Cukup untuk Semua

November 25, 2009

Professor Pijawka berdiri didepan kelas menerangkan kepada mahasiswa beberapa konsep urban sustainability kepada kami. Para mahasiswa duduk berjejer dalam tiga baris dibelakang meja masing-masing. Ruangannya sedikit dingin, karena AC sentral yang berhembus dari ventilasi yang tergantung pada langit-langit ruangan. Tiba-tiba salah satu mahasiswi yang sedang duduk pada deretan paling depan – kalau tidak salah namanya Jesicca – mengeluarkan sebuah lunch box, kemudian mulailah ia makan hidangan dinner-nya dengan lahap, sambil mendengarkan penjelasan professor Pijawka. Mungkin saya saja dalam ruangan yang memperhatikan Jesicca dari belakang, bagaimana ia makan dengan lahapnya. Saya tahu bahwa memperhatikan seseorang makan tidaklah sopan, hanya saja saya tidak dapat berhenti memikirkan kebiasaan yang lazim ini dari para mahasiswa US: makan di ruangan kelas!

Satu contoh lagi, kadang para mahasiswa di ASU (Arizona State Univeristy) berada dalam diskusi untuk sebuah group project, kemudian di tengah-tengah diskusi tiba-tiba salah satu diantara teman group – tanpa permisi, tanpa meminta maaf, apalagi menawarkan – mengeluarkan sandwich dan langsung menikmatinya sendiri…!

Seorang teman, Aron, pernah bertanya kepada saya, “Apa salah satu cultural shock yang paling besar yang kamu rasakan disini?” Saya jawab, “makan di kelas..!” Tanpa penjelasan yang panjang lebar saya katakan, “I just can’t do it, no matter how hungry am, I just cannot and will not do it. I’d rather eat before or after class.

Di Indonesia, ketika kita hendak makan, adalah sebuah kebiasaan sopan santun untuk memanggil dan mengajak teman atau orang-orang yang berada di dekat kita untuk ikut makan walaupun sekedar basa-basi. Makan di dalam budaya Indonesia adalah sebuah ritual yang sangat sakral dimana ia merupakan sebuah kesempatan bagi kita untuk berbagi, bertenggang rasa, dan bersyukur kepada Yang Memberikan kita makanan yaitu Allah Azza wa Jal. Saya sangat bersyukur bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia masih mempertahankan budaya kekeluargaan ini, dan tidak mengekor pada budaya individualistis yang ada pada mahasiswa Amerika. Dan inshaAllah tetap dilestarikan.

Apakah etika sopan santun kita mengenai makan memang built-in sebagai orangr Timur atau mungkin faktor ketaatan kita kepada agama? Allahu a’lam. Yang jelas, kita sebagai orang Islam wajib mengetahui bahwa urusan makan-makan memang mempunyai kedudukan yang sangat penting. Kata makan di dalam Al Quran terdapat sebanyak kuang lebih 40 Kali (Sheikh Ahmad, Imam Masjid ICC Tempe). Salah satu ciri orang yang bertaqwa  adalah selalu menempuh jalan kebaikan yang “mendaki” yaitu memberi makan pada kepada orang yang membutuhkan (Quran Al Balad: 14). Sebaliknya, orang kafir selalu digambarkan sebagai orang yang tidak suka memberikan makan. Bahkan dalam Surah Yasin, jawaban mereka sangat “kurang ajar”, dengan mengatakan seolah-olah mengatakan “itu urusan Allah”:

Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.” (Quran Surah Yasiin: 47)

Para Sahabat radiallahuanhum, dikarenakan ketaqwaan mereka dan karena urusan makan-makan ini, memperlihatkan suatu akhlak yang mulia yang mana Allah Azza wa Jal memuji sikap mereka dan mengabadikannya di dalam Al Quran:

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (Quran Al Insan: 8-9)

Latar belakang turunnya (asbabun nuzul) ayat ini berkaitan dengan perang Badr. Ketika perang usai, para Sahabat radiallahuanhum menawan beberapa musyrikin mekah dan membawanya ke Madinah. Dalam masa tahanannya, para tawanan diberikan makanan oleh para Sahabat walaupun para Sahabat juga membutuhkan makanan itu. Sikap ini ditanggapi oleh para tawanan musyrikin dengan mengatakan, “Kalian adalah penawan yang paling baik yang pernah kami temui.” Para Sahabat, dalam ayat tersebut diatas, bahkan tidak menuntut ucapan “terima kasih” dari para tawanan melainkan “hanya” mengharapkan keridhaan dan pertemua dengan Allah Azza wa Jal. SubhanaAllah!

Bagaimana pula sikap Nabi Ibrahim ‘alaihisalam masalah makanan? SubhanaAllah, Nabi Ibrahim ‘alaihisalam yang digelari oleh Allah Azza wa Jal khalil-ul-Allah adalah jagonya! Bukankah hal yang pertama Nabi Ibrahim ‘alaihisalam lakukan ketika para tamu (para malaikat) datang kepadanya adalah memberikan makan (Quran Surah Adz Dzaariat: 27)

Al kisah pulan Nabi Ibrahim ‘alaihisalam selama hidupnya tidak pernah makan sendiri…! Ketika Ia ‘alaihisalam hendak makanan tetapi tidak ada orang untuk menemaninya untuk makan, maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan keluar untuk mencari seseorang untuk menemaninya makan dan tidak akan kembali sampai ia ‘alaihisalam menemukan seseorang.

