the moral of the story: kekuatan agama Islam tidak terletak pada perang fisik. Islam tidak tertarik dan tidak butuh pada perang semacam ini dalam menyebarkan dan menegakkan agama Islam (walaupun jihad fisik akan terus ada sampai kiamat, tentu dengan ketentuan, peraturan dan persyaratan yang ekstra super ketat; dan sebagai alternatif terakhir -  the last resort – untuk pembelaan diri sendiri dan orang-orang yang terzalimi).

Islam hanya membutuhkan kondisi aman agar terjadi interaksi damai antara ummat Islam dan orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang Islam. Kekuatan agama Islam adalah pada perang dakwah. Adalah pada perang inilah, Islam akan jaya sebab Islam adalah kebenaran, dan argumentasi apakah yang bisa mematikan kebenaran? 

SubhanAllah, semoga Allah menguatkan ummat Islam untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang benar. Amien.

Wallahu a’lam bissawab…

bersambung ke Perpindahan agama


Perpindahan agama kedalam agama Yahudi dan Islam

December 4, 2008

bersambunga dari Penyerangan Mumbai….

Salah satu perbincangan singkat saya dengan James adalah mengenai mengenai perpindahan agama ke dalam agama Yahudi.

So, Samantha ingin menjadi seorang Jew?”

“Oh, kamu tadi berbicara dengan Sam? Yah, dia mau masuk agama Yahudi.” Dia melanjutkan, “Para rabbi itu (yang memanggil Samantha) betul-betul giving her a hard time?”

“Kenapa para rabbi itu harus mempersulit perpindahannya?”

James mulai menjelaskan, “Agama Yahudi itu tidak sama dengan Christian dan Islam yang sangat concern dengan meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya penganut Yahudi akan selalu menjadi minoritas pada diaspora mererka masing-masing. Nah, ketika ada seseorang yang ingin masuk agama Yahudi, dia akan diuji apakah benar-benar dia seorang Jew. Menurut kepercayaan, semua roh orang Yahudi, baik lampau maupun akan datang, telah hadir pada saat terjadinya perjanjian (covenant) di Gunung Sinai antara Tuhan dan bangsa Israel.”

“Jadi ujian yang diberikan kepada Samantha adalah untuk menguji apakah rohnya hadir pada saat perjanjian itu?”

“Yah kurang lebih seperti itu.”

“Apakah kamu juga memberikan Samantha ‘a hard time’ ?”

“Apa? saya?  Oh tidak, saya mencintai Samantha.”

“Tidakkah kamu ingin mengetahui apakah rohnya Samantha benar-benar ada di Mount Sinai pada waktu itu?” saya bertanya sedikit menyindir namun juga serius.

No…itu adalah tugasnya para rabbi.”

Penjelasan James berakhir disitu, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya mengenai conversion to Judaism bagi saya. Saya membandingkannya dengan proses masuk Islam seorang muallaf, begitu mudahnya, tanpa embel-embel, tanpa rintangan dan hambatan. Seseorang cukup mengucapkan shahadah ” ashadu an La ilah ha illa Allah, Muhammadan Rasulullah” dimana pun dan kapan pun dia inginkan. Sebenarnya tidak perlu di hadapan seorang imam apalagi restu seorang imam, atau dihadapan siapa pun. ini adalah urusannya dia dengan Allah. Sebenarnya orang yang menyatakan shahadah di hadapan orang sekedar sebagai bentuk pengumuman bahwa “hey, saya sekarang seorang muslim, oleh karena itu terimalah saya sebagai saudaramu, dan biarkanlah orang yang benci membencinya”; bukan untuk mendapat pengakuan atau persetujuan siapapun. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa kata-kata prosesi “peng-islaman” atau “di-islam-kannya ” seseorang, sebagaimana seringnya disebut di negara kita, harus ditinggalkan jauh-jauh. Emangnya “pembaptisan”! Sepertinya kata ”ke-islaman” seseorang insyaAllah lebih tepat sebab ketika seseorang masuk Islam, orang itu sendiri yang menjadi “subyek”, dia yang in control; bukan “obyek”. Dia tidak “di-Islamkan” oleh siapa pun; dia “meng-Islamkan” dirinya sendiri dengan bimbingan dan hidayah oleh Allah SWT.

Yah, itulah keunikan Islam, yaitu iman adalah haq dasar (fitrah) sejak lahir dan ia adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi yaitu hubungan pribadi antara tiap-tiap individu dengan Penciptanya Allah SWT! Oleh karena itu yang menyaksikan, yang memberikan petunjuk, yang menetapkan, yang memaklumkan, yang mem-pass atau meng-approve  keimanan seseorang adalah yang menciptakan orang itu yaitu Allah SWT! Tidakkah itu sudah cukup?

