Saya sangat bangga berjalan keliling kota Tempe berasama istriku tersayang: ke Mekong Super Market (super market-nya orang Asia di kota Tempe); ketika naik bus; menyeberang jalanan di lampu merah; dan bahkan bersepeda di sekeliling kampus ASU dan di Hayden Park. Lho, memang kenapa sangat bangga? Karena istriku memakai jilbab dan gaun muslimah. Istriku adalah pembawa bendera labang identitas kita, identitas bahwa kami adalah Muslim di tengah masyarakat non Muslim.
Dengan memakai jilbab keliling kota Tempe, kami dikenal oleh saudara-saudara Muslim lainnya yang kami jumpai. Banyak dari mereka tidak akan pernah kami sadari bahwa mereka adalah Muslim seandainya istriku tidak memakai jilbab, tetapi ketika mereka melihat istriku, para suadara Muslim tersebut akan menghampiri kami dan langsung mengucapkan “Assalamu alaikum!” Sering pula dari kejauhan ada yang berteriak “Assalamu alaikum!” sambil mengangkat tangan.
Ketika kami berjumpa dengan wanita muslimah lain yang memakai jilbab, dari kejauhan sebelum berpapasan saya akan berbisik kepada istriku, “tu sallim, tu sallim,” Istriku akan menjawab sedikit marah, “memangnya saya ini Azuz…..” Ooh yah, jadi ceritanya begini, di masjid, ada anak teman kami yang bernama Azuz. Azuz berumur kurang lebih dua tahun. Si Azuz itu anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Ketika kami kami berjumpa dengan Azuz dan Ibu Bapaknya di Masjid, Ibu Bapaknya akan menyuruh Azuz bersalaman dengan kami atau dengan siapa pun yang ingin bersalaman dengannya; orang tuanya menyuruhnya dengan bahasa Arab, “Tu sallim, tu sallim.” (salamilah, salamilah). Nah begitulah candaku kepada istriku ketika kami melihat wanita muslimah lainnya, saya akan mengatakan “siap-siap tu sallim.”
Istriku itu kadang sangat sombong. Ketika jilbab dan pakaiannya diperhatikan dan dipandangi oleh orang-orang Amerika disini, dia justeru akan sedikit menyombongkan keindahan busana muslimahnya dengan cara memasang wajah yang sok berwibawa. Waduh, ini sungguh membuatku repot, saya harus terus mengingatkannya, “Sayang, berjalanlah dengan biasa-biasa aja, dan janganlah sombong.” Orang Amerika sesungguhnya sangat senang melihat jilbab muslimah istriku.
Sudah terlalu sering istriku dipuji jilbabnya atau sekedar senyuman ketika berpapasan dengan orang Amerika. Diatas bus ada seorang wanita yang memperhatikan istriku terus dengan penuh penasaran, dan akhirnya tidak sabar untuk menanyakan tentang cara pemakaiannya, “I’m sorry, is that just one piece of material you shape and wear?” Sayang sekali kita harus turun di stop berikutnya sehingga tidak dapat bercakap-cakap lebih lama. Dia mengatakan “It’s very beautiful.”
Ketika kami berjalan dan bertemu dengan wanita Arizona, terutama di musim panas sekarang ini, yang berpakaian super minim, saya akan bercanda dengan istriku agar dia berdiri di samping wanita berpakaian minim itu. Saya berpikir, “Mudah-mudahan orang Amerika melihat perbedaan yang sangat mencolok ini, bahwa pakaian muslimah itu sangat indah, santun dan berwibawa, sementara ketelanjangan sangat sangat merendahkan.” Saya yakin seandainya istriku dipasangkan berdiri berdampingan dengan salah satu tipikal wanita Arizona yang berpakaian super minim, kemudian ditanyakan kepada para ibu-ibu Arizona sendiri: “Dengan model berpakaian yang manakah anda akan merasa lebih aman dan nyaman untuk anak remaja putri anda ketika ia keluar dan bergaul dengan teman-temannya (termasuk para lelaki hidung belang)?” mereka (para ibu) pasti dalam hati mereka yang terdalam, akan menunjuk ke model pakaian istriku yang berjilbab dan bergaun muslimah.
Dari sudut pandang kesehatan pun saya berpikir. “Masak sih mereka tidak melihat rasionalitas berpakaian muslimah ini dibawah terikan panas matahari.” Saya tidak habis pikir kenapa wanita Arizona disini justeru harus semakin berpakaian minim di musim panas. Gerah, mungin iya, tetapi ancaman kanker kulit itu…waduh, berpakaian muslimah justeru lebih rasional.
Ingin dikenal sebagai seorang Muslim, saya pun kadang sengaja memakai topi haji. Tapi memang efek penghormatan dari saudara sesama Muslim maupun nonmuslim tidak sebesar identitas jilbab dan gaun muslimah. Pernah terjadi di bandara ketika istriku baru landing di Los Angeles, para penumpang yang baru datang memasuki Amerika diminta untuk membuka bagasi masing-masing di bagian custom. Banyak barang-barang dari bagasi tersebut disita misalnya karena membawa makanan dari negara masing-masing. Istriku pada ketika itu juga sudah memasrahkan semua perbekalan makanan khas Makassar di situ oleh custom….tiba-tiba salah satu petugas custom mengatakan, “Assalamu alaikum sista, where are you from, Malaysia?” Petugas custom tersebut, kata istriku, adalah seorang lelaki setengah baya etnis kaukasian dan bahasa Inggrisnya sangat fasih. Siapa yang tahu bahwa dia seorang Muslim seandainya istriku tidak berpakaian muslimah. “No, I’m from Indonesia,” jawab istriku. Pendek cerita, semua cemilan dan makanan khas Makassar yang telah dibawa oleh istriku di lewatkan di pos pemeriksaan custom walaupun istriku sudah memasrahkannya untuk disita.
Jadi, siapa bilang memakai jilbab susah di Amerika…?
Ok, ok. Mungkin saya terlalu membanggakan istriku. Memang penhargaan utama haruslah disandangkan kepada badge of honor (lambang kehormatan) yang telah ditetapkan oleh Allah kepada ibu-ibu dan saudari-saudari kami di dalam Al Quran yakni pemakaian jilbab atau hijab. Jadi kebanggaan ini milik semua muslimah yang ingin mengenakan kebanggaannya. Semoga saja semakin banyak wanita muslimah yang sadar akan kehormatan ini.
Amin ya Rabbal alamin, wallahu a’lam bissawab.