Didalam sebuah lecture series, Sheikh Riyadul Haq (seorang sheikh asal Inggris) menjelaskan tinkat ketelitian Imam Bukhari dalam menyaring kesahihan hadiths-hadiths yang ia kumpulkan. Ketika Imam Bukhari melakukan cross examination super ketat kepad para perawinya, al kisah Imam Bukhari tidak akan menerima qualifikasi seorang perawi seandainya si perawi itu dilaporkan memiliki kebiasaan makan sendiri di pinggir jalan tempat dimana orang berlalu lalang…!

Begitu tingginya standar akhlak Nabi kita, para Sahabat, dan para imam terdahulu (salafussalih) mengenai makanan. Makan dalam Islam memiliki kaidah tersendiri: tempat, waktu, dan pelaksanaan. Bukanlah pula jumlah yang menentukan, tetapi makan bersama adalah yang membawa keberkahan sekalipun jumlahnya sedikit.  Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengatakan dalam sebuah hadiths :

Makanlah bersama dan janganlah berpisah, Makanan untuk satu orang cukup untuk dua dan …” Muslim 2059 , Musnad Imam Ahmad 13810, Tirmizi 1820 , ibn Majah 3254.

Mari kita makan ramai-ramai, duduk bersama, bersyukur kepada Allah Azza wa Jal, inshaAllah makanannya cukup untuk semua. Amin.


Jangan Malu Katakan InshAllah

June 3, 2009

Kita hidup dalam suatu zaman dan lingkungan yang membuat kita sangat jauh dari pengakuan akan keberadaan Allah: dalam percakapan kita sehari-hari, di tempat kerja, ketika ke pasar, di lingkungan keluarga – bahkan, dan di lingkungan kampus. Ketika menyebut nama Allah atau mengasosiasikan sesuat dengan kekuasaan-Nya, maka sering orang-orang di sekitar kita seolah-olah akan membahasakan sikap: “Oh no, not God again.” (astagfirullah).

Hal ini sama dirasakan oleh produser Nathan Frankowski  dan host Ben Stein yang tahun lalu (2008) memproduksi film dokumenter independen “Expelled: No Intelligence Allowed.” Mereka menggambarkan suka duka beberapa professor dan ilmuan di beberapa lingkungan kampus US yang dipecat dari posisi mengajarnya hanya karena telah menulis, menyebut, atau mendukung teori Intelligent Design, yang merupakan oposisi langsung dari teori Evolusionis dan Darwinis. Kampus-kampus di Amerika, menurut film dokumenter ini, memang sedang dikuasi oleh kedua paham ateism terakhir ini.

Sudah sedemikian dikuasainya kita ole ide-ide sekularisme dan ateisme, sampai-sampai kita pun sudah menjadi sangat minder dan menciut untuk berbangga membanggakan penyebutan kekuasaan Allah. Allah mengatakan dalam Al Quran: “…..fa qulu sh haduu bi anna muslimuun” (dan katakanlah (berbanggalah) bahwa saya sesungguhnay adalah seorang Muslim) (Surah Ali Imran: 64).

Oleh karena itu, hal yang paling tidak kita bisa lakukan untuk kembali membanggakan keberadaan dan kekuasaan Allah adalah melakukan beberapa penyetelan dalam tata cara berucap dan berkata kita. Misalnya, alangkah indahnya bilamana kita semakin sering menggunakan kata “inshaAllah” ketika kita berbicara dalam bentuk future tense. Ketika saya melamar pada program scholarship Fulbright tahun 2008, salah satu dokumen penting diterimanya aplikasiku itu adalah deskripis post-study plan.  Sebagai seorang Muslim yang inshaAllah ingin melaksanakan perintah Allah, saya sangat risih ketika saya mengatakan “I will” tanpa dibarengi dengan “inshaAllah”. Orang lain mungkin berpikir dokument post-study plan itu terlalu formal untuk diselipkan kosa kata inshaAllah apalagi yang membacanya mungkin saja orang Amerika yang sama sekali tidak paham artinya. Namun Alhamdulillah saya memutuskan untuk tetap menggunakannya. Alhamdulillah, sekarang saya sedang berada dalam tahun keduaku dalam program Fulbright.

Memang Allah telah mengatakan dengan jelas dalam Al Quran:

kahfi23-24

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. Kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”…(Al Quran Surah Al Kahfi 23-24).

Allah juga menggambarkan kepada kita cerita tentang pemilik-pemilik kebun dalam Surah Al Qalam dimana mereka berniat memetik buah-buahan di kebun mereka pada pagi harinya. Ketika mereka tiba di kebun, mereka mendapati kebun itu sudah hancur diliputi suatu bencana. Allah telah mengirim bencana tersebut karena kesombongan mereka dan karena mereka tidak berkata: “inshaAllah.”

al Qalam 17

Dan mereka tidak menyebut inshaAllah (Al Quran Surah Al Qalam: 18 – terjemahan Muhsin Khan).

Kita sendiri semua pasti sudah mengalami saat-saat dimana perencanaan dan perhitungan sudah sangat matang namun akhirnya hasil yang keluar sangat jauh dari yang diharapkan. Lemah, begitu lemah kita semua; sombong, begitu sombong kita ketika menolak untuk mengingat bahwa Kehendak Allah diatas kehendak semuanya.

Di Dawa Table (Meja Dawa) kami di  kampus Arizona State University, saya pun Alhamdulillah sering menyebut inshaAllah ketika berbicara dengan pengunjung yang datang berdiskusi mengenai Islam. Saya katakana misalnya: “InshaAllah we will be here every Monday to Friday, 10.00 am to 2.00 pm. So, if you have some other questions, just feel free to stop by and have a little chat with us.” Kadang yang mendengar tidak terlalu memperdulikan apa yang saya omongkan. Dia berpikir munkin saya tadi berkumur-kumur. Tapi kadang ada juga yang bertanya, “What was that you said?” Saya jawab “Oh ‘inshaAllah’, it means ‘by the will of God’.”