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah.” Dia menjadi saksi antara aku dan kamu….. (Al Anam: 19)

Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”  (Al Isra : 96)

“Inna Allah ‘ala kulli shain shaheed” (sesungguhnya Allah maha menyaksikan segala sesuatu).

Suatu waktu, insyaAllah, saya harus memberi tahukan ini kepada Samantha, tentang keterbukaan dan kemudahan yang ditawarkan Islam. Saya tidak tahu seberapa keras “hard time” yang harus dia lalui untuk masuk agama Yahudi, tapi satu setengah tahun sepertinya waktu yang cukup lama untuk mendapatkan “pengakuan” ke-Yahudiannya. Dan kalau sampai dia atau siapapun yang ingin masuk Islam ingin diuji keimanannya, maka don’t worry, Allah SWT inysaAllah akan memberikan semua ujian yang kamu inginkan:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah: 214).

 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al Ankabut: 29)

SubhanaAllah, Ya Allah kuatkan hati kami dalam menghadapi cobaan yang engkau berikan kepada kami…

Wallahu a’lam bissawab….


You are a looser living in a nonbeliever society, unless….

October 3, 2008

Ayman menelponku dari kamar gawat darurat, “Ali, saya akan sedikit lebih lama karena dokter belum datang. Bisakah kamu menungguku sedikit lebih lama.”

“Ok, Ayman, no problem, inysa Allah.”

Let’s just wait for Ayman in the car,” usulku kepada Omar. “He said he needs more time.”

Ayman, lelaki setengah baya, adalah brother dari Jordan dan sekaligus my roommate yang menempati ruang tamu di apartement Del Sol nomor 8. Malam ini, dia sakit gigi sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Untungnya – Alhamdulillah – ada Omar, brother dari Somalia yang telah menjadi US citizen, punya mobil, cukup established dan selalu menawarkan bantuannya kepada seorang ‘musafir’ seperti saya. Malam ini, tawarannya akhirnya dapat disambut dan bermanfaat dengan mengantar Ayman ke Rumah Sakit Chandler.

Saya dan Omar akhirnya memilih menunggu di mobilnya yang terparkir di parking lot, sebenarnya  sekaligus untuk suatu tujuan: melanjutkan mendengarkan CD ceramah kumpulannya Omar dari syekh yang dia kagumi, Syekh Sayyid Muhammad Ya’qubi. Belum pernah ada brother yang saya temui yang lebih banyak mengucapkan “Subhana Allah” daripada Omar. Alhamdulillah berada bersama Omar insya Allah ingat Allah terus. Dan Omar dan saya punya satu hal in common, yaitu mendengarkan Islamic Lectures. Omar senang sekali membagi-bagikan CD ceramah dari Syekh Ya’qubi ini kepada brother muslims di Masjid. Subhana Allah, begitu bermanfaatnya mendengarkan ceramah keagamaan sambil mengisi waktu daripada mendengarkan lagu-lagu Bon Jovi misalnya - naudzu billah.

Syekh Muhammad Ya’qubi adalah pembicara yang sangat fasih dan eloquent dan sangat menarik untuk didengar. Dia adalah seorang Syekh dari Syria dan sekarang berdomisili di London dimana dia melakukan kegiatan dakwahnya. Kali ini ceramahnya adalah tentang pentingnya dakwah, dan karena ceramahnya ada pada konteks masyarakat Inggris, dia menyampaikan satu pesan penting dengan mengatakan: “You are a looser living in a nonbeliever society….unless you do the dakwah”

Dasar dari argumentasinya ini memang adalah ijma atau concensus para ulama, yang didukung dengan berbagai ayat dan hadiths dan sejarah kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Dia mengatakan hidup kita ini memang semata-mata un untuk hidup secara syari beribadah kepada Allah Azza wa Jal, menjalankan syariah (cara hidup islam) sehingga harus selalu mencari tempat yang dapat mendukung kehidupan syari’ itu. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) dan para sahabatnya, hijrah ke Madinah walaupun harus meninggalkan dan mengorbankan segala harta, rumah, dan kekerabatan di Makkah pada waktu itu, untuk satu tujuan, membangun masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam. Zaman sekarang, justeru kebalikan: masyarakat Muslim dari negara berpenduduk mayoritas Muslim datang ke Western World, meninggalkan suara adzan dari banyaknya masjid yang tersedia di tanah air, sekedar untuk mengejar satu hal - dolar! Subhana Allah!

Pesan Ya’qubi ini sama dengan pesannya Bilal Philips pada suatu topik ceramah yang sama (Dakwah in the West) yang mengatakan, “Your dakwah justifies your staying in a predominantly nonbeliever society.”

Wallahu a’lam bissawab….

Ya Allah, please make us among those who are not  the loosers. Amin…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.