Saya pernah katakan kepada temanku, Pablo, yang sering berkunjung ke Meja Dawa kami, “Apa kamu ingat film Rambo 3, pada bagian paling akhir film tersebut …. apa kamu ingat kata-kata terakhir si Sylvester Stallone dalam film tersebut kepada para mujahidin?” Pablo mengatakan tidak ingat sebab dia belum pernah nonton (waduh…kadang saya lupa bahwa saya sudah begitu tua dan para undergrad di sini masih begitu muda; mereka hidup pad zaman perfilman yang berbeda dengan saya). Saya katakan apa yang Rambo katakan: “inshaAllah..!”

Begitupun dengan beberapa kosakata dan ekpresi yang perlu kita semakin sering ungkapkan ketika kita berbicara – paling tidak dengan sesama Muslim – adalah kata-kata: Alhamdulillah, MashaAllah, SubhanaAllah (daripada “luar biasa”); Wa Allahu a’lam (daripada “saya tidak tahu”); dan JazakAllah khairan dan BarakaAllah (daripada “terima kasih”). Semua kata-kata ini subhanaAllah mengandung penyebutan asma Allah, dzikir kepada Allah, dan ibadah kepada Allah. Tidak ada hal yang paling memuaskan dalam hidup ini kecauli kesyukuran kepda Allah. Kata “terima kasih” misalnya; padanya, adakah penyandangan (acknowledgment) kepada Kekuasaan Allah serta doa dan harapan kepadaNya, ataukah ia hanyalah rangkaian semantik yang manis di bibir…?

Beberapa tahun yang lalu di Jalan Ratulangi terjadi tabrakan seorang pengendara motor. Wajah dan mulutnya berlumuruan darah dan dia pun tidak sadarkan diri. Masyarakat menghentikan sebuah pete-pete (mikrolet) untuk melarikan korban ke Rumah Sakit Labuang Baji. Hanya saya dan si korban berada di bagian belakang pete-pete dan sopir di depan. Korban terlentang di lantai pete-pete ketika tiba-tiba ia siuman. Wajahnya mulai bergerak-gerak dan ketika dia bisa mengeluarkan satu dua kata-kata, hal yang paling pertama ia katakan secara berulang-ulang adalah: “ Ya Malle” (bahasa Makassar: Oh ibu). Saya kasihan sekali dengan kondisi Bapak ini, bukan karena lumuran darahnya yang memenuhi wajahnya, tetapi karena ucapannya. Bagaimana seandanya di meninggal pada saat itu dan “Ya Malle”-lah menjadi kata-kata terakhirnya, wal yaudzuillah. (Wallahu a’lam apa yang terjadi pada Bapak tersebut setelah saya meninggalkannya di rumah sakit. Semoga Allah melindunginya).

Apakah penyebutan asma Allah telah menjadi kebiasaan di bibir kita? Kali lain, ketika kita naik pesawat dan terjadi sedikit turbulence, perhatikanlah… bagaimnaa first response kita? Apakah seruan asma Allah yang kita ucapkan… ataukah selain dari-Nya…(wal yaudzubillah)…?

Semoga penyebutan asma Allah benar-benar menghiasi kehidupan kita sehari-hari sehingga ketika tamu yang satu itu datang (kematian), dankedatangannya pun sudah sangat dipastikan, kata-kata terkhir kita adalah “Laa ilah ha illa Allah” …..inshaAllah.

Amin.


Siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika…?

June 1, 2009

Saya sangat bangga berjalan keliling kota Tempe berasama istriku tersayang: ke Mekong Super Market (super market-nya orang Asia di kota Tempe); ketika naik bus; menyeberang jalanan di lampu merah; dan bahkan bersepeda di sekeliling kampus ASU dan di Hayden Park. Lho, memang kenapa sangat bangga? Karena istriku memakai jilbab dan gaun muslimah. Istriku adalah pembawa bendera labang identitas kita, identitas bahwa kami adalah Muslim di tengah masyarakat non Muslim.

Dengan memakai jilbab keliling kota Tempe, kami dikenal oleh saudara-saudara Muslim lainnya yang kami jumpai. Banyak dari mereka tidak akan pernah kami sadari bahwa mereka adalah Muslim seandainya istriku tidak memakai jilbab, tetapi ketika mereka melihat istriku, para suadara Muslim tersebut akan menghampiri kami dan langsung mengucapkan “Assalamu alaikum!” Sering pula dari kejauhan ada yang berteriak “Assalamu alaikum!” sambil mengangkat tangan.

Ketika kami berjumpa dengan wanita muslimah lain yang memakai jilbab, dari kejauhan sebelum berpapasan saya akan berbisik kepada istriku, “tu sallim, tu sallim,” Istriku akan menjawab sedikit marah, “memangnya saya ini Azuz…..” Ooh yah, jadi ceritanya begini, di masjid, ada anak teman kami yang bernama Azuz. Azuz berumur kurang lebih dua tahun. Si Azuz itu anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Ketika kami kami berjumpa dengan Azuz dan Ibu Bapaknya di Masjid, Ibu Bapaknya akan menyuruh Azuz bersalaman dengan kami atau dengan siapa pun yang ingin bersalaman dengannya; orang tuanya menyuruhnya dengan bahasa Arab, “Tu sallim, tu sallim.” (salamilah, salamilah). Nah begitulah candaku kepada istriku ketika kami melihat wanita muslimah lainnya, saya akan mengatakan “siap-siap tu sallim.”

Istriku itu kadang sangat sombong. Ketika jilbab dan pakaiannya diperhatikan dan dipandangi oleh orang-orang Amerika disini, dia justeru akan sedikit menyombongkan keindahan busana muslimahnya dengan cara memasang wajah yang sok berwibawa. Waduh, ini sungguh membuatku repot, saya harus terus mengingatkannya, “Sayang, berjalanlah dengan biasa-biasa aja, dan janganlah sombong.” Orang Amerika sesungguhnya sangat senang melihat jilbab muslimah istriku.

Sudah terlalu sering istriku dipuji jilbabnya atau sekedar senyuman ketika berpapasan dengan orang Amerika. Diatas bus ada seorang wanita yang memperhatikan istriku terus dengan penuh penasaran, dan akhirnya tidak sabar untuk menanyakan tentang cara pemakaiannya, “I’m sorry, is that just one piece of material you shape and wear?” Sayang sekali kita harus turun di stop berikutnya sehingga tidak dapat bercakap-cakap lebih lama. Dia mengatakan “It’s very beautiful.”

Ketika kami berjalan dan bertemu dengan wanita Arizona, terutama di musim panas sekarang ini, yang berpakaian super minim, saya akan bercanda dengan istriku agar dia berdiri di samping wanita berpakaian minim itu. Saya berpikir, “Mudah-mudahan orang Amerika melihat perbedaan yang sangat mencolok ini, bahwa pakaian muslimah itu sangat indah, santun dan berwibawa, sementara ketelanjangan sangat sangat merendahkan.” Saya yakin seandainya istriku dipasangkan berdiri berdampingan dengan salah satu tipikal wanita Arizona yang berpakaian super minim, kemudian ditanyakan kepada para ibu-ibu Arizona sendiri: “Dengan model berpakaian yang manakah anda akan merasa lebih aman dan nyaman untuk anak remaja putri anda ketika ia keluar dan bergaul dengan teman-temannya (termasuk para lelaki hidung belang)?” mereka (para ibu) pasti dalam hati mereka yang terdalam, akan menunjuk ke model pakaian istriku yang berjilbab dan bergaun muslimah.

Dari sudut pandang kesehatan pun saya berpikir. “Masak sih mereka tidak melihat rasionalitas berpakaian muslimah ini dibawah terikan panas matahari.” Saya tidak habis pikir kenapa wanita Arizona disini justeru harus semakin berpakaian minim di musim panas. Gerah, mungin iya, tetapi ancaman kanker kulit itu…waduh, berpakaian muslimah justeru lebih rasional.

Ingin dikenal sebagai seorang Muslim, saya pun kadang sengaja memakai topi haji. Tapi memang efek penghormatan dari saudara sesama Muslim maupun nonmuslim tidak sebesar identitas jilbab dan gaun muslimah. Pernah terjadi di bandara ketika istriku baru landing di Los Angeles, para penumpang yang baru datang memasuki Amerika diminta untuk membuka bagasi masing-masing di bagian custom. Banyak barang-barang dari bagasi tersebut disita misalnya karena membawa makanan dari negara masing-masing. Istriku pada ketika itu juga sudah memasrahkan semua perbekalan makanan khas Makassar di situ oleh custom….tiba-tiba salah satu petugas custom mengatakan, “Assalamu alaikum sista, where are you from, Malaysia?” Petugas custom tersebut, kata istriku, adalah seorang lelaki setengah baya etnis kaukasian dan bahasa Inggrisnya sangat fasih. Siapa yang tahu bahwa dia seorang Muslim seandainya istriku tidak berpakaian muslimah. “No, I’m from Indonesia,” jawab istriku. Pendek cerita, semua cemilan dan makanan khas Makassar yang telah dibawa oleh istriku di lewatkan di pos pemeriksaan custom walaupun istriku sudah memasrahkannya untuk disita.

Jadi, siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika…?

Ok, ok. Mungkin saya terlalu membanggakan istriku. Memang penhargaan utama haruslah disandangkan kepada badge of honor (lambang kehormatan) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada ibu-ibu dan saudari-saudari kami di dalam Al Quran yakni pemakaian jilbab atau hijab. Jadi kebanggaan ini milik semua muslimah yang ingin mengenakan kebanggaannya. Semoga saja semakin banyak wanita muslimah yang sadar akan kehormatan ini.

Amin ya Rabbal alamin, wallahu a’lam bissawab.


Islam: Agama berikut di Amerika?

March 10, 2009

 Amerika Serikat mulanya adalah surga bagi pelarian ummat Kristiani. Namun agama apakah sekarang yang cocok untuk para zeitgist? Jawabannya mungkin saja adalah Islam

Warga Amerika condong memiliki pemahaman bahwa negaranya adalah sebuah negara Kristen. Bukankah para peziarah (para zeitgist) awalnya datang ke sini untuk mempraktekkan kekristenan mereka? Bukankah orang Kristen sangat menghargai kehidupan di bawah naungan Tuhan dan kebebasan, memperkuat nilai-nilai demokratis dan kapitalis mereka?

Memang benar. Namun, sekarang ada sebuah agama baru “on the block”, suatu agama yang sangat cocok bagi para zeitgeist. Agama itu adalah agama Islam.

Islam adalah agama ketiga terbesar dan komunitas keagamaan yang paling pesat perkembangannya di Amerika Serikat. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor imigrasi. Lebih dari 50 persen dari 6 juta warga Muslim Amerika merupakan kelompok yang lahir di Amerika. Indikasi statistik seperti ini memperlihatkan adanya hubungan erat antara nilai-nilai dasar warga Amerika dengan ajaran dasar agama Islam. Warga Amerika yang berani membuka hati dan meneliti sendiri, menjauh dari steriotip popular tentang Islam selama ini, di buat tercengang dengan menemukan banyaknya kesamaan nilai dan ajaran dasar itu. Apakah Amerika akan segera menjadi negara Muslim? Berikut adalah tujuh alasan kenapa jawabannya mungkin saja benar.

1. Islam adalah agama monotheistis. Orang Islam menyembah Tuhan yang sama yang disembah orang Yahudi dan Kristen. Islam juga memiliki nabi dan rasul yang sama seperti Yahudi dan Kristen, dari Nabi Ibrahim, nabi monotheist pertama; Nabi Musa, sampai ke Nabi Isa (Jesus) – dan termasuk pula Nabi Nuh, Yakub, ataupun Isaiah. Konsep dari budaya Judeo-Kristen baru muncul pada tahun 1940an di Amerika. Sekarang, sebagai sebuah negara, sangat mungkin kita semakin bergerak kearah tersebut, berpindah menuju pandangan “Abrahamic” yang lebih inklusif

2. Islam memiliki nilai-nilai demokrasi. Islam mengajarkan adanya hak untuk bersuara dan berpendapat, mendapatkan pendidikan dan memiliki penghidupan atau sebuah profesi. Al Quran, yang merupakan sumber ajaran dan hukum Islam, menganjurkan orang Islam untuk melaksanakan pemerintahan atas dasar diskusi dan konsultasi. Di Masjid, tidak ada hirarki kependetaan. Di dalam Islam setiap pribadi bertanggung jawab terhadap diri masing-masing. Setiap pribadi berdiri sejajar di hadapan Tuhan. Kebanyakan warga Amerika yang mengaitkan pemerintahan Islam di negara-negara Islam dengan system tiran, menemukan konsep kesejajaran ini dalam ajaran Islam ini sangat jauh dari kenyataan. Memang hal ini sangat jauh dari kebenaran. Para diktator yang sedang berkuasa di negara-negara Timur Tengah bukanlah hasil dari ajaran prinsip Islam. Mereka lebih merupakan hasil dari situasi ekonomi global dan sisa-sisa peninggalan kolonialisme Eropa.

3. Islam memiliki tradisi spiritual yang sangat menarik. Spiritualism disini adalah adanya dorongan untuk mencari dan kembali kepada Tuhan. Amerika sebenarnya merukapan tanah para pencari spiritualisme. Sangat mengherankan, salah satu kumpulan puisi best-seller di Amerika adalah, puisi kumpulan Rumi, seorang Muslim asal Persia 800 tahun yang lalu penemu tariqat Mevlevi, yang lebih dikenal di Barat sebagai Whirling Dervishes.

4. Islam memiliki nilai-nilai egalitarian. Dari New York sampai California, satu-satunya tempat ibadah yang secara rutin terintegrasi kedalam masyarakat adalah masjid-masjid yang sampai sekarang berjumlah sekitar 4,000an. Hal ini disebabkan karena Islam berlandaskan kemasyarakatan, terutama kalau urusannya adalah berdiri di hadapan Tuhan. Pledge of Allegiance (Janji setia warga Amerika) yang menyatakan adanya satu negara di bawah naungan Tuhan dan Pidato Gettysburg Lincoln yang menyatakan setiap manusia diciptakan sama, mengekspresikan tema-tema yang sama terdapat di dalam ajaran dasar Islam.

Islam sering dipandang sebagai agama yang agresif karena adanya ajaran Jihad, namun sebenarnya kata ini adalah kata yang paling sering disalahartikan. Karena orang Islam percaya bahwa Tuhan menghendaki keadilan, maka mereka cenderung manjadi aktivist kepada gerakan tersebut, dan mereka percaya pula bahwa setiap pribadi memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan. Inilah alasan kenapa warga kulit hitam Amerika menjadi sangat tertarik masuk kedalam Islam. Mereka kini mewakili sepertiga jumlah warga Muslim di Amerika.

Ajaran egalitarian ini menaungi baik lelaki maupun wanita. Muhammad (saw), utusan Tuhan dalam ajaran Islam, sebenarnya adalah seorang reformist pada masanya. Atas dasar perintah Al Quran, beliau (sawa) justeru membatasi jumlah istri yang boleh dimiliki seorang lelaki dan memberikan persyaratan yang sangat khusus dan ketat bagi yang berniat berpoligami. Al Quran memberikan hukum-hukum pernikahan yang memberikan jaminan kepada wanita untuk tetap menggunakan nama keluarganya, hak kepemilikan atas harta, hak menentukan pasangan hidup, dan hak untuk mengajukan perceraian. Pada masa awal Islam, para wanita memiliki profesi dan menjadi tuan tanah, sebagaimana lazimnya sekarang ini. Kenyataan-kenyataan ini tidak terlihat jelas bagi kebanyakan warga Amerika disbabkan adanya pengaruh budaya yang sering sekali membuat Islam menjadi agama yang seolah-olah sangat represif terhadap kaum wanita. Namun, dengan melihat secara seksama, akan mereka dapat menyadari ajaran egaliter ini yang masih terpelihara di dalam Al Quran. Di Iran misalnya, terdapat lebih banyak wanita yang belajar di Universitas daripada kaum lelaki, dan pada pemilu yang baru saja dilaksanakan disana, terdapat kurang lebih 5,000 wanita yang menjadi calon legislatif.

5. Islam memiliki ajaran yang sejalan dengan trend baru warga Amerika yaitu kebersihan makanan dan aturan diet. Warg Muslim melaksanakan satu bulan puasa dalam bulan suci Ramadan, suatu cara hidup yang banyak warga Amerika kagumi bahkan mencoba untuk mengikuti. Warga Muslim pula memiliki hukum-hukum diet yang mengatur macam daging yang boleh dan tidak boleh dimakan. Aturan ini menyatakan bahwa daging yang dibolehkan, yakni daging halal, disediakan melalui suatu cara yang menekankan prinsip kebersihan dan kemanusiaan terhadap binatang sembelihan. Aturan ini berjalan di suatu dasar yang membuat makanan organik semakin populer.

6. Islam sangat toleran terhadap agama lain. Sebagaimana halnya Amerika, Islam memiliki sejarah toleransi terhadap agama lain. Pada masa hidup Muhammad (saw), orang-orang Kristen, Sabiin, dan orang Yahudi yang hidup di tanah Muslim mendapatkan hak otonomi yang cukup besar. Ketika Islam menyebar ke arah timur, ke India dan China, agama Zoroastrian, Hindu, dan Buddhisme juga mendapatkan perlindungan yang serupa. Ketika Islam menyebar ke arah utara dan barat, agama Yahudi justeru yang paling diuntungkan. Warga Yahudi akhirnya dapat kembali ke Yerusalem setelah lama terlunta-lunta di pengembaraan hanya ketika Islam menguasai kota Yerusalem pada tahun 638 M. Hal pertama yang dilakukan orang Muslim pada waktu itu adalah menyelamatkan Temple Mount, yang pada waktu itu telah dijadikan tempat pembuangan sampah.

7. Islam mengajarkan kebebasan beragama. Para peziarah yang di di Plymouth Rock bukanlah cerita pertama mengenai emigrasi keagamaan. Muhammad (saw) dan pengikutnya yang berjumlah kurang lebih 100 orang meninggalkan pula penindasan keagamaan yang mereka alami, dari Mekah pada tahun 622 M. Mereka menyelamatkan diri dengan berhijrah ke Madinah, suatu oase yang terletak beberapa ratus kilometer kearah utara, dimana mereka mendirikan sebuah komunitas yang berdasarkan suatu agama yang hanya dapat mereka laksanakan secara terbatas dan tertindas ketika mereka masih berada di tanah kelahiran Mekah. Pantas saja, pada masa sekarang ini, terdapat banyak Muslim yang datang ke Amerika sebagai alternatif dari ketertindasan yang mereka alami di negara asal, seperti Kashmir, Bosnia, dan Kosovo, dimana menjadi seorang Muslim di daerah-daerah ini mengalami banyak kezaliman. Jika daftar emigran abad ke-20 dijumlahkan, akan terlihat jelas bahwa emigran Muslim memang sangat banyak.

Siapa tahu saja, mungkin tidak lama lagi bahwa kata-kata seperti “salat” (ibadah lima kali sehari seorang Muslim) dan “Ramadan” akan sangat lazim terdengar dan semakin lazim ditemukan di dalam kamus Webster’s sebagaimana kata “karma” dan “nirvana”, dan warga Muslim akan mendapatkan tempat khusus di dalam kehidupan arus utama Amerika Serikat.

(oleh Michael Wolfe, 2001, diterjemahkan dari http://www.ahmed-deedat.co.za)

Michael Wolfe adalah seorang sastrawan, penulis, and Presiden dan Executive Producer perusahaan media Unity Production Foundation. Beliau sering menjadi pembicara masalah studi Islam di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Melalui aktivitasnya pada media, dia telah memproduksi dua film dokumenter tentang Islam: “Hajj from Mecca” dan “Muhammad: Legacy of a Prophet” – kedua dokumenter tersebut mendapatkan sambutan yang cukup luas dan positif.


Psikologi orang Amerika masuk Agama Islam

February 11, 2009

bersambung dari “Shahadah Pertama di Dawa Table.”

Belajar dari peristiwa ke-Islaman Troy, dan juga dari mendengar ceramah work shop “How to give shahada in 10 minutes” oleh Kamal Al Makki yang saya dapat dari www.kalamullah.com, saya baru sadar bahwa psyikologi orang Amerika masuk agama Islam adalah bahwa mereka sebenarnya sangat menunggu untuk diundang, untuk dilamar. Penyebaran informasi mengenai agama Islam kepada mereka ternayta tidaklah cukup, tetapi undangan yang direct dan jelas dari orang-orang Islam mereka nanti-nantikan.

Bayangkan saja kamu diundang kesuatu acara, ulang tahun atau suatu syukuran, dimana dihidangkan santap siang. Kamu datang terlambat dan para hadirin yang lainnya sedang duduk-duduk di halaman depan dengan santai karena sudah kenyang menyantap hidangan makan siang. Kamu datang sendiri, dan tidak ada satu pun kamu kenal kecuali tuan rumah yang telah mengundang kamu. Hidangan siang terletak di dalam rumah, jauh di belakang. Dalam keadaan seperti ini, apakah kamu dapat dengan percaya diri melewati para tamu masuk ke dalam rumah untuk mengambil hidangan coto atau bakso – yang dari luar itu memang tercium sangat sedap - ditambah lagi kamu memang sangat lapar…? Kebanyakan orang akan duduk di luar dan tidak akan masuk kecuali sedikit didesak dan dibujuk dengan kalimat merdu ini: “Ayo Pak, mari masuk makan” lalu diantar langsung oleh sang tuan rumah. Mungkin inilah perumpamaan psikologi orang Amerika masuk agama Islam, mereka sangat berhasrat pada agama Islam namun menunggu saat yang special itu, ajakan langsung dari seorang Muslim.

Dan beginilah cara dawa Rasulullah (saw). Ketika musim haji telah tiba, di kota Makkah, Rasulullah (saw) akan mendatangi satu per satu jamaah, dan tidak hanya sekedar menjelaskan agama Islam, namun juga mengajak masuk agama Islam. Dalam ceramah work shop Kamal Al Makki, dia menceritakan bagaimana Rasulullah (saw) mengajak sekaligus menyadarkan Umar ibn Khattab (ra) yang sebelumnya sangat benci dan menjadi musuh dawa Islam: Rasulullah (saw) memegang kedua bahu Umar (ra) dengan kuat sambil berkata, “Tidakkah telah sampai waktunya engkau menjadi seorang Muslim, wahai Umar…!”

SubhanaAllah, hukum yang pasti mengatakan history tends to repeat itself (sejarah senantiasa terus berulang). Kalau sejarah perkembangan Islam di tanah air Indonesia terjadi dari interaksi antara pedagang Muslim dan nenek moyang kami yang pagan dan Hindu pada waktu itu (dan tidak seperti penindasan kolonialisme Belanda di tanah air dengan cara 3G – Gold, Glory dan Gospel), maka sangat sangat mungkin sejarah itu akan terulang di tanah Amerika Serikat ini. Begitupula, kalau sejarah rasisme dan penindasan orang kulit hitam terjadi kurang lebih 50 tahun lalu, pada masa Malcolm X dan Kings, dan kini mereka telah memiliki Obama sebagai presiden, maka dengan melihat perkembangan agama Islam di Amerika Serikat, sangat mungkin sejarah ini akan berulang pada orang-orang Muslim, kini tertindas di Guantanamo… 50 tahun ke depan – wa Allahu a’lam – Amerika akan memiliki Presiden Muslim Pertama.

SubhanaAllah, the power of directly proposing untuk masuk kedalam naungan teduh Dienul Islam…! InshaAllah, saya akan semakin sering meng-invite teman-teman dan siapa saja yang mungkin tertarik dengan Islam. Hanya Allah Azza wa Jal yang memberikan hidayah, namun Allah menawarkan kepada kita untuk menjadi pintu hidayah bagi hamba-hambanya…inshaAllah.  Amien.

Wallahu A’lam bissawab.


Shahadah Pertama di Dawa Table

February 11, 2009

Alhamdulillah, Allahu Akbar, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi brothers di Dawa Table; hari ini merupakan kali  pertama seseorang menyatakan shahadah di Dawa Table, declaration of faith, pernyataan ke-Islaman seserorang, bahwa dia percaya “tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad (saw) adalah utusan-Nya.

 Troy adalah mahasiswa yang majoring pada film industri di ASU. Sejak Spring semester lalu, Troy sering sekali datang sekedar nongkrong di Dawa Table. Kadang dia duduk saja melihat aktivitas kami. Dia sangat pendiam, oleh karena itu selama ini kita tidak menyangka apa yang ada dipikirannya – bahwa dia ternyata tertarik apa agama Islam. Kita selama ini sibuk memanggil dan menyapa para mahasiswa yang lewat dan tidak pernah memberikan dawa khusus, membahas dan menawarkan agama Islam kepada Troy.

Sampai akhirnya Jumat yang lalu dia datang berkunjung ke Masjid kami, Masjid Tempe. Dia datang atas ajakan Khalid. Khalid pada waktu itu tidak sempat salat Jumat di Masjid Tempe, akhirnya dia menelponku, “Assalamu alaikum brother Ali. Hey, Troy wants to come to the Masjid, can you host him?”

Alhamdulillah sure,” jawabku. Saya akhirnya menelpon Troy dan katakan bahwa saya menunggunya di Masjid. Alhamdulillah dia tiba pas sebelum adzan, sehingga kita berdua bisa masuk ke dalam Masjid dan inshaAllah tercatat dalam catatan malaikat pencatat para jamaah yang datang sebelum Khatib naik mimbar. saya menyiapkan Troy tempat duduk di belakang, tempat yang memang sudah disiapkan bagi pengunjung di masjid Tempe. ”So Troy, you can just sit, watch and listen here,” saya berusaha membuatnya nyaman. Saya sendiri ke deretan shaf bagian depan yang masih kosong.

SubhanaAllah, ternyata Troy tidak sekedar sit, watch, and listen. Dia ikut shalat di shaf belakang. Ini dia katakan kepadaku ketika shalat telah usai dan para jamaah sedang sibuk berkumpul di halaman dan pekarangan masjid, saling berbagi cerita sebelum pulang ke rumah dan kantor masing-masing. Dan karena dia sangat pendiam, ini dia katakan kepadaku setelah saya tanyakan kepadanya bagaimana keadaannya ketika jamaah sedang salat tadi, apa ia tetap nyaman duduk di belakang. dia katakan kepadaku dengan santai, “I prayed in the line.” Saya katakan kepadanya, “What….You didn’t have to do that, you know!” yang kemudian dia jawab dengan singakat dan cool “I know.” Saya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.

Hari ini dia datang ke Dawa Table ketika kita sedang berkemas-kemas karena sudah jam dua siang dan para brothers masing-masing ingin lari ke kelas termasuk Troy. Dia hanya datang ingin menyapa kami sebelum menghilang menuju kelasnya. Saya menahannya sejenak dan menanyakan kepadanya apa dia ingin ke masjid lagi Jumat yang akan datang ini. Dia jawab dan gaya cool dan pendiamnya, “maybe.” Saya usulkan kepadanya dengan sangat speculatif dan sedikit bercanda ”InshaAllah you can take the shadaha next Jumuah.” (hampir tiap selesai shalat Jumat ada saja yang masuk Islam di Masjid Tempe). Sekali lagi dia katakan, “maybe,” dengan gaya hip hop dan cool.

Pada saat inilah saya sadar bahwa sebenarnya dia sudah ingin masuk Islam. Bayangkan saja, apa arti jawaban “maybe” kalau bukan sebenarnya signal yang berarti: ”iya!” Bagaikan bola yang sudah siap di-smash dalam permainana tennis, saya tidak boleh sia-siakan kesempatan ini. Saya katakan kepadanya dengan sangat exited, “Maksud kamu apa ‘maybe, maybe, maybe‘, ucapkanlah Shahadah sekarang juga!” “Take it now…!”

Alhamdulillah, Troy akhirnya mengucapkan shahadah, di depan saya, Khalid, dan brother Muhammad Asad. Saya memandunya dalam bahasa Inggris, mengingatkannya apa yang dia harus yakini dan apa yang dia harus ucapkan, “I testify that there is no worthy of worship except Allah, and that Muhammad (saw) is his final messenger.” Khalid kemudian membimbingnya dalam bahasa Al Quran, “Ash hadu anlaa ilaha illa Allah wa ash hadu anna Muhammadan rasul Allah!” Kami bertiga kemudian mengangkat genggaman dan bertakbir dan bergantian bersalaman dan berpelukan dengan Troy di tengah para mahasiswa ASU yang sedang sibuk menuju kelas masing-masing. Para mahasiswa yang sedang sibuk dengan dunya ini benar-benar  tidak sadar bahwa telah terjadi peristiwa yang sangat luar biasa, seorang hamba Allah telah kembali kepada fitrah-nya, setelah lama menghilang…kembali kepada Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Satu orang Amerika ini saja sudah membuat kami sangat bersyukur atas kegiatan Dawa Table yang selama ini kami lakukan di ASU. Namun masa depan Islam di Amerika sepertinya kelihatan sangat cerah, dan inshaAllah shahadah tidak akan berhenti disitu saja. Shalat Ashar tadi, ternyata, di Masjid Tempe, ada seorang mantan tentara perang teluk, Earny namanya, lelaki umur 50an, juga masuk Islam. Shalat Ashr tadi merupakan shalat pertamanya. Sekali lagi Allahu Akbar….!

Allahumma aizzal Islama wal muslimin, wa azzilla syirka wal musyrikin. Amien yaa Rabbal Alamin.

bersambung pada “Psikologi orang Amerika masuk agama Islam.”


Procastination

January 14, 2009

Sewaktu Fulbright Predeparture Orientation di Jakarta – orientasi Fulbrighters untuk mengantisipasi segala tantangan studi di Amerika, mulai dari permalahan visa, kesehatan, kebudayaan, dan akademis – salah satu poin yang sering ditekankan untuk meningkatkan academic performance adalah kata yang besar ini: “procastination.” Sewaktu tiba di NYC dan mengikuti Gateway Orientation, orientasi serupa sewaktu di Jakarta, hanya kali ini orientasinya adalah ketika sudah tiba di US bersama Fulbrighter manca negara, kata besar ini, “procastination“, kembali muncul. Percayalah, kata ini juga bagi orang native English speaker adalah kata yang “canggih” karena lebih dikenal dalam percakapan sehari-hari dengan kata: “delay“ (menunda).

Setelah menjalani studi di Amerika, memang sangat benar, procastination atau menunda-nunda adalah penyakit terburuk yang anda bisa miliki dalam menjalani studi. Betapa seringnya saya katakan pada saat deadline menghantui, “Seandainya saya punya waktu lebih untuk mengerjakan tugas ini,” atau “Seandainya saya telah memulai mengerjakannya lebih awal.”

Jadi, dalam mengahadapi tugas kuliah, strategi yang paling tepat untuk dimiliki adalah: Ucapkanlah Bismillah dan “just do it,” ngak perlu mikir-mikir panjang, menunggu pencerahan datang. Biarkanlah proses berpikir itu menjadi bagian pada saat memulai dan melaksanakan assignments. Penyakit ini sungguh sangat ganas, bahkan pada detik ini pun, penyakit ini bisa sewaktu-waktu kambuh. Jihad melawan penyakit ini harus continous.

Kalau kita kembali membaca Al Quran, kita akan terus dibuat sadar agar tidak menjadi procastinators. Subhan Allah, what a coincidence……! Lihat saja, ketika Allah Azza wa Jal menggambarkan usaha da’wa Nabi Nuh (as) dalam kata-katanya kepada kaumnya:

Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (Nuh: 2-4)

Pada kesempatan yang lain di dalam Al Quran, Allah Azza wa Jal mengingatkan kepada kita agar kita tidak menjadi procrastinators, misalnya dalam melakukan amalan saleh dan dalam mengeluarkan zakat dan infaq (Munafiqun: 10).

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Munafiquun:10)

Allah Azza wa Jal juga menjelaskan bahwa pada dasarnya sifat ini adalah sifat orang kafir, dan bahwasanya orang kafir pada hari kiamat memiliki doa akibat sifat procastination ini:

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” (Sajadah: 12)

Ya Allah, jadikanlah kami tidak termasuk golongan orang-orang “procastinators,” dalam urusan dunia kami, terlebih-lebih untuk akhirat kami.

Wallahu ‘alam bissawab.